Evan tersenyum menatap mereka penuh arti. Ia mengambil sendok baru, lalu menyerahkan ke Tera.
"Heh, Evan mau lagi? Kenapa sendok baru lagi?" tanya Tera sambil menyendok cake, lalu menyodorkan ke mulut Evan.
Evan mengatupkan mulutnya, lalu menggeleng.
"Lalu?"
Evan menunjuk Sanad dengan dagunya. Sanad terkejut. Mata Tera membesar.
"Bagaimana kalau Evan yang suapi Papa, ya," bujuk Tera.
Evan menggeleng.
Sesaat Tera menoleh ke arah Keane. Keane langsung mengalihkan pandangannya. Dari sudut bibir, Tera tahu Keane sedang menahan tawa.
Sesaat Sanad menatap putranya yang menunggu tindakannya. Ia beralih ke wajah Tera yang memerah. Sendok terangkat dengan sangat lambat. Ia segera mengambil alih sendok itu, lalu menyodorkan ke mulut Tera. Tera terkesiap.
"Anggaplah ini dari seorang ayah yang sangat berterima kasih atas kehadiranmu. Sebanyak apapun aku memberi materi padamu, tidak akan dapat membalas atas banyaknya perubahan yang terjadi pada Evan. Dengan cake ini, kuharap kita tidak memiliki batasan lagi. Jika kau bersedia, aku akan menjadi sahabat juga saudaramu. Mau kan?"
Mata Tera kembali mengembun.
"Aku tau keberadaanku dengan Evan tidak akan sama dengan keluargamu yang memiliki hubungan darah, setidaknya berilah kesempatan bagi kami untuk melindungi dan memberi perhatian padamu."
Evan menyetujui dengan anggukan. Tera tersenyum lebar. Ia memajukan wajahnya dan menyuap cake itu. Sanad mengembuskan napas lega.
"Terima kasih."
"Aku yang seharusnya sangat berterima kasih mau menerimaku, padahal aku orang asing," sahut Tera.
Sanad tersenyum lebar. "Sudahi ucapan terima kasihnya. Sekarang kita nikmati cakenya."
Evan mengangguk cepat.
Sanad menoleh ke arah Keane. "Keane juga membuat bakar-bakaran dan sepertinya sudah ada yang masak."
Tiba-tiba Tera teringat rantangnya. "Aa ... rantangku di mana?"
"Masih dalam mobil. Aku saja yang ambil," cegah Sanad saat melihat Tera mau berdiri.
"Tapi …."
"Kamu sudah berjanji menganggap kami keluargamu. Malam ini kamu yang ulang tahun, sudah seharusnya kami melayanimu."
Bahu Tera bergerak menahan tawa. Otak nakalnya membayangkan dirinya menjadi seorang putri, Sanad pelayan. Lalu dengan semena-mena ia memarahi Sanad.
"Ini."
Rantang sudah ada di depannya. Sanad sudah duduk di samping Evan.
"Semoga tidak basi," ucap Tera sambil melepaskan tangkai rantang itu.
Terlibat bubur putih dari tepung dan santan yang dikuahi cairan kental gula merah. Ia langsung mengangkat lalu membaui bubur itu
"Alhamdulillah, masih bagus."
Sedang di mangkuk kedua berisi abon. Ia menjumput sedikit, lalu menyuapnya.
"Hmm … abon ikan gabus. Enak. Kalian mau? Cobalah! Buatan Acil Nurul selalu enak."
Sanad langsung menjumput abon itu lalu menyuap. Ia mengangguk. "Benar. Abon ini enak. Cobalah," ucapnya pada Evan sambil mengambil kembali menyuapkan pada Evan.
Tera terperangah. "Kamu bisa makan abon?"
"Memangnya kenapa?" Sanad balik bertanya. Ia kembali menjumput abon itu.
"Aku kira, orang kaya tidak makan kaya beginian."
Sanad terkekeh. "Di rumah memang nyaris tidak ada suguhan seperti ini. Tapi kami punya keluarga di Daha. Mereka sering menyuguhkan abon, tapi nggak seenak ini."
Mulut Tera membulat. Ia meletakkan mangkuk berisi bubur sumsum.
"Karena kalian mau jadi keluarga aku, jadi kalian harus bantu aku menghabiskan ini."
"Bubur sumsum?" tanya Sanad.
Tera mengangguk. "Acil Nurul setiap selalu membuatku ini. Biasanya aku memakannya bersama Rudi."
Sanad merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika nama Rudi muncul di mulut Tera.
"Ayo, kita makan," ajak Tera setengah meletakkan dua tiga sendok. Tiba-tiba Evan menjauhkan dua sendok.
"Evan!" tegur Sanad.
Evan tak menggubris. Ia mengambil sesendok, lalu menyodorkan ke mulut Tera. Tera bertanya dengan isyarat ke Sanad. Sanad menjawabnya dengan anggukan.
Tera menyuapnya. "Hmm …." Kesan kental santan manis gula langsung terasa di mulutnya.
Evan kembali menyendok, lalu menyodorkan ke mulut Sanad.
"Evan itu bekas Mam …." ucapan Tera terhenti, ketika melihat Sanad tanpa ragu menyuapnya.
"Enak," ucap Sanad, sambil menyapu bibirnya dengan jari. Tera meringis menatap Sanad.
Terakhir Evan menyendok untuk dirinya sendiri. Kesan enak langsung terlihat di wajahnya yang lucu. Tera dan Sanad seketika tertawa. Evan kembali menyendok, tetapi segera diambil Tera
"Biar Mama yang lakukan itu." Tera mengambil sesendok lalu menyodorkan ke mulut Sanad.
Keningnya menukik hingga Sanad mau menyuapnya. Begitulah mereka menikmati semangkuk bubur sumsum buatan Acil Nurul. Sesekali Sanad mengambil sendok, sesekali ia pun ia ingin disuapi Evan dan Tera.
Hingga akhirnya aktifitas mereka dipecahkan oleh dering ponsel Sanad. Sanad mengangkat ponselnya, refleks Tera memerhatikan layarnya. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak nyaman.
"Papa mau angkat ponsel dulu. Kalian habiskan saja," ucap Sanad sambil menjauh.
***
"Iya." Sanad memilih tempat lumayan jauh dari Tera dan Evan.
"Kamu di mana? Kok, nggak ada di rumah?" tanya Hayati di seberang.

Komentar
Posting Komentar