Seorang perempuan mengenakan lingerie merah langsung turun dengan wajah semringah begitu mendengar ketukan pintu. Sebelum membuka pintu, terlebih dahulu memastikan pakaian yang ia kenakan sempurna.
"Lama sekali?!" ucapnya dengan wajah merajuk.
Sang kekasih menoleh ke kiri dan kanan, lalu masuk dan langsung menutup pintu. Laki-laki itu langsung meluncur ke dalam, menuang segelas air yang berada di atas nakas lalu menandaskan dengan sekali teguk.
Perempuan cantik yang bernama Emelly itu menatap keheranan. "Ada apa?"
Laki-laki itu menghempaskan napasnya. "Ada yang mengikutiku. Jadi aku kesulitan masuk ke sini."
Emelly tertawa kecil. "Ya ampun, Adii. Aku kira apaan. Kaya dikejar hantu saja," ucapnya sambil duduk di samping sang pria dan bergelayut manja.
Adi menatap heran. "Kamu tidak takut ketahuan suamimu?"
Emelly melepaskan pelukannya. "Dia bukan pria bodoh. Jika memang ada yang mengikutimu, berarti dia memang sudah curiga."
"Kenapa kamu masih bersikap tenang begini? Kamu tidak takut ditendang? Jangan lupa, aku masih banyak cicilan."
Emelly tersenyum. "Dia anak broken home. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi pada putrinya. Lihat saja. Aku tau itu."
"Maksudmu demi putrinya, dia rela menutup mata?" tanya Adi tak percaya.
Emelly mengangguk. "Dia pasti sadar rumah tangga kami tidak akan baik-baik saja, tapi ia akan bertahan demi putrinya."
Adi masih saja belum mengerti sepenuhnya. Mengapa Emelly menganggap Fathan sesantai itu?
Emelly tertawa, lalu kembali bergelayut manja. "Kita nikmati saja kepura-puraan dia, sampai bisnisku telah berdiri kokoh. Saat itu, aku akan melepaskannya."
***
Di lain tempat, seorang perempuan menatap cemas putra kecil yang terbaring lemas. Ia mengambil handuk kecil, lalu mencelupkan ke air dalam baskom, memeras sebentar dan kembali meletakkan ke dahi putranya.
"Mengapa tak kunjung turun?" gumamnya.
Ia bergegas keluar dari kamar begitu mendengar bunyi motor suaminya yang memasuki halaman.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam warahmatullahi," sahutnya sambil menyalami tangan suaminya.
"Bagaimana keadaan Qarni?" tanya suaminya.
"Masih panas. Sudah dua minggu dia sakit. Obat puskesmas tidak mempan. Kita bawa ke dokter, ya. Abi bawa uang 'kan?"

Komentar
Posting Komentar