Merenda Cintamu Part 10
Separuh Jiwa yang Hilang
Hilya telah tertidur saat Ryu masuk ke kamarnya. Saran Dokter Anna mengulang-ngulang dalam benaknya. Ia menyingkirkan beberapa rambut Hilya yang menutupi wajah.
“Orang yang dia percayai?” tanya Ryu pada diri sendiri. “Haruskah aku mengantarmu pada Hanif?!”
***
Ryu merenggangkan kedua tangannya ke atas, begitu kesadarannya mulai kembali. Ia menggerakkan otot lehernya yang terasa kaku ke kiri dan ke kanan. Saat itulah ia tersadar, bahwa tadi malam ia tertidur dengan posisi duduk di ranjang Hilya. Mata Hilya sudah terbuka.
“Kamu sudah bangun?”
Hilya tak menjawab. Hanya terus menatapnya datar.
“Bagaimana tidurmu malam tadi?”
Hilya masih tidak bereaksi.
“Bagunlah! Kamu bersihkan diri, lalu kita sarapan, ya.” Ryu memegang kedua bahu Hilya. Membantu gadis itu bangun, juga mengantarnya sampai ke kamar mandi. Ryu juga mengantarkan piyama mandinya. Ia juga menyiapkan pakaian Hilya dan menaruhnya di atas ranjang.
Setelah menutup pintu kamar mandi Hilya, Ryu naik ke kamarnya sambil memesan makanan online. Ia kembali ke kamar Hilya setelah menyelesaikan segala keperluan pribadinya. Hilya sudah duduk dengan mengenakan pakaian yang disiapkan.
“Untung aku bawa ini,” ucapnya sambil menunjukkan hair dryer ketika melihat rambut Hilya yang basah.
Ia duduk di samping Hilya, lalu memutar badan Hilya. “Kamu sengaja ya, balas dendam padaku?! Karena aku sering memerintahmu mengeringkan rambutku?”
Hilya tak bersuara. Ryu terus saja bersuara, mengungkit kejadian silam, berharap Hilya memberikan reaksi meski sedikit saja. Setelah rambut Hilya kering, ia memeriksa beberapa peralatan meja rias Hilya sambil membuka satu persatu. Akhirnya ia mengambil sebuah krim tube, lalu mengoleskannya ke wajah Hilya.
Hilya sedikit mengernyit. Ryu menghentikan gerakan. Namun ia kembali mencoba, berharap Hilya kembali bereaksi. Kenyataannya, Hilya tetap diam, meski ia menyentuh kulit wajahnya.
“Kamu tidak marah aku melakukan ini?” ungkit Ryu. Hilya diam. Yang terdengar hanyalah desahan napasnya. Saat Hilya bergerak, tiba-tiba tersenggol tangan Ryu yang memegang tube krim wajah. Ryu turun dari ranjang untuk mengambil krim yang jatuh. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada koper di kecil di bawah ranjang Hilya. Koper itu mengundang penasarannya.
Ia mengambil koper itu dan membukanya. Terlihat beberapa pakaian Hilya yang terlipat. Ia mengambil selembar dan membuka lipatan itu. Terlihat gamis itu cukup lebar dan panjang. Ia mengambil lagi kain lain dengan warna senada, ternyata sebuah kerudung lebar.
Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ia baru menyadari, Hilya dulu, sebelum bertemu dengannya adalah Hilya yang kemana-mana mengenakan pakaian yang dulu ia sebut kedodoran. Pakaian Hilya berubah semenjak masuk rumahnya dan menjadi asisten pribadinya.
"Dulu kamu sering memakai ini ya?"
Ia mengambil satu stelan gamis itu, lalu meletakkannya di atas pangkuan Hilya.
"Pakai saja. Aku keluar sebentar. Mungkin delivery sudah datang."
Sebelum menghilang dari balik pintu, Ryu sempat memerhatikan Hilya yang terus menatap gamis itu.
"Kalian sudah datang?"
Di tengah rumah sudah ada Fadli dan Irfan. Fadli berdiri, lalu menyerahkan sebuah kantong yang tertulis merk rumah makan.
"Perasaan tidak pesan ini deh," ucap Ryu sambil menyambut kantong itu. Sontak terlepas ketika membuka box dalam kantong itu
"Astaghfirullah!" lirih Ryu sambil mengelus dadanya.
