Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Dituntut Jadi Istri yang Sempurna

Harta Istri (Part 10)

  Harta Istri (Part 10) Dituntut Jadi Istri yang Sempurna Lilac meringis. “Melibatkan orang perusahaan? Jangan deh. Aku cerita sama Kakak, cuma ingin sedikit lebih tenang. Sekalian juga numpang print dan minta meterai. Meski belum tau langkah apa yang akan diambil.” Teratai ikut menyandarkan punggungnya ke dinding kantor Teratai Kedua. Sesaat hening, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Terdengar jelas celoteh Qarni dan Tasnim. Namun, tiba-tiba Lilac tersentak ketika mendengar pekikan Teratai.  “Kakak bikin kaget saja,” gerutu Lilac.  Teratai tertawa kecil. “Aku baru ingat, bagaimana kalau kita minta bantuan Arsa. Kerjaannya kan memang di depan laptop, jadi tak masalah jika kita minta bantuan dia.” Lilac menghela napas. “Tetap saja aku nggak enak hati. Aku memang pernah lihat Kak Arsa, tapi tidak begitu kenal.” “Tidak apa, dia pasti bantu kok. Orangnya humble. Bentar.” Teratai berdiri, mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Sambil menunggu jawaban Arsa,...

Perkara Sekolah Qarni (Part 9)

  Perkara Sekolah Qarni (Part 9) Dituntut Jadi Istri yang Sempurna Mata Lilac membesar. Ingin sekali ia menyemburkan pembelaan, tetapi segera sadar dirinya bukan Teratai. Dirinya Lilac yang dituntut sempurna. Ia menghembuskan napanya pelan sambil mengelola emosi.  "Di dalam panas, Kak. Gimana tega aku menyuruh Kakak masuk?! Di sini sesekali masih ada angin lewat," ucap Lilac dengan mengatur nada selembut mungkin. Hariani melenguskan wajah, sayangnya tertangkap penglihatan Bakhtiar.  "Sudahlah. Ada apa, Bu?" tanya Bakhtiar.  "Benar, katanya Qarni sekolah di sekolahan mahal?"  Bakhtiar terkejut dengan nada ibunya, bagi Lilac itu sudah biasa.  "Bu, sebaiknya kita masuk ke dalam. Tak baik dilihat tetangga." Dengan berat hati akhirnya Bayah masuk ke dalam.  "Ibu duduklah, ulun bikinkan minuman dulu." Lilac mempersilakan di ruang tengah yang tidak ada sofanya.  "Tidak perlu. Aku ke sini cuma untuk memastikan kabar itu," tukas Bayah....

Mungkinkah Ada Sindikat di Belakangnya (part 8)

  Mungkinkah Ada Sindikat di Belakangnya  (Dituntut Jadi Istri yang Sempurna part 8)   Bersama Teratai, ia mengurus pendaftaran Qarni. Tak lupa mengambil beberapa foto untuk dijadikan sebagai bukti kepada pembeli blognya. Sesaat ia menengadahkan kepala, menatap tulisan di gerbang sekolah yang akan menjadi tempat belajar dan bermain putranya nanti.  “Kenapa?” tanya Teratai akhirnya karena cukup lama ia memperhatikan Lilac menatap gerbang sekolah Evan dulu.  Lilac menghela napasnya. “Aku masih tidak percaya, Kak. Kemarin aku putus asa tak bisa menyekolahkan Qarni meski di kampung sendiri. Tiba-tiba hari ini berdiri di depan gerbang sekolah mewah. Tempat Evan sekolah dulu. Sampai sekarang, aku takut ini hanya mimpi. Au," jerit Lilac sambil mengucap pipinya.  Teratai tertawa melihat wajah kesal Lilac. “Kalau sakit berarti bukan mimpi.” Teratai ikut memandang huruf besar di gerbang. “Hidup ini memang penuh dengan lika-liku, tetapi percayalah, kadang kejutan ters...

