Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Detak Cinta Shafura

Part Tambahan (Detak Cinta Shafura)

  Hamparan padi yang menghijau laksana permadani raksasa yang menghampar di desa kelahiran ayahku. Hijau berpadu dengan cahaya keemasan membuat mata tak bosan memandang. Keindahannya membuat hati selalu berdecak kagum, lahir dzikir di lisan. Lantunan ayat suci mengalir, syahdu membersamai keheningan sawah, menyebar, diembuskan angin sepoi-sepoi.  هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ Ayat yang lantunkan Zaid, keindahan alam ini, dan hati tak henti-hentinya bertasbih membuat hidup ini terasa sempurna.  "Shadaqallahal 'adziim." Pandanganku tertunduk. "Ko udah selesai?" Selanjutanya >>>

(49) Ending

  "Kalau begitu kami harus keluar. Ustadz Hans, mungkin sebentar lagi akan datang," ucapku sambil berdiri. Kini tenagaku sedikit mulai pulih.  "Tunggu dulu. Tadi Hans nelpon, katanya Abdurrahman ingin bertemu denganmu." Seketika aku terkesiap.  "Kalau begitu kami keluar duluan, Silmi," seru Syifa.  "Eh tunggu dulu!" Aku segera meraih tangan Syifa. "Jangan tinggalkan aku. Aku telah berjanji akan tidur di sini."  "Anti kan bisa ke gedung sebelah kalau sudah," elak Syifa.  "Tak apa, Syifa. Anti temani saja Silmi, Cahya juga," ucap Aisyah.  Cahya dan Syifa saling bersitatap heran. Aku pun tidak mengerti jalan pikir Aisyah. Bagaimana mungkin ia membiarkan Syifa dan Cahya bertemu Zaid? Laki-laki bukan mahram mereka. Aisyah sibuk memainkan ponselnya. Sepertinya pesan baru terus saja ke ponselnya. Bibirnya tak berhenti tersenyum.  "Hans ... maksudku Ustadz Abdurrahman sudah ada di luar. Anti temui lah. Syifa dan Cahya t...

Part 48 (Jodoh Dari Langit)

  " ... Syahriansyah bin Syahriansyah Aman Hasan dengan Aisyah Nur Fadhilah … ." Aku bertanya kepada Aisyah dengan tatapan. Aisyah balas dengan mengangguk disertai senyuman. Di matanya jelas sekali pancaran kebahagiaan.  Beberapa orang di antara tamu juga ada yang terkejut, lalu mereka saling berbisik. Pendengaranku tidak salah lagi.  Tamu yang tidak bereaksi, mungkin mereka tidak membaca nama mempelai pria di undangan, atau karena tidak mengenali sehingga tidak menyadari adanya perbedaan.  Aku tak mendengar lagi ucapan Kyai selanjutnya. Sah … sah  Terdengar suara saling bersahutan dari masjid.  Aku menatap Tante Kurnia. Wajah beliau diliputi kesedihan. Tante mengusap matanya dengan tisu  Apa yang terjadi? Bagaimana dengan Zaid?  Lanjut

Part 47. Jawaban Dari Doa

  Pov 3 Setelah pulang dari Silmi, Aisyah semakin diterpa rasa bersalah. Ia tidak habis pikir bagaimana Silmi bisa berbuat sejauh itu untuk dirinya. Ia memang sangat mengharapkan Abdurrahman Zaid, tetapi tidak menyangka harus melukai sahabatnya sendiri.  Aisyah merebahkan dirinya di atas ranjangnya. Perasaannya benar-benar lelah. Ia kecewa, tapi juga iba. Ia akan membatalkan perkawinannya, andai harinya tidak terlalu dekat. Bahkan beberapa kerabatnya yang tinggal jauh sudah mulai berdatangan. Silmi benar, Zaid pasti akan berbuat baik padanya. Meski hati Zaid masih belum untuknya, tetapi akan membuka diri untuk mencintai istri sahnya.  Diteruskan, sanggupkah ia melewati perkawinan tanpa rasa bersalah? Lanjut

