Langsung ke konten utama

Hakikat Cinta Part 9

 Hakikat Cinta Part 9 Kepercayaan yang Retak



Kepercayaan bagai bola kaca. Kebeningannya akan memantulkan sesuatu yang indah. Sekali kau lemparkan, bola akan retak dan akan memantulkan sesuatu yang buruk. 

🌸🌸🌸


“Apaan sih, Ma!” Tiba-tiba Haira berdiri. “Mama selalu membuat mood Haira buruk deh,” seru Haira lalu masuk ke kamar. 

Jamilah bertanya pada putranya dengan isyarat. 

“Maksud dia, dia ingin masuk pondok karena kemauannya sendiri atau orang lain, bukan karena Mama dan suami Mama.”

*** 


Mobil Salman memasuki halaman Gayatri Cake. Sejenak ia menatap bangunan Gayatri Cake yang terlihat megah. Puluhan mobil terparkir di halaman. Dari luar terlihat roti dan cake yang tersusun rapi. Puluhan pelanggan keluar masuk pintu bangunan toko kue itu. Di samping bangunan tersambung rooftop cafe. Di sana ia melihat seorang laki-laki melambaikan tangan padanya. Salman menaiki tangga meliuk hingga sampai ke atas. Ia mendekati laki-laki yang melambaikan tangan kepadanya.

Salman mengucapkan salam kepada laki-laki itu beserta perempuan dan seorang anak kecil yang duduk di pangkuannya. Salman mengira itu istri dan anak dari laki-laki itu. 

 “Silakan duduk,” ucap laki-laki setelah menjawab salam. 

“Terima kasih, Pak Bayu.” Salman duduk di kursi yang berhadapan dengan laki-laki yang ia panggil Pak Bayu.

“Izza, kita pergi dulu. Papa ada tamu,” ucap istri laki-laki sambil mengulurkan ke balita di pangkuan suaminya. 

“Papa!” oceh Izza. 

“Iya, nanti kita balik lagi ke sini kalau urusan Papa sudah selesai,” ucap ibunya Izza. 

“Kalau begitu kita cium dulu,” ucap Bayu sambil berdiri lalu mencium kedua pipi putrinya. “Nit, minta sama karyawan untuk …."

Anita mengangguk. 

“Ga usah, Pak. Ga perlu repot-repot,” sela Salman seakan mengerti apa yang mau diucapkan Bayu.

“Tidak repot, Pak. Cuma tinggal ngomong doang sama karyawan,” sahut Bayu sambil duduk. 

“Hallo, Izza!” 

Spontan Salman dan Bayu menoleh ke arah suara. 

“Bos,” sapa Anita. 

“Kau tidak berubah, Nit. Aku bukan bosmu lagi.” Laki-laki itu mencium pipi balita dalam gendongan Anita. 

“Apa boleh buat, aku lebih suka memanggilmu begitu.”

Laki-laki itu meringis. “Kau merendahkan status suamimu.”

“Dit,” panggil Bayu. 

Aditya langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Bayu. Seketika mata Aditya membesar melihat Salman yang duduk berhadapan dengan Bayu. Ia mendekati keduanya. 

“Salman?!”

“Aditya.”

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Bayu.

“Dia tetangga istriku di kampung,” jawab Salman. Bayu mengerutkan kening melihat wajah Aditya yang tidak bersahabat. 

Aditya duduk di samping Bayu. “Aku dengan istrinya berteman sejak kecil.”

“Kebetulan sekali, ya. Oh iya, Dit. Dia pemilik bangunan yang akan kau sewa untuk cafemu itu.”

“Apa?” Aditya terlonjak. 

“Iya, kebetulan sekali kan?” ulang Bayu. 

“Kalau begitu aku membatalkan kerjasama ini,” seru Aditya. 

Salman terkejut, Bayu menunjukkan reaksi yang tak kalah darinya. 

“Kenapa?” tanya Bayu. 

“Aku cuma tidak berminat bekerjasama dengannya,” sahut Aditya santai. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa. 

“Dit, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Salman. “Apa aku punya salah padamu?”

