Hakikat Cinta
Part 7 Serpihan Hati
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu …."(QS.Ibrahim: 7)
🌸🌸🌸
Kini, cinta itu telah berkeping.
Ini hanya perkara bubur. Masih banyak perbedaan yang mereka miliki. Hanya seputar makanan. Ia tidak suka makanan beraroma, tetapi kesukaan Salman dan Salsa. Ke depannya, masih bisakah ia menyediakan menu itu? Belum lagi perbedaan selera warna, hobi, kebiasaan bahkan cara berpikir.
Bagaimana ia bisa menghadapi semua keadaan di esok hari? Ia tidak yakin iming-iming surga dapat membuatnya bertahan.
Ia menenggelamkan wajah ke bantal meredam deru tangisnya. Tangisnya semakin sulit dikendalikan ketika Salman menaruh kepalanya di pangkuan. “Maafkan aku. Maafkan aku," ucapnya nyaris tak berbunyi.
“Abi yang seharusnya minta maaf,” bisik Salman sambil menciumi rambutnya. Sesal tentu saja menyelimuti perasaan Salman. Hatinya hancur melihat keadaan Salwa dan dirinyalah penyebabnya. Naif sekali. Sekarang jelaslah bahwa dirinya hanyalah pahlawan kesiangan.
Salwa semakin menenggelamkan kepala mendengar permohonan maaf suaminya. Apa artinya permohonan maaf? Semua telah terjadi. Cintanya terlanjur hancur. Sekarang apa yang harus dilakukannya dengan hati yang hancur? Mampukah ia mengumpulkan serpihan-serpihan hati menjadi utuh? Mungkin waktu bisa mengumpulkan semuanya, tetapi tidak akan seperti semula.
‘Dibanding meratapi nasib, lebih baik waktu anti digunakan untuk mengobati hati dan jangan mengungkit kesalahan suami, karena itu akan membuat hatimu semakin hancur. Banyak bersyukur akan membuat hati sedikit lebih dan ikhlas,’ ucap Silmi saat itu.
“Umi kenapa nangis?” tanya Salsabila dengan wajah meringis.
Salwa terkesiap. Ia segera bangun sambil mengusap wajahnya. “Tidak, Sayang. Umi cuma sedikit tidak enak badan.”
Salman membantu merapikan rambutnya yang berantakan.
“Kenapa wajah umi merah?” Salsabila sudah duduk di samping ayahnya.
“Umi cuma sakit. Salsa hari ini mau kan ke rumah nenek dulu? Atau sama Ammah di pondok? Supaya Umi bisa istirahat. Salsa mau kan?”
Salsabila mengangguk. "Salsa mau sama Ammah di pondok.”
“Baiklah kalau begitu.” Salman beralih ke Salwa. Kembali tangannya terangkat, mengelus rambutnya dengan lembut. “Umi izin libur saja ya.”
Salwa mengangguk.
“Umi mau makan apa? Biar aku belikan nanti di jalan. In sya Allah.”
***
Salwa berusaha memaksa diri beraktifitas. Diam hanyalah membuat hatinya semakin nelangsa. Saat Salman datang dari mengantar Salsabila, ia sedang di dapur membuat telur mata sapi. Salam Salman hanya dijawabnya dari dapur, tanpa merasa harus menyambutnya.
“Bikin apa? Bukannya tadi aku bilang akan membelikan makanan?” tanya Salman sambil meletakkan makanan yang baru saja dibelinya. Ia mengambil mangkuk dan piring dari lemari, lalu menuang sayur ke mangkuk, sedang ikan ke piring.
Salwa hanya menjawab dengan senyuman dipaksakan. Ia meletakkan telur mata sapi buatannya ke dalam piring lalu menaruh ke atas meja. Saat ditanya mau dibelikan apa, ia menyerahkan kepada Salman. Namun belakangan, ia tidak yakin apakah Salman akan membelikan makanan sesuai seleranya. Ia tidak ingin insiden bubur terulang lagi. Sungguh sangat menyiksa, perut ingin memuntahkan isi, tetapi tidak ada yang bisa dikeluarkan.