Ya Allah, Beri Aku Mahram (DCS Part 46)

Detak Cinta Shafura  Part 46: Ya Alllah Beri Aku Mahram  “Belum tidur, Silmi? Ini sudah larut malam, nanti masuk angin lagi!” kata Kak Saada yang penuh di lumuri kecemasan.  Aku menoleh sesaat lalu tersenyum. “Ini malam terakhirku di sini, Kak. Ibu sudah tidur?” Lanjut>>

Sebab Suatu Hubungan (DCS Part 45)

 Detak Cinta Shafura  Part 45: Sebab Suatu Hubungan  'Aku lagi di Banjar. Kita ketemuan, yuk.’ Mataku yang merem langsung melek melihat chat dari ponsel lengseran Kak Saada. Perasaan lega membanjiri hatiku dengan adanya kedatangan Aisyah, terlebih lagi kami memutuskan untuk saling menerima kenyataan ini. Urusanku tinggal dengan Fahri. Lalu tiba-tiba di siang bolong, aku mendapat chat dari Fahri.  Aku merasa ini jalan dari Allah untuk menyelesaikan urusanku. Langsung saja membalas pesannya.  ‘Ok. Kapan ketemuannya? Di mana?’ Pesanku langsung dibaca. Di layar ponsel sedang memperlihatkan kalau dia sedang mengetik.  ‘Sore ini gimana? Setelah ashar. Kamu di mana? Aku jemput ya. Aku akan membawamu ke sebuah café dan resto yang bagus.’ Aku membalas.  ‘Aku di rumah kak Saada. Kamu tahu alamatnya?’ Kegiatan tidur siangku jadi batal gara-gara chat Fahri. Setelah itu pikiranku sibuk memikirkan apa yang harus kusampaikan. Kalimat apa yang sebaiknya aku ucapkan su...

Tidak Lebih Dari Tiga Hari (DCS Part 44)

  Detak Cinta Shafura  Part 44: Tidak Lebih Dari Tiga Hari  Aku mengisi waktu senggangku dengan mencari berbagai informasi tentang Bandung Di ponsel Kak Saada. Budaya, kuliner, wisata, dan hal lainnya, bahkan mencari informasi pondok pesantren di seputar daerah tempat tinggal Paman. Aku sudah berencana ke sana bukan sekadar liburan, melainkan ingin memulai kehidupan baru. Di tempat tidak ada yang mengenalku, kecuali keluarga saudara ayahku.  Sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatianku.  “Ya?” “Ada tamu. Mau bertemu denganmu.” ucap Kak Saada di luar. Seketika jantungku berdebar kencang. Orang yang kukenal hanyalah Ustadzah Aisyah, Zaid, Fahri, dan Farah. Jika salah satu dari mereka, sungguh aku tak tahu harus bagaimana. Meski yang datang itu Farah, pasti ada sangkut pautnya dengan Zaid. Namun aku berharap, yang datang itu adalah Syifa, meski kemungkinannya sangat kecil karena seharusnya sekarang ini dia sibuk di pondok.  “Siapa?”  “Lihat saja. Cepat...

Hubungan Perasaan (DCS Part 43)

  Detak Cinta Shafura  Part 43: Hubungan Perasaan  Aku langsung menghempaskan diri di atas kasur ketika sampai di kamar di atas loteng yang telah disiapkan Kak Saada. Tas dan kotak yang kubawa tergeletak sembarang tempat. Sedang, Kak Saada membuka pintu balkon "Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin membersihkan ruangan ini. Ternyata firasat kamu akan pulang," ucap Kak Saada sambil membuka gorden, lalu membuka pintu jendela.  Aku memejamkan mata. Bersyukur dalam hati. Aku pun tidak bisa membayangkan jika masih numpang di kamarnya anak-anak Kak Saada dalam kondisi remuk redam begini. Aku tidak mungkin menangis di depan mereka. "Terima kasih, Kak." Kak Saada tak menyahut. Ia telah menuruni tangga.  Kubuka mata, menatap langit-langit yang beralaskan triplek warna coklat penuh dengan noda di mana-mana.  Menatap langit-langit menyadarkan bahwa aku benar-benar sendirian. Di pondok sangat jarang menatap langit-langit kamar. Saat berbaring, jika tidak ngobrol dengan tem...