Melihat hal itu Fadli segera mengambil alih kantong, ia pun terkejut ketika melihat isinya. Ayam goreng dilumuri saos yang terlihat seperti darah. Tak lama terdengar seorang delivery di depan rumah.
"Irfan, kau ambilkan," suruh Fadli.
"Kau carikan seorang satpam untuk jaga di luar,” ucapnya sambil duduk di sofa.
Fadli mengangguk. “Bagaimana keadaan Hilya?” tanya Fadli.
Ryu hanya menjawab dengan desahan napasnya. “Oh iya, bagaimana dengan pekerjaan?”
“Aku cuma bisa minta cuti sehari.”
Lagi-lagi Ryu mendesah. Tak lama Irfan muncul membawa plastik berisi box makanan.
“Kamu ada pesan itu?” tanya Fadli. Ryu mengangguk. Namun, terlebih dulu Fadli menyambar dan membuka isinya. Ia menyerahkan pada Ryu setelah memastikan isinya aman.
“Bisa tidak kita hapus video itu?” tanya Ryu.
“Aku tadi sudah tanya ke pihak manajemen, tapi sepertinya mereka tidak begitu menggubris. Berita sensasional dari kamu bukan cuma kali ini. Dan selama ini selalu membuat rating sinetron kamu terus di atas.”
“Tapi ini sudah mencelakai Hilya. Kamu lihat sendiri bagaimana keadaan Hilya.”
“Iya, aku tau, tapi kamu tahulah, kita tidak banyak memiliki kekuasaan dalam hal ini. Kecuali kamu langsung yang melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Itu pun kamu harus bicarakan dulu kepada pihak manajemen supaya tidak mempunyai masalah dengan mereka kelak. Ingat, kontrakmu dengan mereka masih panjang."
Kepala Ryu berdenyut bila disebut manajemen. Selama ini mereka selalu membatasi gerak langkahnya, tetapi ia tidak begitu peduli selama saldo rekeningnya terus bertambah. Namun kejadian kali ini, merugikan Hilya. Kerugian materi mungkin ia masih memaafkan, tidak dengan apa yang dialami oleh Hilya.
“Aku mau makan dulu. Kalian sudah makan? Kalau belum pesanlah, aku cuma mesan sedikit,” ucap Ryu sambil berlalu ke ruang dapurnya. Setelah meletakkan ke atas meja, ia kembali ke kamar Hilya. Gadis itu masih diam di tempatnya. Pakaian yang ia letakkan di atas pangkuan Hilya masih belum bergerak.
Ia duduk berjongkok di depan Hilya. “Kenapa? Kalau kamu suka itu pakailah. Nanti aku belikan yang baru, jika kamu menyukai style ini.”
Hilya tidak bersuara.
Ryu berdiri. “Kita makan dulu.” Ia menarik tangan Hilya, hingga gadis itu mengikutinya. Langkah Hilya terhenti ketika menyadari keberadaan Fadli dan Irfan.
“Kalian pulanglah! Dia ketakutan lagi."
Sesaat Fadli dan Irfan saling bersitatap, menatap Hilya yang memegang erat tangan Ryu.
“Baiklah, kami pulang dulu. Nanti aku kasih kabar jika ada berita baru,” seru Fadli lalu undur diri.
Ryu mendudukkan Hilya di kursi. Ia mengambil lalu mengisinya dengan bubur yang baru saja dibeli. Ia meletakkan mangkuk itu di depan Hilya.
“Makanlah!”
Hilya hanya menatap. Tanpa menggerakkan tangan sedikit pun.
Ryu mendekatkan kursinya, lalu mengambil mangkuk dan menyodorkan ke mulut Hilya. Sesaat Hilya menoleh ke arahnya. Ryu mengangguk penuh harap, hingga akhirnya Hilya mau menyuap bubur itu. Ryu menghela napas leganya.
“Makanlah, mumpung buburnya masih hangat,” ucapnya sambil menyodorkan kembali sesendok bubur. Hilya kembali menyuap.
