Mungkinkah Ada Sindikat di Belakangnya
(Dituntut Jadi Istri yang Sempurna part 8)
Bersama Teratai, ia mengurus pendaftaran Qarni. Tak lupa mengambil beberapa foto untuk dijadikan sebagai bukti kepada pembeli blognya. Sesaat ia menengadahkan kepala, menatap tulisan di gerbang sekolah yang akan menjadi tempat belajar dan bermain putranya nanti.
“Kenapa?” tanya Teratai akhirnya karena cukup lama ia memperhatikan Lilac menatap gerbang sekolah Evan dulu.
Lilac menghela napasnya. “Aku masih tidak percaya, Kak. Kemarin aku putus asa tak bisa menyekolahkan Qarni meski di kampung sendiri. Tiba-tiba hari ini berdiri di depan gerbang sekolah mewah. Tempat Evan sekolah dulu. Sampai sekarang, aku takut ini hanya mimpi. Au," jerit Lilac sambil mengucap pipinya.
Teratai tertawa melihat wajah kesal Lilac. “Kalau sakit berarti bukan mimpi.” Teratai ikut memandang huruf besar di gerbang. “Hidup ini memang penuh dengan lika-liku, tetapi percayalah, kadang kejutan tersimpan di antara kepasrahan dan keikhlasan.”
Tanpa sadar Teratai pun tersenyum, mengingat saat ia menemani seorang bocah tak bisa bersuara yang sekarang menjadi anak tirinya, Evan.
“Sekarang kita mau ke mana?” tanya Teratai.
Lilac memperhatikan pipi keponakannya yang memerah. “Kakak, bisa balik ke kafe. Masih ada uang sisa, jadi ingin membeli beberapa pakaian buat Qarni dan peralatan sekolah lainnya, juga servis motor.”
“Kalau begitu, kita pergi sama-sama saja. Antar motormu dulu ke tukang servis, lalu kita pergi bersama.”
“Tapi kasihan Tasnim, lihat pipinya memerah begitu.”
Teratai tersenyum, lalu mengangkat putrinya. “Tak apa, dia senang kok jalan-jalan. Kalaupun pipinya ini, kulitnya memang agak sensitif, tapi tak apa.”
“Memang beda ya dengan anak bangsawan.”
“Ngomong apa sih?”

Komentar
Posting Komentar