Papa? Tera menyebut Sanad juga Papa? Hayati merasakan dadanya berdenyut nyeri. Andai ia tidak melihat foto itu, mungkin ia tidak perlu merasakan sakit seperti ini.
"Mama rasa sebentar lagi Papa akan datang. Mama keluar sebentar, ya."
Evan mengangguk.
"Anak pintar." Tera mencium pipi Evan.
Papa? Mama? Hayati menyentuh dadanya yang kembali terasa nyeri.
***
Hayati membawa Tera ke sebuah kursi di taman depan. Temaram lampu membuat suasana taman terlihat sedikit menyedihkan di mata Tera. Indahnya tanaman, bunga-bunga, rumput yang dipangkas rapi, bahkan satu set kursi taman tidaklah membuat lebih berarti jika hanya dijadikan pajangan. Indah, tetapi kesepian.
Tera teringat saat-saat ia mengisi malam bersama Rudi. Menatap bintang di teras dengan bangku seadanya, dilengkapi nyamuk yang tidak pernah absen untuk mengganggu, di sana ia sering mengukir mimpi-mimpinya. Waktu itu terasa biasa saja, tapi sekarang momen itu menjadi sangat berarti dan tiba-tiba ia merindukannya. Mungkin suatu saat ia akan mengajak Evan menikmati indahnya malam.
“Aku menikah dengan Sanad hampir dua tahun.” Hayati membuka suaranya. “Tapi sampai sekarang, belum bisa mendapatkan hati anaknya.”
Tera menaruh perhatian.
“Sebagai seorang istri, aku gagal menjadi ibu sambung yang baik buat anak suamiku. Kamu pasti bisa membayangkan, apalah artinya keharmonisan rumah tangga kami tanpa adanya Evan di setiap kebersamaan kami.”
Tera hanya mengangkat kedua alis, lalu memainkan bibir. Keharmonisan? Mungkin. Namun, ia tidak melihat adanya kehangatan dalam rumah tangga Sanad dan Hayati. Mengingat Sanad, bagaimana mungkin laki-laki arogan itu bisa menciptakan keluarga hangat. Harmonis mungkin iya, tanpa hambar. Ia salut pada Hayati, bagaimana perempuan ini sanggup membersamai orang seperti Sanad?
“Sejujurnya, aku minta saran darimu bagaimana supaya aku bisa mengambil hati Evan. Aku ingin menjadi ibu sambung yang baik buatnya,” ucap Hayati.
Tera menghela napasnya pelan-pelan. “Bagaimana caranya mendapatkan hati Evan, aku tidak tahu. Karena sejauh ini, tidak terpikir untuk meraih hati Evan.”
“Tapi Evan menyukaimu.”
“Aku tidak tahu kenapa Evan menyukaiku. Mbak tahu, dia langsung memanggilku mama saat aku baru siuman. Aku tidak tahu mengapa itu terjadi.”
Hayati mengangguk. “Iya, aku tahu itu. Namun, Evan terlihat sangat bahagia saat bersamamu.” Hayati menunduk sedih. “Dibanding aku sebagai ibu sambungnya.”
“Itu aku juga tidak tahu. Selama ini, aku hanya berusaha berbuat yang terbaik untuk dia. Itu saja. Tidak terpikir di benakku, bagaimana supaya Evan menyukaiku. Jadi … soal ini, aku minta maaf, aku tidak bisa membantu Mbak. Sungguh, aku tidak tahu mengapa Evan menyukaiku.”
“Setidaknya kamu tahu apa saja kesukaan Evan. Beritahu aku!”
Tera melongo. “Mbak lebih dulu serumah dengan dia, tentu Mbak lebih tahu apa kesukaan dia dibanding aku.”
Hayati tergagap.

Komentar
Posting Komentar