“Pagi-pagi sudah ada jual sayur masak?” tanyanya sambil memperhatikan isi mangkuk.
Salman mengangguk sambil memeluknya dari belakang. Ia meletakkan dagunya di leher Salwa. “Pas kebetulan tadi baru buka. Maafkan Abi. In sya Allah, tidak akan beli bubur lagi.”
Salwa mengernyit. Ia merasakan tubuhnya bereaksi. Ya. Ia mengakui, kalau dirinya sangat merindukan laki-laki itu. Andai itu dulu, ia akan berbalik lalu memeluk erat. Kali ini, gengsi menahannya. Ia takut, kalau kerinduannya tidak berimbang dengan Salman. Tentu akan menambah luka lagi.
“Tidak apa. Entah kenapa tadi perutnya tiba-tiba mual. Tunggu sebentar.” Ia berusaha melepaskan dua tangan yang bertautan di pinggangnya, tetapi kedua tangan itu semakin mengerat. “Aku mau mengambil piring buat tempat nasi. Abi sudah makan belum?”
Salman melepaskan pegangannya. Namun, tanpa disangka tiba-tiba badan Salwa terpaling dan langsung tenggelam dalam pelukan Salman.
“Aku sangat merindukanmu,” bisik Salman.
Kalimat yang sering membuatnya melayang kini berubah rupa. Fakta yang baru didapatkan pagi ini, perasaannya tidak sepenuhnya lagi percaya pada ucapan Salman.
“Bagaimana mungkin Abi merindukanku. Sedang selama tiga hari dia selalu menamani. Barang baru, tentu memberikan sensasi baru,” ucap Salwa nada bergelombang.
Salman semakin mengeratkan pelukannya. “Jangan bilang begitu. Bagaimanapun dia orang baru, aku perlu beradaptasi dengannya. Sedangkan kamu, sudah menjadi belahan jiwaku. Sehari saja tidak bertemu, betapa hati ini sangat tersiksa.”
Salwa berdecak. Mengapa ia merasa Salman menjadi seorang penggombal. Ia melepaskan diri dari pelukan Salman. “Aku mau mengambil piring.”
Badannya kembali tertarik. Namun, kali ini Salman bukan mengunci badannya, melainkan kedua bibirnya. Tangannya berusaha mendorong dada Salman, tetapi dengan sigap Salman memegang sebelah tangannya. Seketika air matanya mengalir deras. Mengapa semuanya terasa menyakitkan?
‘Banyak bersyukur akan membuat hatimu sedikit lega dan ikhlas,’ ucapan Silmi kembali terngiang.
Ia berusaha melenturkan dirinya. Memberontak tidak ada gunanya. Kenyataannya, Salman punya hak atas dirinya. Siapa sangka, di saat ia merelakan diri, Salman melepaskan ciumannya. Matanya terbuka. Jari jemari Salman mengusap wajahnya.
“Maafkan aku. Aku janji tidak akan memaksamu.”
Mulutnya tak berucap, bahkan air matanya pun seakan bekerjasama. Mengungkapkan segala rasa tanpa bunyi.
“Aku telah melakukan banyak kesalahan dan mungkin tidak termaafkan. Namun, beri aku kesempatan untuk mengobati hatimu. Ya.”
Salwa mengangguk, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Salman. Salman kembali memajukan wajahnya, tetapi tubuhnya lagi-lagi membentuk pertahanan. Menyadari hal itu, Salman menarik diri.
“Kalau begitu, kita makan, ya.”
Bibirnya kali ini mengukir senyum. Meski dengan ukiran patah.
***
Lonceng tanda kelas berakhir telah berbunyi. Anak-anak SMA telah berhamburan. Haira bersama temannya berjalan menyusuri lorong kelas menuju pintu gerbang.