Aditya membuka mulutnya, tetapi urung mengucapkan. Ia teringat ucapan Salwa kalau Salman belum tahu hubungan mereka di masa lalu. Ia mengembuskan napas kasar. 

“Salman, aku tidak tahu apakah Salwa pernah cerita padamu. Asal kamu tahu, kami tumbuh bersama sampai akhirnya tempat kuliah memisahkan kami. Bagiku dia sudah seperti saudara sendiri. Sekarang aku bertanya padamu, bagaimana rasanya jika saudaranya diduakan?”

Salman tertegun. “Itu urusan dalam rumah tangga kami, tidak seharusnya itu memengaruhimu. Terlebih lagi, kamu bukan saudara kandung Salwa. Tidak seharusnya kamu memiliki perasaan seperti itu.”

“Kau—“

“Dit,” potong Bayu. “Aku mengerti perasaanmu sebagai sahabat Salwa, tapi ini bisnis. Jangan libatkan perasaan dengan bisnis!” 

“Jangan libatkan perasaan kamu bilang?! Kamu melihat sendiri bagaimana hancurnya Anita diduakan?”

Bayu mengangguk. 

“Meski aku tidak melihatnya secara langsung saat laki-laki berengsek ini menikah lagi,” tunjuk Aditya pada Salman. “Setidaknya aku telah melihat banyak berubah pada dirinya.”

Salman tertegun. Sampai sekarang pun ia masih merasa bersalah pada Salwa, tetapi semuanya telah terlanjur dan ia melakukan bukan berdasarkan atas nafsu. 

“Lain kali, kalau mau menikah, belah dirimu. Satu untuk bermesraan dengan satu istri baru, satunya untuk melihatnya bagaimana hancurnya perasaan istrimu yang satunya.”

“Sudahlah, Dit. Jangan ngaur gitu.” sela Bayu. “Begini saja, Pak. Untuk hari ini obrolan kita sampai di sini dulu. Karena lokasi dan luasnya cocok untuk dijadikan cafe, jadi saya tidak masalah. Akan kami bicarakan lagi, jadi Bapak tunggu saja kabar dari kami.”

Salman menyatakan kesediaannya dengan anggukan. 

“Aku tidak akan menarik ucapanku. Aku tidak akan bekerjasama dengannya,” tukas Aditya. 

“Aku tidak memaksamu. Aku tidak akan minta maaf padamu, karena itu adalah urusan keluarga kami. Asal kamu tahu, satu pintu dari bangunan itu sudah milik Salwa.”

Aditya terlonjak. Ia meluruskan badannya ke arah Salman. Keningnya mengerut tajam. “Bukankah itu gedung warisan dari orang tuamu?"

“Memang benar. Tapi aku telah memberikan padanya. Sekarang lagi proses pengalihan nama.”

Wajah Aditya sedikit mulai melentur, tetapi tetap saja ia sangat malas harus bekerjasama dengan suami mantannya. 

“Kalau memang tidak ada yang dibicarakan lagi, aku duluan.Terima kasih, Pak Bayu. Senang bertemu dengan Bapak,” ucap Salman sambil mengulurkan tangannya ke arah Bayu.  

“Sama-sama,” jawab Bayu. “Semoga kita berjodoh, Pak.”

Sayangnya, Bayu tidak mendengar ucapan amin dari Salman.  

Tak lama Salman telah hilang dari pandangan mereka. Berselisih dengan karyawan yang mengantarkan minuman untuk mereka. 

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kau punya perasaan terhadap istrinya?” tanya Bayu sambil menggeser gelas minuman yang diletakkan karyawan.

“Tepatnya mantan,” sahut Aditya dengan wajah masih saja suram. 

Bayu tidak memperlihatkan wajah terkejut. Ia meneguk kopi yang masih mengepulkan uap. “Aku mengerti perasaanmu, tapi mencari tempat strategis itu susah lo?!”

Aditya hanya merespon dengan desahan yang keras. “Itu artinya aku masih belum bisa sukses sepertimu?” 

