Di Bangkau.
Seorang pemuda berkulit putih memasuki halaman rumah Tera yang berbentuk jembatan. Bangkau wilayah rawa. Rata-rata rumah panggung dengan halaman berupa jembatan dari papan.
“Assalamu ‘alaikum.”
“Wa alaikum salam. Elang?! Kamu pulang? Kok tiba-tiba pulang? Ada apa?” cecar Kembang panik.
"Kak Tera mana?" tanya Elang sambil masuk rumah dengan menenteng ranselnya.
“Datang-datang langsung nanyain Tera? Tanyain ibu dulu kek,” protes Kembang.
“Kak Tera mana?” ulang Elang dengan suara meninggi.
“Dia sedang pergi,” kilah kembang.
“Ke mana?”
“Mana kutau. Dia kan sudah besar. Masa harus minta izin dulu padaku,” jawab Kembang sambil berlalu ke dapur.
Elang Diam. Menatap tajam kakaknya yang sedang menuang air minum ke dalam gelas.
“Nih, minum dulu!” Kembang menyerahkan gelas itu pada Elang. “Jauh-jauh perjalanan, bukannya istirahat dulu, malah nanyain Kak Tera.”
Elang mengambilnya minuman itu.
“Ibu mana?” tanya Elang setelah menandaskan minumannya.
“Ibu ke padang¹ maringgi²," jawab Kembang yang duduk di seberang Elang.
“Ibu maringgi? Sejak kapan Ibu maringgi lagi? Bukannya sudah lama ibu tidak maringgi lagi?” cecar Elang.
“Tau tuh Ibu. Dia kan paling nggak betah kalau nganggur.”
“Nganggur? Bukannya selalu ada pekerjaan di Teratai?”
Kembang mengedikkan bahu, lalu berdiri. “Istirahat dah sana! Nanti kita ngobrol lagi!”
Elang menghela napas. Ia tahu ada yang disembunyikan Kembang darinya.
***
Seperti biasa, Sanad selalu memeriksa putranya menjelang tidur. Hayati bergegas mengambil ponsel Sanad, begitu laki-laki itu telah keluar kamar. Tak perlu lama membuka ponsel itu, karena Sanad memang mempercayainya. Ia membuka aplikasi pesan berwarna hijau. Tidak ada terlihat pesan yang mencurigakan. Napasnya tertahan ketika ia membuka galeri foto. Beberapa foto Tera bersama Evan, Dari posisi pengambilan, Hayati tahu foto itu diambil tanpa sepengetahuan sang pemilik.
***
Evan dan Tera sudah tertidur saat Sanad memasuki kamar evan. Lagi-lagi dengan posisi yang sama. Ia merapikan selimut yang menutupi keduanya, lalu mencium pelipis Evan.
“Belum tidur?” tanyanya ketika melihat mata Evan terbuka.
Evan menggeleng. Ia menggeser tangan Tera yang memeluk tubuh kecilnya, lalu duduk.
Sanad merapikan bilahan rambut yang menutupi dahi putranya. “Seberapa sayang Evan sama Mama?”
Ia tahu betul, bagaimana perasaan putranya terhadap Tera, tetapi ia ingin mendengar langsung dari mulut putranya. Kebahagiaan Evan sumber kebahagiaannya.
Evan mengambil kertas. [Sangat sayang]
Sanad tersenyum lebar. “Jika Evan sangat menyayanginya. Berilah dia kebebasan, misalnya tidur. Berilah dia ruang sendiri, untuk melakukan hal apapun yang mungkin tidak ingin kita ketahui.”
Evan memicingkan matanya.
Sanad memiringkan kepalanya seakan berpikir keras. “Seperti ….”
[Menangis?]
Sanad terkekeh melihat tulisan putranya. “Benar. Mama kan juga bisa sedih kaya kita, pasti malu dilihat orang lain,” ucap Sanad setengah berbisik, seakan takut orang yang diomongin terbangun.
[Mama kenapa menangis?]
Sanad terdiam. Tidak tahu harus bilang apa supaya dimengerti oleh Evan. “Entahlah. Mungkin dia rindu keluarganya.”
Evan mengernyit.
“Eh, kenapa Evan suka sekali meletakkan pipi di telapak tangan Mama?” Sanad mengalihkan perhatian.
Evan mengeluarkan tangan Tera yang tersembunyi di balik selimut. Ia membaui tangan itu dengan suka cita. Sanad mengerutkan kening melihatnya.
“Ada apa dengan tangan Mama?”
Evan mengangkat tangan Tera ke arah Sanad. Dengan heran Sanad mau mengikuti gerakan putranya. Membaui telapak tangan Tera.
"Tidak ada yang berbeda. Sama seperti tangan umumnya." Ia meletakkan tangan Tera ke atas selimut. Tiba-tiba tatapan tertuju pada kulit tangan Tera yang penuh luka di sana sini. Ia membalik tangan Tera, mencermati bagian bawah yang tidak jauh beda dengan bagian atas. Ia teringat salaman pertama, tangan Tera yang sangat kasar. Rasa iba kembali menyelimuti perasaannya. Bagaimana mungkin gadis seusia Tera sudah melewati hidup sekeras itu? Demi keluarga, lalu dibuang.
Evan kembali menyerahkan kertas kepadanya. [Sebentar lagi mama ulang tahun]
“Oh ya? Evan mau kasih hadiah apa sama Mama?”
Evan menggeleng.
“Ya sudah. Masih ada waktu. Untuk sementara, Evan setuju kan, kita bikin sebuah kamar untuk Mama?”
Evan mengangguk. [Tapi kamarnya harus dekat dengan kamar Evan. Mama tidak boleh tidur di kamar belakang.]
“Iya. Papa akan pikirkan itu. Sekarang Evan tidur dulu! Tidak perlu dibacakan dongeng kan?”
Evan mengangguk, lalu memasukkan dirinya ke dalam pelukan Tera. Sanad tersenyum melihat tingkahnya.
“Selamat malam." Evan hanya bisa mengucapkan dengan mimik wajah.
"Selamat malam," sahut Sanad, lalu menghadiah sebuah ciuman di pipi Evan.
***
“Kakakmu tertangkap basah merayu Arbain?” beber Bastiah, saat mereka berkumpul di ruang tengah, depan televisi.
Elang tersentak. Ia mengalihkan pandangan ke arah Kembang, Kembang membalasnya dengan anggukan. Ia beralih ke arah Arbain, iparnya itu melakukan hal sama.
“Dan Ibu percaya itu?” tanya Elang.

Komentar
Posting Komentar