Mendadak Talak Part 10. Bermain Siasat Ia berdiri, dengan menopang kedua tangannya di atas meja. “Bu, sebenarnya kami ….” “Wahda!” seru Bagus cepat. “Mumpung ingat, ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Wahda menghela napas beratnya. Ia tidak menyangka kalau Bagus melakukan siasat licik ini. Mempertahankan dengan memanfaatkan kelemahannya. Ia menurut saja, mengikuti Bagus hingga sampai ke kamar. “Please, jangan katakan sekarang! Kamu tau, Ibu sangat menyayangimu. Ia pasti sangat bersedih jika mengetahui perceraian kita.” Wahda menyunggingkan sebelah bibirnya. “Aku terpaksa. Aku hanya ingin selalu bersamamu. Aku percaya, jika kita bersama lagi, hatimu pasti terbuka lagi untukku. Beri aku kesempatan ya.” “Bukankah aku sudah bilang padamu, beli rumah, datang padaku. Tidak perlu melakukan hal seperti ini.” “Soal rumah, aku akan mengusahakannya. Tapi, tetap saja aku selalu ingin melihatmu setiap saat. Aku benar-benar gila, bila sehari saja tanpa meli...