Setelah selesai makan, Ryu membawanya ke atas. Ia berharap setelah melihat kamarnya yang berantakan, sedikit dapat mengetuk perhatian Hilya. seperti biasanya Hilya yang selalu kesal bila melihat kamar berantakan. Kenyataannya bola mata Hilya tidak berpendar sedikitpun. Ia mendudukkan Hilya ke atas ranjang, mengambil laptopnya, lalu meletakkan di samping Hilya, mengambil meja portable, lalu meletakkan laptop di atasnya. Ia memutar badan Hilya.
“Aku tau, kamu suka menulis, meski kamu melakukannya sambil curi-curi waktu. Aku jahat sekali, ya. Maaf.” Ryu menyalakan laptopnya, lalu membuka aplikasi office word. “Nah, menulislah. Aku janji tidak akan mengintipnya. Aku ingin merapikan kamarku dulu.”
Ryu memungut bajunya di lantai sampai melirik ke arah Hilya. Ia melihat tangan Hilya mulai bergerak. Ia kembali mengambil pakaian lain, lalu sambil melirik Hilya. Hilya mulai meletakkan tangannya di atas keyboard. Ryu tersenyum haru. Ia terus memungut pakaiannya lain, lalu meletakkan ke dalam keranjang yang biasa disediakan Hilya.
Jari Hilya mulai bergerak. Ryu mulai pura-pura sibuk merapikan peralatan di atas meja rias meski sebenarnya sudah rapi. Ia mencuri-curi pandang lewat cermin. Ia melihat Hilya menatap layar laptop. Jarinya tak lagi bergerak. Ada yang membuatnya penasaran. Mengapa mata Hilya mengerjap cepat?
***
Menulis. Yang ada di benak Hilya hanyalah blognya yang tidak diketahui orang lain itu miliknya. Ia merasa itulah yang paling miliknya, karena ia memakai nama pena. Baru saja dasbor terbuka, ribuan notifikasi langsung masuk. Jemarinya mengklik notifikasi itu.
[Hei, munafik. Tulisan saja bagus, tapi hatinya busuk]
[aku tak menyangka, kamu serumah dgn artis itu. padahal kamu mengatakan pentingnya menjaga aurat dan pergaulan]
[padahal aku ngefans sekali sama kamu. Hiks]
[Jadi kamu Hilya, nara sumber waktu seminar dikampus, pantesan rasa pernah mengenal gaya tulisan ini]
“Astaghfirullah, mengapa membuka ini?!"
Sesaat Hilya terkejut dengan yang Ryu tiba-tiba muncul. Ryu merebut laptop, melipat, menjauhkannya, lalu berbalik ke arahnya. Ryu memegang kedua tangannya. “Maaf, tidak seharusnya aku meninggalkanmu.”
Sayup-sayup Ryu mendengarnya ponselnya berbunyi. Sesaat ia berusaha mengingat di mana ia meninggalkan ponselnya. “Aku tinggal sebentar ya. Nanti aku balik lagi,” ucapnya lalu keluar kamar.
Setengah berlari ia menuruni anak tangga, mengambil ponsel lalu berbalik lagi sambil meletakkan ke telinganya.
“Ya, Fad!”
“Bukalah link yang kukirim.”
Panggilan langsung dimatikan. Ryu mengernyit. Ia naik ke atas sambil menatap ponselnya. Sesaat ia menghela napas yang mulai memburu, mengingatkannya bagaimana keseharian Hilya yang harus bolak balik memenuhi perintahnya. Langkahnya terhenti ketika link yang dikirim Fadli mengarah ke sebuah video.
“Bisa Mbak Talita jelaskan sebenarnya apa yang terjadi?” tanya salah seorang wartawan ke Talita yang sedang mengadakan konferensi pers.
Talita mengusap matanya yang basah. Ryu bisa melihat jelas, semua itu hanyalah akting.
“Aku juga tidak tahu, ternyata mereka menikamku di belakang.”
Ryu tersentak.
“Aku sangat mempercayai mereka dan menganggap asistennya seperti saudaraku sendiri, tapi ini yang dilakukannya padaku. Hiks.”
Ryu merasakan gemeretak giginya. Amarahnya sampai di ubun-ubun.
“Aku tidak akan memaafkanmu, Talita."
***
Untuk Part selanjutnya bisa klik link di bawah ini:
Terima kasih ♥️
Jangan lupa subscribe, like dan komen ya. 🙏

Komentar
Posting Komentar