Langsung ke konten utama

Hakikat Cinta Part 8

 Hakikat Cinta

Part 8 Orang Dari Masa Lalu




"... Aku takut akan azab hari yang besar, jika aku bermaksiat pada Tuhanku." (QS. Yunus: 15)


🌸🌸🌸


 “Aditya?”

Sesaat Haira menoleh. Mimik muka Salwa membuatnya mengerutkan keningn. Ia kembali mengalihkan perhatiannya ke Aditya yang telah berjalan ke arah mereka. Wajah ganteng semakin memesona dengan pakaian yang dikenakan. Jeans hitam soft berpadu dengan kaos hitam. Haira kembali menoleh ke arah Salwa. Wajah Salwa memunculkan satu kata di benak Haira.

‘Mantan?’

“Assalamu ‘alaikum,” sapa-sapa laki-laki yang disebut Aditya oleh Salwa.

“Wa ‘alaikum salam,” jawab mereka serentak. Salwa hanya menjawab dengan lirih. Wajah Salwa terlihat semakin tidak nyaman. 

“Hallo, Salsa.” Tanpa izin Aditya duduk di bangku salah satunya.

“Hallo, Om.” 

“Kebetulan sekali, ya. Wah, banyak sekali cemilannya,” seru Aditya tanpa mempedulikan wajah Salwa. “Ini semua Salsa yang beli?” 

“Bukan, Om. Kak Haira yang beli,” sahut Salsabila.

“Haira?” 

“Oh, kenalkan, Dit, di samping Salsa namanya Haira. Haira, dia Om Aditya, dulu teman sekampung,” ucap Salwa.

“Dulu?!” protes Aditya.

“Hallo, Om. Saya Haira, teman Salsa.” Haira mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Aditya. 

“Aditya Rahman.” Aditya beralih ke Salsa. “Lama tidak jumpa Salsa, bagaimana kabarnya Salsa?” 

“Baik, Om. Kok, Om ada di sini?” tanya Salsa. 

“Oh, kebetulan Om ada urusan di sini. Pas tadi Om lihat Salsa ada di sini, jadi Om mampir buat nyapa Salsa.”

“Oooh.” Mulut Salsa membulat. 

“Mmm ... Salsa, kita jalan-jalan, ya,” sela Haira. 

Salwa membelalak, tetapi sepertinya Haira berusaha menghindari tatapannya. 

“Iya, Kak." Salsabila beralih ke ibunya, "Salsa mau naik ke Menara Pandang, boleh tidak, Mi?” 

Salwa ingin melarang, tetapi tidak tega melihat wajah anaknya yang penuh harap. “Baiklah! Haira, titip Salsa ya. Jaga dia baik-baik. Tante akan menyusul. In sya Allah."

Haira menautkan jempol dengan jari telunjuknya. “Oke, Tante. Percayakan padaku.”

“In sya Allah.” Salwa mengingatkan. 

“In sya Allah, Tante,” ulang Haira dengan mimik malu. Aditya tersenyum dengan tingkah Haira.

“Sepertinya kamu sengaja menghindariku,” ucap Aditya setelah Salsabila dan Haira jauh dari mereka. 

“Maksudmu?” 

“Kemarin kamu tiba-tiba pulang, padahal katanya ingin bermalam di rumah ibumu. Tapi tiba-tiba sore sudah pulang.”

“Kenapa aku harus menghindarimu?” tanya Salwa sambil mengambil botol minuman, lalu ingin meneguknya. Sayangnya, botol di tangannya sudah keburu direbut Aditya. 

“Kalau kamu tidak menghindariku, tidak seharusnya kamu pulang sore itu,” ucap Aditya sambil membuka segel botol dan penutupnya, lalu menyerahkannya pada Salwa. “Padahal jelas-jelas Salsa bilang padaku ingin bermalam.” 

Salwa hanya menatap botol itu, tanpa minat untuk mengambil kembali. Aditya kembali menggerakkan botol minuman itu, “Salwa, aku tahu diri kok, kalau kamu sudah menikah. Selama kamu bahagia, aku juga bahagia. Aku tidak akan mengganggumu.”

Salwa tertegun. Ia bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan Aditya, seandainya tahu masalah yang dihadapinya?