"Kamu ko jadi pendiam banget, Haira? Ga seperti biasanya," tanya Rania teman sebangku.
Haira hanya menjawab dengan cengiran. Rania balas nyengir. "Dua hari ini ke mana aja?"
Haira masih tak menjawab.
"Palingan kabur! Secara kan ibunya kawin lagi," sindir beberapa siswa yang tak jauh dari mereka. Lalu teman yang lain tertawa cekikikan.
Langkah Haira terhenti. Tangannya mengepal erat.
"Jangan didengerin!" seru Rania sambil menarik tangannya.
***
Seperti yang dilakukannya bersama Salwa, Salman pun ingin menerapkan itu dalam rumah tangganya bersama Jamilah, di antaranya menghidupkan ta’lim dalam rumah. Meski hanya membaca satu atau dua hadis tiap malam. Ia percaya ta’lim akan mendatangkan rahmat dan hidayah. Bukankah berkat ta’lim di rumah Fatimah binti Khattab telah menyentuh hati orang sekeras Umar bin Khattab? Ia juga percaya, suatu saat akan memberi dampak positif pada Jamilah dan kedua anaknya, meski memerlukan waktu yang cukup panjang.
Hari pertama Salman membaca hadits dari buku Riyadhus Shalihin dari Imam Nawawi. Ia duduk di ruang keluarga. Jamilah berhasil membuat Haira duduk, sedang Haikal tidak ingin beranjak dari depan televisi.
***
Sesuai janji mereka, Salwa membawa putrinya jalan-jalan di taman siringan. Taman pusat di kota provinsi Banjarmasin. Mereka sengaja memilih bukan di hari libur karena hari itu biasanya taman terlihat sepi. Bahkan kadang pedagang cemilan pun tidak ada. Haira sudah mengantisipasi semuanya. Mulut Salsabila menganga begitu melihat snack dan minuman botol penuh sekantong plastik. Salwa tertawa melihatnya. Mereka duduk di bangku taman yang mengelilingi meja bundar, dinaungi oleh sebuah payung besar.
“Sepertinya kamu anak orang kaya, Haira.”
Haira terkekeh. Ia mengeluarkan tiga buah botol minuman, lalu sisanya ia tumpah langsung dari plastik ke atas meja.
"Setidaknya Papa meninggalkan kami harta yang cukup untuk beberapa tahun ke depan.” Haira duduk di kursi samping Salsabila. “Semoga saja suami Mama sekarang bukan orang serakah.”
Salwa tersenyum. “Aamiin! Berdoa saja, semoga papamu yang sekarang baik hati, mampu menjaga kalian sekeluarga.”
Haira mengedikkan bahu. “Aku tak butuh dijaga. Beberapa tahun tanpa papa kami baik-baik saja. Tidak setelah kehadiran orang baru itu.”
Salwa mengembuskan napas. “Sudahlah! Jangan bicarakan dia lagi. Sepertinya mood kamu selalu rusak jika membicarakan keluargamu.”
Haira mengiyakan dengan anggukan kepala. Tiba-tiba perhatian mereka teralih pada sebuah mobil hitam yang menepi tak jauh dari mereka. Mobil berhenti sempurna, dan pintu pengemudinya mulai terbuka. Seketika mata Salwa membelalak melihat laki-laki yang keluar dari mobil itu.
“Aditya?”
Sesaat Haira menoleh. Mimik muka Salwa membuatnya mengerutkan keningnya. Ia kembali mengalihkan perhatiannya ke laki-laki yang telah berjalan ke arah mereka. Wajah ganteng semakin memesona dengan pakaian yang dikenakan. Jeans hitam soft berpadu dengan warna kaos serupa. Haira kembali menoleh ke arah Salwa. Wajah Salwa memunculkan satu kata di benak Haira.
'Dia--?'

Komentar
Posting Komentar