Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Merindu Cahaya di Itaewon

Tahajud di Langit Itaewon

  Tahajud di Langit Itaewon (Part 30 Merindu Cahaya di Itaewon) Salat Tahajud selalu menghiasi ujung malam-malam bahagia mereka. Salat Tahajud, bagai perjanjian yang tak terucap. Kebahagian tanpa diminta. Selesai salat Heera mendekat, lalu mencium tangan suaminya dengan takzim. Suaminya membalas dengan ciuman sepenuh kasih sayang di ubun-ubunnya. “Pakailah kerudungmu?!” perintah Eun Sun tiba-tiba. Heera mengernyit. “Aku ingin membawamu ke suatu tempat.” Heera tak habis mengerti, ke mana Eun Sun membawanya di pagi yang masih buta begini.  Setelah kerudung terpasang sempurna. “Eun Sun, apa-apaan ini?” Ia tidak mencurigai Eun Sun. Hanya ia tidak bisa membuang ketidakmengertiannya. “Tenang saja.” Eun Sun mengangkat tubuhnya dan berjalan. “Eun Sun?!”

Kesempatan Untuk Cinta

  Kesempatan Untuk Cinta (Part 29 Merindu Cahaya di Itaewon) *** “Alhamdulillah,” sorak Heera ketika ia keluar dari kelasnya. Izam sudah menunggunya di luar. “Sepertinya dapat nilai A+?!” tanya Izam sambil mensejajari langkah Heeeana. Heera mengangguk pasti. “Terima kasih, Zam.” “Itu berkat kerja kerasmu juga,” sahut Izam dengan senyuman lebar. “Tanpa bantuanmu, belum tentu dalam nilai setinggi ini. Terima kasih,” ucapnya sekali lagi. “Oke. Sama-sama,” sahut Izam membungkukkan badan. Heera tertawa melihat tingkah Izam. “Di Malaysia begitu juga, Zam?” Izam hanya menjawab dengan senyuman. “Bagaimana kalau aku traktir kamu?” tanya Heera sambil menghadap lurus. “Seberapa mahal?” canda Izam. “Eh, matri,” seru Heera sambil memukul-mukul papernya di tangan ke badan Izam. Izam hanya menghindar sambil tertawa. “Aku senang, kita baikan lagi. Aku sempat khawatir akan kehilangan sahabat terbaikku,” ucap Heera, saat mereka sudah duduk di sebuah kafe pinggir jalan. Izam tersenyum tipis. “Memang ...

Satu Kata

Satu Kata (Part 28 Merindu Cahaya di Itaewon) Eun Sun dan Izam duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon halaman masjid Itaewon.  Izam sedang memikirkan kenapa ia ada di sini untuk urusan yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Eun Sun juga bukanlah atasannya yang seenaknya bisa memerintahnya. Ia dengan Eun Sun hanyalah patner kerja.  Izam menoleh menoleh ke Eun Sun yang sedang meneguk minuman botol. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Eun Sun menyeretnya ke Korea. Ia bertanya-tanya, mungkinkah ini sifat Eun Sun sebenarnya? Mungkinkah karena sifat itu, Eun Sun dengan mudah menangkap calon kliennya? Hingga perusahaan ayahnya menggurita sampai ke Malaysia. Di sisi lain, Eun Sun juga terlihat lemah. Eun Sun tak bisa meluluhkan hati ibunya sewaktu dipaksa menikah dengan Heera. Eun Sun tak bisa memilih antara Hwan Yeong dan Heera, bahkan Eun Sun memilih berlepas dari keduanya.  Mungkinkah kelemahan Eun Sun hanya pada ibunya, Heera, dan Hwan Yeong? Sehingga tidak dapat mene...