Ia teringat mengapa ia pulang ke rumah ibunya, lalu mengapa juga tiba-tiba balik lagi ke Banjarmasin? Saat itu, Salman baru saja mengungkapkan keinginannya menikahi Jamilah. Pikirannya benar-benar kacau. Yang ada hanyalah amarah dan amarah. Jika ditahan, berisiko meledak secara tiba-tiba. Bahkan sempat berpikir memilih bercerai. 

Lalu ia berpikir menenangkan diri dulu di rumah ibunya di Nagara, tepatnya di Baruh Kambang. Ia meminta izin pada Salman istirahat tiga hari. Siapa sangka bertepatan dengan Aditya yang juga sedang pulang kampung. 

Rumah orang tua mereka berseberangan. Mereka juga tumbuh  dan kemana-mana selalu bersama hingga akhirnya saling mencintai. Berbeda tempat kuliah tidak memutuskan hubungan mereka. Salwa kuliah di Banjarmasin, sedang Aditya di Yogyakarta. 

Siapa sangka di Banjarmasin Salwa menemukan dunia baru. Ia hijrah dan berusaha mengamalkan Islam secara kaffah. Ia mulai berhijab serta mengajak Aditya hijrah dan menikah. Sayangnya, Aditya belum siap hijrah, terlebih lagi menikah karena saat itu ia masih kuliah. Saat itulah mereka putus hubungan.

 Siapa sangka saat Aditya lulus kuliah dan ingin kembali, Salwa telah bertunangan dengan Salman. 

Membangun rumah tangga atas satu visi dan misi tentu saja membuat Salwa bahagia. Ditambah sikap baik Salman membuatnya benar-benar mencintai laki-laki itu. Meski sering bertemu Aditya saat pulang, ia tidak merasakan lagi riak-riak di hati, kecuali saat Salman ingin menikah lagi. 

Di saat hatinya rapuh, Aditya datang. Dorongan keinginan untuk curhat membuat nama Aditya masuk dalam list teman dipercaya. Ini fitnah baginya. Karena itulah, ia memutuskan pulang hari itu untuk menghindari Aditya. 

Siapa sangka akan bertemu Aditya lagi hari ini dan di tempat seperti ini. 

“Kamu bahagia 'kan dengan Salman?” Pertanyaan Aditya menembus lamunannya. 

Salwa tersenyum sumbang. “Menurutmu apa yang membuatku tidak bahagia?! Ekonomi kami Alhamdulillah. Punya seorang putri yang sehat dan cerdas. Jadi apalagi yang membuat tidak bahagia?” 

Aditya terdiam. Ia menangkap jelas gelombang dari nada ucapan Salwa. Dari Lidya, ia tahu bahwa Salman telah menikah lagi. Namun, ia tidak ingin mengungkit hal itu, jika Salwa memang ingin menutupinya. 

“Syukurlah jika begitu. Salwa, aku tahu kau tidak mencintaiku lagi dan aku pun tidak pantas mencintaimu. Hanya saja, kita telah tumbuh bersama. Setidaknya pandanglah aku sebagai tetangga, sahabat bahkan kakakmu. Meski bukan kakak kandung, aku selalu berharap kamu bahagia, dan jika suatu saat kamu mempunyai masalah, aku akan senang sekali jika kamu mengandalkanku.”

Salwa memaksakan diri mengukir senyum. “Terima kasih, Dit. Aku hargai kebaikanmu. Hanya saja, mengertilah, aku perempuan menikah, aku harus menjaga perasaan suamiku.”

“Aku ngerti. Apa dia tahu, kalau kita pernah ....” 

Salwa menggeleng. “Tidak tahu dan jangan ungkit-ungkit lagi masa lalu. Itu lembaran gelap yang harus dilupakan.”

“Lembaran gelap?” ulang Aditya dengan mata terbelalak, lalu merapatkan gerahamnya. Bagi Salwa itu lembaran gelap? Padahal baginya itu lembaran indah dan tidak terlupakan. Mereka telah melewati masa-masa indah yang cukup panjang, sampai akhirnya keadaan yang memisahkan. Betapa ia sangat menyesal telah menolak ajakan Salwa untuk menikah. Menolak Salwa hal yang terbodoh sepanjang hidupnya.