Tiba-Tiba Kaya (Part 7)

  Tiba-Tiba Kaya  (Dituntut Jadi Istri yang Sempurna part 7)   Lilac membuka gambar yang tersemat. Keningnya mengerut ketika melihat deretan nol di belakang angka dua. Ia menghitung angka nol itu dengan jarinya.  “Satu, dua, tiga, empat, lima.” Mendadak dadanya berdebar karena hitungan angka nolnya belum habis. Matanya membesar. “Enam, tu … juh. Tujuh?!” teriaknya, tetapi segera menutup mulut begitu menyadari Qarni yang terlelap di sampingnya.  Ia kembali menghitung angka nol itu dengan tangan bergetar. Keringat membanjiri tubuhnya. Matanya kembali memburam.  ***  Lilac masih saja menatap angka dua puluh juta di layar ponselnya. Sesekali ia mengerjapkan matanya, untuk memastikan penglihatannya tidak salah.  “Masya Allah!” lirihnya berkali-kali. Seumur-umur ia tidak pernah melihat nominal sebanyak itu di rekeningnya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding. Memikirkan apa yang harus ia katakan kepada Bakhtiar? Jika jujur, bagaimana respon Bakhtiar? ...

Mimpi Tapi Nyata (Part 6)

    Mimpi Tapi Nyata  (Dituntut Jadi Istri Yang Sempurna part 6) Bakhtiar menggeleng. “Tidak. Tapi aku yakin tadi lihat lebih dari satu!”  "Jadi?" "Entahlah," sahutnya, lalu duduk di kursi yang satunya lalu mengambil segelas air.  "Ini masih ada nasi sisa. Kalau Abi mau, ini juga lumayan mengganjal perut." Lilac menyodorkan nasi di piring ke depan Bakhtiar. "Kau sudah makan?" tanya Bakhtiar. Lilac menggeleng.  "Kau makanlah itu." Tiba-tiba dada Lilac terasa sesak. Mengapa tiba-tiba ia terharu? Walau bagaimanapun, Bakhtiar juga laki-laki baik, kecuali sikap pada ibunya yang berlebihan.  "Lalu Abi?"  "Aku akan ke rumah Ibu," jawabnya Bakhtiar sambil berlalu ke luar ruangan.  Lilac hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Ia menatap Qarni yang asik mengunyah. Kenangan di rumah sakit kembali mengulang. Saat Tasnim di gendongan Sanad dan menangis saat mau ditinggal di rumah sakit. Sangat berbeda dengan Qarni. Qarni hanya beb...

Calon Orang Ketiga (DJIYS Part 5)

  Dituntut Jadi Istri yang Sempurna Part 5: Calon Orang Ketiga "Kudet. Itu terserahmu, tapi apa kamu tidak kasihan dengan Teratai? Dia banting tulang buat nyekolahin kamu, malah tidak jadi apa-apa." Seketika matanya  memburam. Pertanyaan ini sudah terlalu sering ia terima. Tanpa diingatkan pun ia sedih jika mengingat hal ini. Ia pun ingin membalas kebaikan Teratai meski hanya secuil, tetapi tidak dengan meninggalkan Qarni yang masih perlu pengawasan.  “Assalamu ‘alaikum!”  “Wa ‘alaikum salam.” Spontan semuanya menyahut, meski Lilac hanya dengan jawaban lirih.  “Eh, Neng Cantik! Masuk-masuk!” Bayah langsung menyambut tamu cantik dengan mengenakan abaya hitam dari Arab Saudi itu. Renda gold menambah nilai keanggunan. Warna hitam semakin memperlihatkan kesempurnaan elok rupa putih bak pualam.  Mulut Lilac sedikit terbuka melihat mertuanya yang mendudukkan tamu ke sofa.   “Lilac, kenalkan dia Salasiah, kerabat jauh, baru pulang dari Arab. Sala, ini Li...

Jika Tujuan Tak Lagi Sama (DJIYS Part 4)

  Dituntut Jadi Istri yang Sempurna Part 4: Jika Tujuan Tak Lagi Sama    Bakhtiar meletakkan ponselnya. "Iya, kalau ada uangnya." "Hah? Lalu yang kemarin katanya nabung duitnya ke mana?"  "Ibu perlu duit, jadi aku berikan padanya."  Lilac melongo. "Lalu bagaimana dengan sekolah Qarni?” "Kau mau aku durhaka pada wanita yang telah melahirkanku?! Ingat, rida Allah terletak pada rida ib …." "Aku tau itu," potong Lilac. "Siapa yang menyuruhmu durhaka pada ibu? Aku cuma bertanya sekolah Qarni gimana?"  Bakhtiar menghempaskan napasnya. "Untuk sementara aku tidak punya uang. Lagi pula masih TK kan? Nggak papa nggak sekolah." Mata Lilac makin membesar.  "Lagi pula sekolah tk cuma belajar Abcd kan? Berhitung sampai sepuluh. Kamu juga bisa mengajarinya." "Nggak hanya itu. Ada juga belajar iqra dan menghafal surat-surat pendek. Abi mau mengajarinya?" "Kenapa harus aku? Kamu tau aku sibuk dan jarang ...

