Lilac meringis. “Melibatkan orang perusahaan? Jangan deh. Aku cerita sama Kakak, cuma ingin sedikit lebih tenang. Sekalian juga numpang print dan minta meterai. Meski belum tau langkah apa yang akan diambil.”
Teratai ikut menyandarkan punggungnya ke dinding kantor Teratai Kedua. Sesaat hening, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Terdengar jelas celoteh Qarni dan Tasnim. Namun, tiba-tiba Lilac tersentak ketika mendengar pekikan Teratai.
“Kakak bikin kaget saja,” gerutu Lilac.
Teratai tertawa kecil. “Aku baru ingat, bagaimana kalau kita minta bantuan Arsa. Kerjaannya kan memang di depan laptop, jadi tak masalah jika kita minta bantuan dia.”
Lilac menghela napas. “Tetap saja aku nggak enak hati. Aku memang pernah lihat Kak Arsa, tapi tidak begitu kenal.”
“Tidak apa, dia pasti bantu kok. Orangnya humble. Bentar.” Teratai berdiri, mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Sambil menunggu jawaban Arsa, ia duduk di kursi, sedang Lilac masih duduk di lantai sambil menatap cemas dan harap.
“Assalamu ‘alaikum.”
Seketika Lilac meluruskan duduknya saat mendengar salam Arsa di telepon.
“Wa ‘alaikum salam. Arsa, aku perlu bantuanmu.”
“To the point banget. Nanya kabar kek!”
Lilac menyetujui dengan anggukan.
“Bukannya selalu ada obrolan di wag?” sahut Teratai.
Arsa berdecak. “Aku jadi nggak bisa bedakan, kamu itu sepupu apa ipar?”

Komentar
Posting Komentar