Lalu saat ia ingin kembali, sayangnya semua telah terlambat. Sampai saat ini ia pun masih belum bisa membuka hati untuk perempuan lain, meski telah berkali-kali dikenalkan dengan wanita lain oleh ibu dan  kakaknya. 

Cinta yang telah ditutup rapat kini terbuka kembali setelah mendengar Salman telah menikah lagi. 

“Baiklah, kalau begitu aku jalan dulu,” ucapnya sambil berdiri. “Oh iya, sepertinya kita akan sering bertemu.”

Salwa menyipitkan matanya. 

“Karena aku akan membuka cabang cafeku di sini.” 

Deg. 

*** 

“Kak, aku ingin masuk pondok,” ucap Haira, lalu memasukkan wafer coklat ke mulutnya. 

Haikal menoleh cepat, keningnya mengerut tajam. Jamilah yang duduk di samping Salman tiba-tiba matanya membesar. Salman yang memeriksa dokumen di ruang tengah  ikut menyimak.

“Aku serius, Kak.” Haira mengubah posisi duduknya, menghadap Haikal. 

Haikal mematikan televisi. “Haira, kamu sehat kan?”

“Huss, tak baik ngomong begitu,” tegur Jamilah. Ia mendekati kedua anaknya. “Benar? Mama senang sekali, jika kamu memang ingin masuk pondok. Mau ke mana? Apa Papa Salman punya rekomendasi?”

Salman menurunkan kacamatanya. “Untuk sementara hanya pondok tempat istriku mengajar yang aku ingat.”

“Istrimu?” Tiba-tiba wajah Jamilah berubah. 

Haira tersenyum mencebik melihat wajah ibunya. “Apaan sih, Mama. Aku sudah memutuskan masuk di pondok mana."

 “Tapi dari mana kamu tahu informasi pondok itu?” tanya Jamilah cemas.

“Ada deh,” jawab Haira cuek. Ia mengambil remote televisi dari tangan Haikal. 

“Tapi sebagai orang tua, kami harus tahu dan melihat langsung pondok itu, sebelum kamu mendaftar ke sana. Kami harus memastikan kamu nyaman di pondok itu.”

“Ada orang yang aku kenal di sana, Ma. Dia baik. Aku juga pernah ke sana. Aku menyukainya, jadi Mama nggak usah khawatir. Selain itu, aku ga mau Mama ke sana.”

Jamilah tersentak dengan ucapan Haira yang terakhir. 

“Berita Mama kawin dengan suami orang sudah tersebar di sekolahku, aku tidak ingin juga menyebar ke pondok. Cukup Kak Haikal yang jadi waliku.”

Jamilah menatap Salman untuk meminta pendapatnya. Salman hanya membalasnya dengan anggukan. 

“Baiklah, jika itu maumu. Meski sedih, Mama menurut saja. Mama percayakan itu pada Haikal. Semoga kamu betah di sana. Almarhum Papa pasti akan senang sekali di sana jika melihat kamu mondok,” ucap Jamilah dengan mata berkaca-kaca. 

Masa kecil Haira masih terbayang di pelupuk matanya, tanpa terasa sekarang sudah besar. 

“Iya, Ma. In sya Allah.”

Jamilah mengangguk. Ia beralih menatap Salman. “Kehadiran kamu suatu keberkahan buat kami, Pa. Baru beberapa hari kamu menghidupkan ta’lim di rumah, sudah bisa menjadi inspirasi buat Haira.” 

“Apaan sih, Ma!” Tiba-tiba Haira berdiri. “Mama selalu membuat mood Haira buruk deh,” seru Haira lalu masuk ke kamar. 

Jamilah bertanya pada putranya dengan isyarat. 

“Maksud dia, dia ingin masuk pondok karena kemauannya sendiri atau orang lain, bukan karena Mama dan suami Mama.”


***

Terima kasih telah menemukan cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak like atau komentar. 

Di cerita sosok Aditya sempat dikisahkan di novel Rumah Asa(Setelah Kau Pergi). Aditya bosnya Anita waktu bekerja di cafe. Sebelumnya Anita bekerja pada kakaknya Aditya, Lidya. 

Yuk tengok cerita Setelah Kau Pergi. Untuk lebih mengenal siapa Aditya. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.