Bakhtiar meletakkan ponselnya. "Iya, kalau ada uangnya."
"Hah? Lalu yang kemarin katanya nabung duitnya ke mana?"
"Ibu perlu duit, jadi aku berikan padanya."
Lilac melongo. "Lalu bagaimana dengan sekolah Qarni?”
"Kau mau aku durhaka pada wanita yang telah melahirkanku?! Ingat, rida Allah terletak pada rida ib …."
"Aku tau itu," potong Lilac. "Siapa yang menyuruhmu durhaka pada ibu? Aku cuma bertanya sekolah Qarni gimana?"
Bakhtiar menghempaskan napasnya. "Untuk sementara aku tidak punya uang. Lagi pula masih TK kan? Nggak papa nggak sekolah."
Mata Lilac makin membesar.
"Lagi pula sekolah tk cuma belajar Abcd kan? Berhitung sampai sepuluh. Kamu juga bisa mengajarinya."
"Nggak hanya itu. Ada juga belajar iqra dan menghafal surat-surat pendek. Abi mau mengajarinya?"
"Kenapa harus aku? Kamu tau aku sibuk dan jarang di rumah." Bakhtiar kembali mengambil ponselnya. "Kau saja ajari. Hafalanmu masih utuh kan?"
Lilac mengangguk gamang. Kalimat ujungnya sungguh menyayat hati.
Seumur-umur Bakhtiar tidak pernah bertanya bagaimana kondisi hafalannya. Tidakkah laki-laki itu juga melihat bagaimana sibuk dirinya sebagai ibu rumah tangga? Dari bangun tidur sampai tidur kembali kadang tidak ada jeda. Memang kadang, saat menemani Qarni terlihat nganggur, tidakkah berpikir bagaimana bisa konsentrasi mengulang hafalan sambil menjaga balita aktif?

Komentar
Posting Komentar