Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Teratai Kedua

Ketakutan (Part 20 Teratai Kedua)

  Ketakutan Teratai Kedua part 20 Sanad membawa Tera ke sebuah kafe elite di pinggir kota. Kafe memakai konsep ala rumah santai. Ia memilih sebuah sofa melingkar di salah satu pojok. Lagu Jodoh Pasti Bertemu dari Afgan mengalun pelan. “Jika kamu ingin menikah, beritahulah lebih awal. Supaya aku bisa bersiap-siap,” pinta Sanad. Tera tercengang. “Kenapa kamu seperti menilaiku mudah melepas tanggung jawab begitu saja?” protes Tera. Ssesaat Sanad terpana. Ia mengaduk minumannya. Latte art berbentuk bunga tulip menjadi hancur. “Bagaimanapun … dilihat dari usiamu sudah seharusnya kamu memikirkan jodoh.” ‘Itu akan menjadi mimpi buruk bagi putraku.’ Kenyataannya ia tidak mungkin mengucapkan kalimat itu. Ia pun tidak ingin membatasi Tera dengan alasan putranya. Entah kenapa, ia merasa, hatinya terasa lemah bila di depan Tera. Andai Sanad yang dulu, cukup baginya berucap satu kata, maka Tera tidak akan bisa pergi dari cengkramannya.   Masalah akan selesai. Tera menggeleng. Tatapannya ma...

Perjodohan (Teratai Kedua Part 19)

  Saat keluar dari kamar mandi Sanad mendapati istrinya sudah berada dalam kamar dengan keadaan terlihat sangat capek. "Kamu dari mana?" tanya Sanad sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk.  "Tak perlu kamu tau," jawab Hayati sambil berlalu hendak ke kamar mandi. Sanad menyambar lengan Hayati. "Tak perlu aku tau? Hayati, kamu istriku." "Istri?" ulang Hayati dengan nada mengejek. "Lalu malam tadi kamu membawa seorang gadis, apakah kamu tidak berpikir bagaimana perasaanku sebagai istri?" Sanad tergagap. "Apa maksudmu? Maksudmu Tera? Malam tadi? Itu hanya itu bentuk ungkapan terima kasih atas usahanya untuk Evan." "Usahanya?" Hayati tertawa sumbang. "Dengan mengajaknya jauh-jauh sampai ke Tangkisung? Yang benar saja? Padahal dia hanya beberapa bulan di sini. Bagaimana denganku? Aku membersamaimu sekian tahun, tapi apa yang kudapatkan?" "Aku makin tidak mengerti. Bukankah aku selalu berusaha bersikap...

Arti Kedekatan (Teratai Kedua Part 18)

     Arti Kedekatan (Teratai Kedua Part 18) "Boleh aku tanya sesuatu? Mungkin ini agak privasi." Tera membuka suara.  Sanad mempersilakan dengan isyarat wajah.  "Sudah berapa tahun kamu menikah dengan Hayati?" "Hampir dua tahun. Kenapa?" "Seperti yang kita tahu, Evan masih tertutup dengan Hayati. Sejauh mana kamu berusaha mendekatkan Evan dengan Hayati, sebagai ibu sambungnya?" Sanad terdiam sesaat. "Entahlah." "Entahlah?!" Mata Tera membelalak. "Aku tidak bertanya padamu sejauh mana usaha Hayati mendekati Evan, tapi sejauh mana kamu mendekatkan Evan dengan Hayati?" "Iya, aku mengerti. Kamu menginterogasiku?" Sanad balik bertanya dengan kerutan kening.  Tera memalingkan wajahnya. "Terserahmu. Aku hanya tidak melihat adanya kerjasama kalian untuk saling menjalin kedekatan. Aku lihat Hayati sudah berusaha mendekati Evan, tapi tanpa dukunganmu, hasil optimal sulit diharapkan." Sanad mengembuskan napa...

Rindu (Teratai Kedua Part 17)

    Evan tersenyum menatap mereka penuh arti. Ia mengambil sendok baru, lalu menyerahkan ke Tera. "Heh, Evan mau lagi? Kenapa sendok baru lagi?" tanya Tera sambil menyendok cake, lalu menyodorkan ke mulut Evan.  Evan mengatupkan mulutnya, lalu menggeleng. "Lalu?"  Evan menunjuk Sanad dengan dagunya. Sanad terkejut. Mata Tera membesar. "Bagaimana kalau Evan yang suapi Papa, ya," bujuk Tera.  Evan menggeleng.  Sesaat Tera menoleh ke arah Keane. Keane langsung mengalihkan pandangannya. Dari sudut bibir, Tera tahu Keane sedang menahan tawa. Sesaat Sanad menatap putranya yang menunggu tindakannya. Ia beralih ke wajah Tera yang memerah. Sendok terangkat dengan sangat lambat. Ia segera mengambil alih sendok itu, lalu menyodorkan ke mulut Tera. Tera terkesiap.  "Anggaplah ini dari seorang ayah yang sangat berterima kasih atas kehadiranmu. Sebanyak apapun aku memberi materi padamu, tidak akan dapat membalas atas banyaknya perubahan yang terjadi pada Evan. Deng...

