Tiba-Tiba Kaya
Lilac membuka gambar yang tersemat. Keningnya mengerut ketika melihat deretan nol di belakang angka dua. Ia menghitung angka nol itu dengan jarinya.
“Satu, dua, tiga, empat, lima.” Mendadak dadanya berdebar karena hitungan angka nolnya belum habis. Matanya membesar. “Enam, tu … juh. Tujuh?!” teriaknya, tetapi segera menutup mulut begitu menyadari Qarni yang terlelap di sampingnya.
Ia kembali menghitung angka nol itu dengan tangan bergetar. Keringat membanjiri tubuhnya. Matanya kembali memburam.
***
Lilac masih saja menatap angka dua puluh juta di layar ponselnya. Sesekali ia mengerjapkan matanya, untuk memastikan penglihatannya tidak salah.
“Masya Allah!” lirihnya berkali-kali. Seumur-umur ia tidak pernah melihat nominal sebanyak itu di rekeningnya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding. Memikirkan apa yang harus ia katakan kepada Bakhtiar? Jika jujur, bagaimana respon Bakhtiar? Mungkinkah ada bangga tersirat di mata laki-laki itu? Jika bangga, berarti Bakhtiar seperti orang umumnya lainnya yang menilai kebanggan dari suksesnya materi. Ia lupa kapan terakhir Bakhtiar memujinya karena hafalan.
Mengingat kata bangga, betapa ia ingin memberitahukan kabar itu kepada mertua dan kakak ipar yang meremehkannya, tapi untuk apa? Jangankan materi, dulu dirinya dulu yang dipuji-puji karena cantik dan hafal Qur’an kini pudarlah sudah.
Lilac memejamkan mata sambil memijat pelipis. Ia bertanya-tanya, mengapa kini jika suami, mertua dan iparnya selalu membuat kepalanya sakit? Mungkinkah ia terlalu muak dengan semuanya? Apakah itu artinya, ia pun telah siap melpaskan rumah tangganya?

Komentar
Posting Komentar