Yang Membuat Berjarak (Part 3DJIYS)

  Dituntut Jadi Istri yang Sempurna Part 3: Yang Membuat Berjarak  Bakhtiar mendekat, sedang ibunya berdiri di sisi lainnya. Bayah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sebuah nakas yang bagus di samping ranjang Qarni yang juga elite, sebuah kulkas, satu set sofa bahkan ada ranjang buat penunggu.  "Bagaimana bisa menyewa kamar semewah ini? Pasti ini mahal sekali  Lilac, kamu tau kan bagaimana penghasilan suamimu?!" Lilac mengangkat wajahnya. Lelah yang tak sepenuhnya hilang kita benar-benar menguasainya.  "Bu?" tegur Bakhtiar. "Maaf, malam tadi habis ngajari anak-anak jadi ketiduran." Lilac tersenyum sumbang.  "Lihatlah wajahnya. Bakhtiar kamu terlalu memanjakannya! Sampai berani menyewa kamar semahal ini." "Bu, kenapa yang Ibu perhatikan kamar ini? Kenapa tidak bertanya dulu bagaimana keadaan cucu Ibu?" Sesal menerpa karena tak mampu menahan mulutnya. Ia sudah menduga, mulut yang tidak terkontrol hanyalah mendatangkan masalah. B...

Tak Lagi Berharga Jika Kau Seorang Pengangguran (DJIYS)

  Dituntut Jadi Istri Yang Sempurna  Tak Lagi Berharga Jika Kau Seorang Pengangguran part 2 Teratai mengangguk. "Iya. Mereka memang punya masalah besar, hanya saja Lilac tidak tahu itu." Mendadak Sanad menoleh dengan kerutan kening.  "Kemarin aku dengar dari gosipan acil-acil pembungkus kerupuk. Katanya kakaknya terlibat dengan rentenir. Suaminya  yang ceritanya merantau untuk bayar utang malah nggak ada kabar. Jadi sekarang semuanya tertumpu pada Bakhtiar." "Lilac tau?" Teratai menggeleng. "Entahlah. Lilac anak rumahan, jadi aku rasa dia tidak tau dan sepertinya Bakhtiar pun menyembunyikan ini darinya."  "Hutangnya banyak?" "Katanya ratusan juta. Tepatnya berapa, belum jelas. Bahkan katanya juga kakaknya banyak ngambil barang kreditan. Tapi, kita juga nggak bisa langsung percaya gosipan seperti itu kan?" "Iya," sahut Sanad sambil memperhatikan pada jalanan yang sudah terlihat sepi. Beberapa PJU telah mati, yang memb...

Perkara Nafkah (DJIYS)

  Dituntut Jadi Istri yang Sempurna Part 1: Perkara Nafkah Seorang perempuan mengenakan lingerie merah langsung turun dengan wajah semringah begitu mendengar ketukan pintu. Sebelum membuka pintu, terlebih dahulu memastikan pakaian yang ia kenakan sempurna. "Lama sekali?!" ucapnya dengan wajah merajuk.  Sang kekasih menoleh ke kiri dan kanan, lalu masuk dan langsung menutup pintu. Laki-laki itu langsung meluncur ke dalam, menuang segelas air yang berada di atas nakas lalu menandaskan dengan sekali teguk.  Perempuan cantik yang bernama Emelly itu menatap keheranan. "Ada apa?"  Laki-laki itu menghempaskan napasnya. "Ada yang mengikutiku. Jadi aku kesulitan masuk ke sini." Emelly tertawa kecil. "Ya ampun, Adii. Aku kira apaan. Kaya dikejar hantu saja," ucapnya sambil duduk di samping sang pria dan bergelayut manja.  Adi menatap heran. "Kamu tidak takut ketahuan suamimu?" Emelly melepaskan pelukannya. "Dia bukan pria bodoh. Jika memang ...