Bayu tertawa. “Tapi andai aku di posisimu akan mengambil sikap yang sama denganmu.” Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Pandangannya beralih ke jalanan. Terlihat beberapa buah mobil terhenti di muka Gayatri Cake. Terbayang di benaknya saat Anita berjalan tanpa alas kaki. Ia melihat jelas jejak-jejak darah di atas kerikil itu. Namun, Anita seperti telah kehilangan indra perasanya. Mengingat hal itu, ia pun tidak ingin memaafkan laki-laki yang telah menyakiti Anita. 

Aditya menghadapkan wajahnya ke arah Bayu. “Itu pun masih sempatnya kamu mau nikah dengan Karin?!”

“Itu lain cerita. Waktu itu pun aku terpaksa karena atas permintaan ibunya. Beruntungnya pernikahan ini akhirnya bubar. Tapi dibanding itu, kita juga tidak tahu bagaimana keluarga dia. Mungkin juga dia melakukan karena terpaksa.”

“Terpaksa bagaimana?”

“Sudahlah! Kita tidak tahu persis bagaimana kehidupan orang lain, jadi kita tidak bisa langsung menjudge.”

“Bagaimana pun aku tidak rela Salwa diduakan,” gerutu Aditya. 

Bayu hanya menanggapi dengan senyuman. “Jadi kamu belum bisa move on dari Salwa?” 

Adtya mendesah keras. “Tadinya aku berusaha move on, tapi ... mendengar berita Salwa, betapa aku ingin merengkuhnya kembali.”

“Kalau begitu, kita cari tempat lain saja.”

Aditya membelalak, tapi Bayu sudah tak menghiraukannya. Bayu langsung menyambut Izza di gendongan Anita yang baru saja datang. Aditya berdecak, melihat Bayu yang tidak segan-segan mencium Anita di depannya. 


*** 


“Tadi aku bertemu dengan Aditya.” 

Gerakan Salwa terhenti. Ia kembali melepaskan kancing kemeja Salman begitu menyadari tatapan selidik dari suaminya. "Lalu?”

“Sepertinya perjanjian kerjasamanya batal.”

Salwa mengerutkan kening. “Memang apa hubungannya dengan dia?”

“Dia calon penyewa yang rencana mau buka cafe itu.”

Salwa terkejut. Ia teringat waktu di taman Aditya pernah bilang akan membuka cabang cafenya di sini. Ia tidak menyangka akan menyewa bangunan yang dimiliki Salman. Ia berlalu ke dapur, memasukkan pakaian kotor Salman ke keranjang. 

“Memangnya kenapa dia membatalkannya. Bukannya kita bertetangga, seharusnya bagus dong untuk menyambung tali kekerabatan.”

“Seharusnya begitu. Tapi dia memiliki pandangan lain. Dia marah karena aku memadumu.”

Lagi-lagi Salman membuatnya terkejut. Salman mendekatinya. Ia merasakan tubuhnya menciut. “Sebenarnya apa hubunganmu dengannya di masa lalu?”

“Mengapa kamu menatapku seperti itu? Kamu menuduhku?”

Salman menghempaskan napasnya. “Selama ini, sedikitpun tidak terbersit mencurigaimu. Tapi melihat sikap dia, sepertinya kepercayaan itu mulai retak.”

Salwa mengambil handuk yang tergantung di dinding lalu menyerahkannya pada Salman. “Aku tidak akan membela diri, meski tuduhanmu sangat menyakitkan. Ada baiknya kita tidak terlalu percaya pada pasangan. Seperti yang terjadi padaku, karena aku terlalu percaya padamu, akhirnya kau lihat nasib apa yang telah menimpaku.” 

Salman terkesiap. Ia maju beberapa langkah. “Maaf, aku tidak bermaksud—“

Salwa mundur. “Sudahlah, terlambat bagi kita membicarakan kepercayaan. Bahkan sekarang, aku tidak percaya lagi pada diriku. Apa yang kulakukan saat ini, jangan-jangan bukan karena keikhlasan, tapi ketidakpedulian. Aku telah mati rasa."






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.