Membuka Hati

  Membuka Hati (Part 27 Merindu Cahaya di Itaewon) Hasana langsung meloncat begitu motor yang dikemudi kakaknya sampai di halaman. “Sabar dong, Hasana!” gerutu Heera. Hampir saja motornya oleng kalau saja ia tanggap menahan. “Aku ga sabar lagi, Kak. Panas sekali.” seru Hasana sambil mengibas-ngibas tangan ke wajah. Heera hanya bisa geleng-geleng menatap adiknya berjalan setengah berlari ke rumah. Ia memaklumi hal itu. Ia sendiri merasakan gerah yang luar biasa. Panas dan macet. Dua hal yang sampai sekarang masih erat dengan kota Jakarta. Ia memasang raut bingung ketika melihat Hasana berbalik lagi. “Ada tamu. Sepertinya ada yang melamar kakak lagi,” bisik Hasana dengan wajah jenaka. “Hush.” Heera mengibas tangannya. “Jangan ngaur!” Hasana melipat tangannya ke dada dengan memasang wajah serius. “Aku heran dih, kenapa kakakku wajah culun ini banyak yang ngelamar?” “Aku kau bilang culun?!” delik Heera.

Harapan di Langit Itaewon

Harapan di Langit Itaewon (Part 26 Merindu Cahaya di Itaewon) Tiba-tiba Heera terperanjat. Tepat ia memasuki ruang kantor Myung Jun, tiba-tiba bertatap mata dengan seorang laki-laki yang duduk di kursi kerja. Laki-laki itu pun terlihat terkejut. Matanya mengerjap. Ia masih belum percaya dengan penglihatan. Kenyataannya sosok itu begitu nyata dan ia masih mengenali tatapan mata itu.  Astaghfirullah. Ia menarik napas lalu mengembuskannya pelan-pelan. “Eun Sun ssi, apa kabar?” tanyanya dengan formal dan dibuat sedatar mungkin. “Baik. Bagaimana denganmu?” tanya Eun Sun tanpa beranjak dari tempat duduknya. “Alhamdulillah, baik.” “Silakan duduk, Heera,” ucap Myung Sun sambil menggerakkan tangannya. Heera mengangguk. Tak lama kesan empuk langsung terasa di badannya. Lagi-lagi memori bersama Eun Sun kembali muncul.  Seketika ia merutuki diri. Kenapa ia jadi seperti ini? Kenapa ia jadi gugup? Bukankah ia sudah bisa menduga akan bertemu Eun Sun di sini? “Bagaimana kabarnya Hwan Yeong?”

Wujud Cinta

  Wujud Cinta (Part 25 Merindu Cahaya di Itaewon) “Masuklah!” ucap Heera ketika mendengar ketukan pintu, sambil menutup buku yang telah dibacanya. Young See muncul di balik pintu, diiringi dengan senyum Izam yang berdiri di belakang Young See. “Assalamualaikum …,"  ucap Izam. “Waalaikumsalam … Izam? Young See, Izam, masuklah!” Ia menyambar kerudung yang tergeletak di meja, lalu memasang ke kepalanya. Ia tak ingin kedua sahabatnya melihatnya berantakan.  “Senang sekali dengan kedatanganmu, Zam,” ucap Heera semringah. “Berterima kasihlah padaku,” sela Young See dengan memasang wajah jenaka. Heera mendelik. Young See terkekeh. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Young See sambil duduk di samping Heera. Izam tersenyum haru melihat kedua sahabat itu. Walau beda agama, mereka terlihat sudah seperti dua bersaudara. Ia merasa malu pada diri sendiri. Young See selalu ada di saat Heera melewati ujian berat, sedangkan dirinya tidak dapat berbuat apa-apa. Heera berpaling ke arah Izam. “Apa ...

Terlambat Mencintai

  Terlambat Mencintai (Part 24 Merindu Cahaya di Itaewon) Terlambat Mencintai Setelah salam, Heera menoleh ke tempat Liana berbaring. Liana memejamkan mata, dari wajahnya terlihat tenang sekali. Awalnya Heera tersenyum melihat pemandangan itu. Terlebih lagi ibu mertuanya sedang memakai rukuh, baru kali ini ia melihatnya. Selesai berdoa, Heera kembali menoleh  ibu mertuanya. Liana masih memejamkan mata.  Lama-lama ia merasakan hawa yang tidak nyaman. “Omma!” panggil Heera pelan. “Omma!” Liana tak menyahut. Eun Sun menoleh. Sejenak keduanya berpandangan, lalu segera mendekati Liana. Eun Sun mencermati wajah ibunya. Ia tak mendapati adanya napas. Ia menoleh ke arah Heera yang menatapnya cemas. Tangan Eun Sun gemetaran  menyentuh tangan ibunya yang masih bersedekap. Dingin. Ia mencermati pergelangan tangan ibunya. Tak ada denyut nadi. Napasnya tertahan. Eun Sun menatap Heera dengan menggelengkan kepala. Mata Heera membelalak. Ia menggoncang tubuh Liana. “Omma. Omma!”