Terusir (DCS Part 42)

 Detak Cinta Shafura Part 42: Terusir Di ruang kantor  sengaja aku memuaskan diri menangis. Agar semua bebanku bisa hanyut bersama derasnya air mata.  “Sabar ya, Silmi” lirih Syifa sambil memegang pundakku.  “Qaala innamaa asykuu batstsii wa huzni ila llah,1” kataku sambil terisak.  “Hasbunallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir,” tambah Syifa menyemangatiku.  Kusandarkan punggung ke dinding, kudongakkan kepala dengan mata terpejam. Perih sekali. Aisyah, sahabatku kini membenciku. Aku harus berbuat sesuatu. “Sebaiknya ana pulang saja.” Syifa tersentak.  “Anti mau pulang?” tanya Syifa dengan ekspresi tak percaya, “meninggalkan semua tuduhan buruk yang ditujukan kepada anti?” “Apa boleh buat, Ukhti. Biarlah mereka menuduh ana sesuka hati. Bagi ana yang penting adalah pernikahan Aisyah. Ana titip kado ya." “Apa pun yang anti pinta, akan ana lakukan. Sejujurnya ana tak sependapat dengan keputusan anti. Pergi begitu saja, meninggalkan jejak ge...

Dendam Terpendam (DCS Part 41)

  Detak Cinta Shafura  Part 41: Dendam Terpendam “Ana harus bagaimana, Syifa? Dia menuduh ana mengkhianatinya, bahkan mungkin semua santri menuduh ana mengkhianati Aisyah." “Ana tidak, Silmi. Ana tahu semuanya, dan ana percaya sama anti. Dan Nadhirah pun insya Allah, tidak.”  Syifa beralih pandangannya ke arah Nadhirah. Dan menceritakan semua yang terjadi. Tentang persahabatanku dengan Kak Zaid, tentang permintaanku, kepada Zaid agar menerima lamaran Kyai Ibrahim, dan menceritakan pertemuan yang tidak direncanakan kemarin. “Sabar, ya, Ustadzah. Semoga Allah, akan memudahkan jalannya.” “Terima kasih Nadhirah. Untuk sementara, jika ada yang bertanya kepadamu tentang kejadian ini, cukup katakan pada mereka, ini hanya kesalahpahaman. Ana tak pernah mengkhianati Aisyah. Apa pun demi kebahagiaan Aisyah, akan ana lakukan, jadi tidak mungkin ana mengkhianati Aisyah.” “Iya, Ustadzah. Insya Allah,” balas Nadhirah. “Terima kasih, ya,”  Nadhirah hanya mengangguk. “Sabarlah, kita...

Diterpa Badai (DCS Part 40)

Detak Cinta Shafura  Part 40: Diterpa Badai  Gamis Remaja Kekinian   Alhamdulillah beberapa hari program tes berjalan lancar. Tes Fadia dan Habibah juga lancar, in sya Allah mereka akan lulus. Nadhirah melakukan beberapa kali kesalahan.  Beruntungnya kesalahannya tidak melampaui batas maksimal yang ditentukan. Aku berharap ia juga lulus, kecuali memang ada yang luput dari perhitunganku. Tinggal menunggu giliran Cahya. Semoga Allah memudahkannya.  Tim persiapan khataman sudah mulai sibuk. Keluarga Aisyah juga mulai sibuk mempersiapkan pernikahan. Meski demikian, kami tim penyimak hafalan santri tetap fokus pekerjaan kami. Yang kena shift berusaha melakukan pekerjaannya sebaik mungkin. sedang yang tidak giliran berusaha memaksimalkan istirahat sebaik mungkin. Seperti yang kulakukan saat ini. Aku hanya duduk santai sambil membaca buku, meski di sekitarku sibuk berlalu lalang.  Aku tak peduli.   Rencananya, rangkaian acara khataman di mulai jam s...

