Langsung ke konten utama

Bertemu dengan Teman Lama (Part 3)

 

Diabaikan Kekasih Diam-diam Menikah dengan Pria Kaya

Bertemu dengan Teman Lama (part 3)


POV 3.

***

Key menelan ludahnya begitu mendengar nominal yang disebutkan Nenek Sarah. 

  Ia membaca kolom komentar. 

[Aku sudah mencoba, tapi gagal.  Padahal aku lulusan luar negeri. Entah apa yang diinginkan nenek itu. Songong sekali, padahal cucunya lumpuh begitu]

[Tampan sekali. Sayang lumpuh]

[Iya, tampan sekali. Tapi apa guna, kalau nggak bisa diajak ke tempat umum]

[Jangan-jangan itunya juga lumpuh. Haha]

Key merasa bergidik dengan komentar kejam itu. Tiba-tiba bersyukur, berpisah dengan Neal. Setidaknya ia terbebas dari hujatan netizen maha benar. 

[25 juta perbulan selama setahun, hanya mengurus dia? Aku juga mau. Zaman sekarang susah cari pekerjaan]

[Aku sudah coba, hasilnya gagal. Entah salahnya di mana, padahal aku sudah memberikan jawaban yang baik-baik]

Key terus menscroll kolom komentar yang kebanyakan berisi kegagalan. 

“Nenek sama cucu sama saja. Pemilih. Sebenarnya kriteria seperti apa yang diinginkan Nenek Sarah? 25 juta perbulan?” lirihnya. Tiba-tiba saja ia terseret penasaran. 


Key iseng mengirim cv miliknya pada akun Nenek Sarah. 

Key terkekeh setelah melihat pesannya berhasil terkirim. “Apa yang kau lakukan, Key? Serius kau mencari jodoh dengan cara begini? Kau lupa Jev tak suka cewek matre?” omelnya pada diri sendiri. 

“Key, mengapa kamu sebodoh ini?!” teriaknya, kemudian terdengar ketukan dinding dari sebelah. Ia segera menyembunyikan wajahnya di balik bantal karena rasanya tak puas berteriak. “Sudahlah. Bukankah nenek itu merekam diam-diam, jadi kemungkinan Jev juga tidak tahu tindakan neneknya. Anggap saja aku menghilangkan kesia-siaan cv itu.” 

Ia tersenyum ketika mengingat fakta ini. Ia menulis cv itu saat masih kuliah. Nyatanya cv itu tidak pernah Key kirim ke mana-mana karena ia memutuskan sebagai kreator demi fokus mendukung karir Neal. 

Ia kembali berdoa semoga Jev tidak membaca cvnya. 

Mata Key membesar melihat tombol warna merah ikon surat. 

“Secepat ini?” gumamnya sambil mengklik pesan itu. 

[Hallo, Nak Key. Sebutkan alasanmu ingin menjadi istri cucu kami.]

Tiba-tiba Key merasa interview kerja. Tak dapat disanggah, komunikasi dengan teks kadang seseorang membacanya dengan nada dan spekulasi sendiri. Seperti sekarang ia merasa interview kerja, padahal mungkin saja Nenek Sarah balasnya sambil rebahan. 

{Sejujurnya aku membaca komentar di vt Nenek. Katanya banyak yang melamar, tapi selalu ditolak. Aku jadi penasaran, kriteria seperti apa yang diinginkan Nenek.]

Key jeda sejenak. Ia perlu waktu untuk mencerna situasinya. Memang terlalu ceroboh, tetapi Javi bukan pria jahat, tentu sayang dibuang kesempatan ini. Bukankah ia ingin pria kaya?

Key menghapus dan mengetik ulang. 

[Pertama, tergiur yang dijanjikan Nenek. Kedua, Javi kakak kelasku waktu di SMA, dia cowok baik. Tidak akan rugi kalau aku berdampingan dengannya.] 

Tak lama muncul lagi sebuah pesan.

[Bukankah alasan pertamamu, memperlihatkan  kau terlihat materi?]

Key segera membalas. 

[Soal alasan pertama, itu memang benar, tapi aku juga tak ingin membuang kesempatan. Dan aku percaya diriku bertanggung jawab dan memiliki komitmen tinggi.]