Hadiah Pagi

Hadiah Pagi (Part 23 Merindu Cahaya di Itaewon) Pagi ini Heera malas sekali membuka matanya. Entah sudah berapa kali alarm berbunyi, matanya hanya terbuka sedikit, lalu terpejam. Meski matanya tak kunjung terbuka, tetapi nurani terus saja mengusik. Sudah waktunya untuk bercengkrama dengan Robbnya.  “Kenapa mata ini berat sekali?” gerutunya sambil memaksa diri duduk. Gerakannya terhenti ketika merasa tangannya dipegang. Saat itulah ia baru menyadari kalau Eun Sun ada di sampingnya.  Eun Sun ada di sisinya? Sulit untuk mempercayainya. Sejenak memorinya mengulang, apa yang telah terjadi hingga yang dirindukan benar-benar di sampingnya.  Ia masih belum mempercayainya. Kenyataannya, kehangatan itu memang ada. Matanya boleh salah, tapi tidak dengan perasaannya. Ia sangat mengenali, kehangatan khas miliki Eun Sun. Ia kembali berbaring, menyamping, menatap wajah yang terlihat damai. Dengan tangan yang satunya, ia mengelus wajah Eun Sun dengan lembut sambil meresapi perasaannya....

Pertemuan

Pertemuan (Part 22 Merindu Cahaya di Itaewon)   Ia memain-mainkan gelang yang melingkar di pergelangan. Ah, betapa rindu benar-benar menguasainya. Ia bertanya-tanya, apa yang dilakukannya andai bisa bertemu dengan Eun Sun. Menggenggam tangan Eun Sun saja? Itu lebih dari cukup. Ah, kenapa ia menjadi seorang yang sangat menyedihkan. Ia mengambil ponselnya lalu menyentuh angka satu. “Assalamualaikum,” terdengar suara dari sana.  “Wa alaikumsalam, Bu.” Tiba-tiba saja air matanya mengalir deras. Ia pun merasa tak perlu membentung air matanya. Ia memang terlalu lelah. “Hee … Heera. Ada apa, Nak?” Suara ibunya terdengar cemas. Entah berapa menit ia terus menangis. Ibunya pun dengan sabar mendengarkan tangisannya dan menunggunya sampai putrinya bisa bercerita. Tak ada yang perlu disembunyikan dari ibunya. Ia tak kuasa lagi berpura-pura tegar. Berpura-pura bisa berjalan sendiri. “Nak, kalau kamu mencintainya kenapa tidak kamu datang padanya?” tanya ibunya lembut. “Saya tidak tahu, apak...

Separuh Jiwa

  Separuh Jiwa (Part 21 Merindu Cahaya di Itaewon) *** “Alhamdulillah,” sorak Heera ketika ia keluar dari kelasnya. Izam sudah menunggunya di luar. “Sepertinya dapat nilai A+?!” tanya Izam sambil mensejajari langkah Heeeana. Heera mengangguk pasti. “Terima kasih, Zam.” “Itu berkat kerja kerasmu juga,” sahut Izam dengan senyuman lebar. “Tanpa bantuanmu, belum tentu dalam nilai setinggi ini. Terima kasih,” ucapnya sekali lagi. “Oke. Sama-sama,” sahut Izam membungkukkan badan. Heera tertawa melihat tingkah Izam. “Di Malaysia begitu juga, Zam?” Izam hanya menjawab dengan senyuman. “Bagaimana kalau aku traktir kamu?” tanya Heera sambil menghadap lurus. “Seberapa mahal?” canda Izam.