Berteman Malam (DCS Part 39)

Detak Cinta Shafura  Part 39: Berteman Malam   “Silmi dan Zaid berteman?” tanya Aisyah penuh selidik. Dadaku berdebar-debar. Kusuap Soto Banjarku sambil menoleh Zaid. Aku tak mengerti kenapa dia terlihat begitu santai. “Bukan teman lagi, bahkan lebih dari sahabat. Bahkan dulu aku mengira mereka itu berjodoh. Ternyata aku salah, Zaid berjodoh denganmu, dan Silmi untukku,” sahut Fahri sambil tertawa kecil dan sedikit terkesan sinis.  Kening Aisyah mengerut tajam. Aku semakin tidak nyaman.  “Silmi, anti bilang dulu, tidak begitu mengenal Zaid.” lirih Aisyah seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri. Mungkin dia berusaha mengingat-ngingat. “Ana pernah bilang begitu?” Aku benar-benar lupa kapan mengucapkan itu.  “Iya, ana yakin itu,” tukas Aisyah.  “Mungkin anti nanya ke ana, saat itu ana lagi sedang sibuk. Anti kan tahu, kalau ana lagi sibuk, andai ada yang minta izin menceburkan diri ke laut pun mungkin akan ana izinkan,” kilahku gugup.  Kulirik Zaid, la...

Api Cemburu (DCS Part 38)

Detak Cinta Shafura  Part 38: Api Cemburu Baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar merdu nasyid Hafizal Qur’an dari Haitsam Al Halby. Sambil berjalan Zaid memasukkan tangannya ke kantong celana, mengeluarkan ponsel dan menjawabnya setelah memperhatikan layarnya. “Assalamu ‘alaikum. Ya? ... aku di Duta Mall, bersama … ” Sejenak Zaid menatap kami, “Silmi dan temannya. Kamu di mana? ... apa?  Oh, baiklah begitu, kami tunggu di sana, Ya … wa’alaikum salam warahmatullah.” “Fahri mau ke sini. Jadi kita harus menunggunya dulu. Ikuti aku,” kata Zaid sambil berjalan menuju deretan tempat-tempat makan.  “Fahri?” “Iya? Katanya sekarang dia sudah ada di Banjar dan sedang menyusul ke sini.” Zaid tersenyum tipis, “pagi tadi dia ingin sekali ikut, tapi ayah melarangnya karena pekerjaan di pasar masih banyak. Mungkin, dia sudah merindukanmu, sehingga dia memaksakan diri ke sini.” Aku hanya terdiam mengikuti langkahnya. Terlihat sekali dia cemburu, dari nada bicaranya. Entah kenapa. Yan...

Fitnah Laki-laki (DCS Part 37)

  Detak Cinta Shafura  Part 37: Fitnah Laki-laki  "Shafura." Refleks kami berpaling, ke arah sumber suara.  “Kak Zaid?” “Shafura?” Syifa menatapku heran.  Astaghfirullah.  Mengapa Zaid memanggil nama itu di depan umum? Syifa belum tahu, kalau ada nama panggilanku selain Silmi.   “Kak Zaid, kenapa kamu di sini? Bukankah harus memilih gaun pengantin?" tanyaku panik. Aku benar-benar tak mengerti, kenapa dia sampai ada di sini. Seharusnya bersama Aisyah dan Tante Kurnia. Bukankah tadi katanya ingin mencari gaun pengantin? “Oh, itu sudah, dan kebetulan aku juga ada yang mau dicari dan kebetulan, aku lihat kalian di sini," sahut Zaid datar.  Sepertinya dia biasa-biasa saja, aku saja yang terlalu panik. Syifa mengangkat kedua alisnya, aku balas mendelik.  "Oh, Syifa, ini Abdurrahman Zaid, tunangannya Ustadzah Aisyah dan …  Kak, ini Syifa sahabat baikku." Mereka mengangguk sambil menangkup kedua tangan. "Kamu mau beli jam tangan untuk siapa...