"Kalau begitu kami harus keluar. Ustadz Hans, mungkin sebentar lagi akan datang," ucapku sambil berdiri. Kini tenagaku sedikit mulai pulih.
"Tunggu dulu. Tadi Hans nelpon, katanya Abdurrahman ingin bertemu denganmu."
Seketika aku terkesiap.
"Kalau begitu kami keluar duluan, Silmi," seru Syifa.
"Eh tunggu dulu!" Aku segera meraih tangan Syifa. "Jangan tinggalkan aku. Aku telah berjanji akan tidur di sini."
"Anti kan bisa ke gedung sebelah kalau sudah," elak Syifa.
"Tak apa, Syifa. Anti temani saja Silmi, Cahya juga," ucap Aisyah.
Cahya dan Syifa saling bersitatap heran. Aku pun tidak mengerti jalan pikir Aisyah. Bagaimana mungkin ia membiarkan Syifa dan Cahya bertemu Zaid? Laki-laki bukan mahram mereka.
Aisyah sibuk memainkan ponselnya. Sepertinya pesan baru terus saja ke ponselnya. Bibirnya tak berhenti tersenyum.
"Hans ... maksudku Ustadz Abdurrahman sudah ada di luar. Anti temui lah. Syifa dan Cahya temani Silmi."
Aku heran dengan titah Aisyah, mengapa Syifa dan Cahya harus menemaniku. Tetapi, memang aku sangat membutuhkan mereka. Tiba-tiba aku dikuasai gugup. Keberadaan mereka tentu akan sangat membantu.
Aku menarik tangan kedua temanku. "Temani aku. Aku hanya bertemu dengannya sebentar."
"Tapi ... ."

Komentar
Posting Komentar