Saat keluar dari kamar mandi Sanad mendapati istrinya sudah berada dalam kamar dengan keadaan terlihat sangat capek.
"Kamu dari mana?" tanya Sanad sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk.
"Tak perlu kamu tau," jawab Hayati sambil berlalu hendak ke kamar mandi.
Sanad menyambar lengan Hayati. "Tak perlu aku tau? Hayati, kamu istriku."
"Istri?" ulang Hayati dengan nada mengejek. "Lalu malam tadi kamu membawa seorang gadis, apakah kamu tidak berpikir bagaimana perasaanku sebagai istri?"
Sanad tergagap. "Apa maksudmu? Maksudmu Tera? Malam tadi? Itu hanya itu bentuk ungkapan terima kasih atas usahanya untuk Evan."
"Usahanya?" Hayati tertawa sumbang. "Dengan mengajaknya jauh-jauh sampai ke Tangkisung? Yang benar saja? Padahal dia hanya beberapa bulan di sini. Bagaimana denganku? Aku membersamaimu sekian tahun, tapi apa yang kudapatkan?"
"Aku makin tidak mengerti. Bukankah aku selalu berusaha bersikap baik padamu? Soal ulang tahun, bukankah aku selalu memenuhi keinginanmu?! Bahkan terakhir kamu mau ke Korea, juga aku penuhi. Kenapa kamu bandingkan dengan dia yang hanya ke Tangkisung? Yang perjalanannya hanya beberapa jam pakai mobil."
"Tapi itu semua atas permintaanku 'kan? Kamu tidak pernah berinisiatif melakukan itu untukku."
Sanad membuka mulutnya, tetapi kembali menutup. Ia mendesah keras. Terlalu melelahkan jika bertengkar sekarang. "Kupikir dengan memenuhi semua keinginanmu, itu sudah lebih dari cukup."
Hayati mengerang frustasi. "Bukan itu maksudku. Kamu tidak pernah membuka hatimu untukku. Padahal sekian tahun aku membersamaimu. Sedangkan Tera, dia cuma beberapa bulan, kamu sudah menguras tenaga dan pikiran untuk membuatnya bahagia. Sedangkan aku? Pernahkah kau berpikir untuk membuatku bahagia?"

Komentar
Posting Komentar