Key terdiam menatap layar ponsel. Tidak ada lagi balasan. 

Ia merebahkan diri ke atas kasur. Ia yakin Nenek  Sarah tidak membalas lagi. Kalaupun membalas paling info kalau ia tidak lulus. 

Ia kembali membuka aplikasi editor dan kembali mendesain. Tak lama masuk sebuah notif dari aplikasi hitam. 

[Baik. Cukup kau kirim nomor rekeningmu]

{Maksudnya?}

[Kirim saja]

Akhirnya Key mengirim saja nomor rekeningnya, meski tidak tahu apa maksud Nenek Sarah. 

Kling. 

Ia mengerutkan kening. Masuk satu notif dari aplikasi bank. Matanya membesar, begitu melihat nominal yang masuk ke rekeningnya. Ia bergegas mengirim chat pada Nenek Sarah.

{Ada uang masuk ke rekeningku. Itu dari Nenek? Nenek salah kirim? Minta nomor rekening Nenek, akan saya kembalikan.}

[Kau diterima jadi calon istri cucu Nenek. Itu separuh maharmu. Sisanya beritahu alamat orang tuamu, supaya kami bisa langsung datang pada orang tuamu]

Mata Key masih saja membesar, seakan lupa berkedip. 

Kling. 

Key tersentak. Bunyi sebuah pesan-pesan tiba-tiba terasa horor baginya. 

[Kamu di mana? Mari bertemu. Javi]

“Jev?” Tiba-tiba saja dadanya berdebar hebat. Ia merasa seperti maling tertangkap basah. 

Tiba-tiba layar ponselnya berubah jadi panggilan. Spontan ia langsung mematikan panggilan dan melepaskannya. Dengan bergetar mengambil ponsel itu dan  ia mengetik pesan. 

[Baik. Kita ketemu di mana?]

[Katakan kamu di mana. Aku akan menemuimu]

Key menghela napas. Dari dulu ia tahu pria itu tak suka dibantah. Ia segera membalas pesan dengan memberitahu alamat kosnya. 

[Tunggu sekitar 15 menit]

[Baik]

Key kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil menghela napas. 

“Key, apa yang terjadi?” 

Key masih tidak percaya apa yang terjadi ini nyata. Ia memejamkan mata. Lelah benar-benar terasa. Petualangan maya ternyata tak kalah melelahkan. 

Tanpa terasa waktu telah berlalu. Key kembali terkejut dengan bunyi ponselnya. 

[Aku di luar]

[Baik]

Key segera bangun dengan tangan masih memegang ponsel. Ia mematut sebentar di depan cermin, menepuk-nepuk wajah dengan sedikit bedak, kemudian keluar kamar. 

Pintu sebuah mobil di tepi jalan terbuka begitu ia sampai di halaman. Setengah berlari ia mendekati mobil itu.

“Masuklah!” titah Javi tanpa menoleh. 

Ia masuk saja dan duduk di sofa samping Javi. Pintu mobil segera tertutup. 

“Kau tau aku tidak suka cewek matre.” Ini bukan pertanyaan. Tiba-tiba Key merasa dingin AC di mobil itu menusuk tulang.

“Tau.” jawab Key dengan diusahakan tidak gugup. Spontan ia menoleh karena menyadari satu fakta. “Bukankah aku mengirim ke nenekmu? Kau tahu itu. Kau membaca cvku?”

“Video view jutaan, bagaimana aku tidak tahu?”

“Jadi semua pelamar kamu yang tolak?”

Javi hanya memberikan jawaban dengan anggukan. 

“Nenek tahu?”

Javi kembali mengangguk. 

“Semua orang melamar pastinya motifnya karena tergiur uang dan kau tidak suka itu, tapi mengapa tidak kau hapus saja video itu?”

“Nenek tipe teguh pendirian. Aku tak bisa melarang begitu saja. Hanya saja, Nenek harus menghargai keputusanku karena nanti kelak aku yang menjalani.”

Key menghela napasnya. “Kalau begitu, aku minta nomor rekeningmu, aku akan kembalikan uang nenekmu.”

“Itu aku yang kirim.”

“Hah?”

“Untuk memastikan kau perempuan jujur.”