Terima kasih Atas Kehadirannya (Teratai Kedua 16)

Cuplikan Teratai Kedua part 16    “Kenapa kamu ke sini?” tanya Tera setengah berlari, keluar dari gerbang gedung sekolahan yang selalu dijaga satpam. Rudi mengangkat rantang yang sejak tadi ia bawa. “Ibu buatkan bubur sumsum untukmu.” Tera tersenyum. Ia segera mengambil rantang yang disodorkan Rudi. “Terima kasih ya,” ucapnya menatap haru.  Rudi mengangguk. “Itu dari ibu. Kalau aku … bagaimana kalau aku mentraktirmu makan?!” “Boleh. Kira-kira budgetnya berapa nih?!” “Berapa pun kamu mau.” “Nnggak takut bangkrut?” goda Tera. Rudi tertawa. “Khusus hari ini, kamu bebas mau beli apa. Lagi pula, aku tau kamu kok, kamu tidak akan buang-buang uang hanya untuk memuaskan diri di hari lahirmu.” Tera terkekeh.  *** “Benar, kamu tidak ingin pulang?” tanya Rudi

Rasa Yang Baru Muncul (Teratai Kedua part 15)

 Cuplikaan Part 16 Teratai Kedua Sesaat Tera termangu menatap Sanad yang duduk di depan. Pikiran laki-laki itu entah ke mana. Kenapa Sanad dengan Hayati tidak bekerjasama demi Evan? Padahal suami istri? Sanad sangat menyayangi Evan, tetapi kenapa tidak melibatkan Hayati demi kesembuhan Evan?  Mobil melaju menuju sekolahan Evan, tetapi pikiran Sanad masih tertinggal di halaman rumah. Bagaimana mungkin cewek barbar  itu berani melakukan itu padanya? Waktu telah berlalu beberapa menit, tetapi suara lembut dan napas Tera masih membekas dalam benaknya. Sensasi hangat yang pernah hilang beberapa tahun lalu kini muncul kembali. Rasa yang dulu ia dapatkan hanya saat bersama Kaayat,  kini muncul akibat  tindakan tidak sopan Tera.  Part lengkap

Ketulusan (Teratai Kedua 14)

  Papa? Tera menyebut Sanad juga Papa? Hayati merasakan dadanya berdenyut nyeri. Andai ia tidak melihat foto itu, mungkin ia tidak perlu merasakan sakit seperti ini.  "Mama rasa sebentar lagi Papa akan datang. Mama keluar sebentar, ya." Evan mengangguk.  "Anak pintar." Tera mencium pipi Evan.  Papa? Mama? Hayati menyentuh dadanya yang kembali terasa nyeri.  *** Hayati membawa Tera ke sebuah kursi di taman depan. Temaram lampu membuat suasana taman terlihat sedikit menyedihkan di mata Tera. Indahnya  tanaman, bunga-bunga, rumput yang dipangkas rapi, bahkan satu set kursi taman tidaklah membuat lebih berarti jika hanya dijadikan pajangan. Indah, tetapi kesepian.  Tera teringat saat-saat ia mengisi malam bersama Rudi. Menatap bintang di teras dengan bangku seadanya, dilengkapi nyamuk yang tidak pernah absen untuk mengganggu, di sana ia sering mengukir mimpi-mimpinya. Waktu itu terasa biasa saja, tapi sekarang momen itu menjadi sangat berarti dan tiba-tiba...

Elang (Teratai Kedua part 12)

    Di Bangkau. Seorang pemuda berkulit putih memasuki halaman rumah Tera yang berbentuk jembatan. Bangkau wilayah rawa. Rata-rata rumah panggung dengan halaman berupa jembatan dari papan.  “Assalamu ‘alaikum.”  “Wa alaikum salam. Elang?! Kamu pulang? Kok tiba-tiba pulang? Ada apa?” cecar Kembang panik.  "Kak Tera mana?" tanya Elang sambil masuk rumah dengan menenteng ranselnya. “Datang-datang langsung nanyain Tera? Tanyain ibu dulu kek,” protes Kembang. “Kak Tera mana?” ulang Elang dengan suara meninggi.  “Dia sedang pergi,” kilah kembang. “Ke mana?” “Mana kutau. Dia kan sudah besar. Masa harus minta izin dulu padaku,” jawab Kembang sambil berlalu ke dapur.  Elang Diam. Menatap tajam kakaknya yang sedang menuang air minum ke dalam gelas.  “Nih, minum dulu!” Kembang menyerahkan gelas itu pada Elang. “Jauh-jauh perjalanan, bukannya istirahat dulu, malah nanyain Kak Tera.” Elang mengambilnya minuman itu. “Ibu mana?” tanya Elang setelah menandaskan m...