Key tersenyum miring. “Apa semua pelamar kau perlakukan begitu?”

“Tidak. Hanya padamu.”

“Kenapa?

“Bagaimanapun kita pernah habiskan waktu istirahat bersama. Tidak buruk jika kita bersama lagi. Hanya saja, aku perlu berhati-hati.”

Key tertawa sumbang. 

“Bagaimana dengan Neal?”

Spontan Key menoleh. Javi tahu hubungannya dengan Neal?

Ia menghela napas. Padahal ia sudah menjaga jarak dengan Neal. Entah dari mana bermula, ia dirumorkan mengejar Neal. 

“Bagaimana kau bisa tahu aku punya hubungan dengan Neal?”

“Bagaimana aku tahu itu tidak penting. Yang penting sekarang, bagaimana hubunganmu dengannya?”

“Neal sedang berada di puncak, aku tidak ingin menunggunya lagi.”

“Bukan karena uang kau melamar?” Suara Javi melemah. 

“Kuakui itu salah satunya. Kau pria dingin, setahun mendiamkanku, paling buruk kau akan memperlakukanku dengan cara yang sama.  Setidaknya aku bisa mendapatkan gaji dari Nenek. Setidaknya aku bisa melakukan hal-hal yang aku sukai dengan uang itu.”

“Tapi aku mau hubungan yang komitmen. Aku hanya mau menikah dengan gadis yang mau tidur bersamaku. Tidak boleh bicara perceraian selain aku.”

“Tak masalah,” sahut Key cepat. Beberapa detik kemudian jantungnya berdetak cepat. 

 Javi mendekatkan wajahnya. Key memicingkan mata. Javi terus memajukan wajah, sandaran sofa membuat Key tak mampu lagi menghindar. Sampai-sampai ia dapat merasakan napas Javi. Ia memejamkan mata. Detak jantungnya bertalu-talu. 

“Jev, kita belum menikah,” lirihnya bergetar.

Javi menarik diri. Aroma parfum Javi yang menjauh membuat Key berani menghirup udara. 

“Setelah menikah, aku tidak ingin lagi ada penolakan. Jadi sebaiknya kau pertimbangkan lagi,” ucap Javi tanpa menoleh. 

“Selama kau bersikap baik padaku, aku akan melakukan hal yang sama,” janji Key. 

“Jangan kuatir.”

“Boleh aku minta satu hal?”

Spontan Javi menoleh. Wajahnya kembali garang. “Di sini posisinya kau sebagai pelamar, kau masih mengajukan syarat?”

“Aku cuma minta, kalau nggak mau yang sudah,” sahut Key dengan wajah merengut. 

Javi berbalik. “Katakan! Tapi aku tak janji.” 

“Bisa pernikahan kita dirahasiakan?” 

Kembali wajah Javi berbalik. Kali ini dengan emosi berkali lipat. 

“Kenapa? Kau tidak ingin Neal tahu? Aah, atau kau malu bergandengan denganku? Si pria lumpuh ini.”

Mendadak Key menjadi panik. Apalagi dengan kalimat terakhir Javi yang penuh penekanan. 

“Bukan … bukan begitu,” sergah Key. 

“Lalu?” 

Key mengembuskan napas. Tatapannya lurus ke depan. “Aku memang menginginkan pria kaya, tapi aku belum terbiasa dengan kemewahan. Dari dulu kau jadi pusat perhatian. Meski mulutmu pedas pada gadis-gadis, tetap saja ada yang mendekatimu.”

“Bukankah sudah seharusnya kau pertimbangkan itu sebelum memutuskan menikah dengan pria kaya?  Kemewahan, sosialita, relasi, koneksi bahkan popularitas sangat mendukung eksistensi mereka.”

“Baru saja aku berpikir memilih pria kaya. Aku tidak kalau doaku dikabulkan secepat itu. Ini melebihi  akselerasi kelas satu sd naik ke kelas satu SMP.”

Sesaat hening. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Key bertanya-tanya dalam dirinya, andai ia tahu saat itu doaku dikabulkan, mungkin tidak berpikir mencari pria kaya. Jangan-jangan saat itu berdoa hubungannya dengan Neal abadi? Seketika ia menggigil yang membuat Javi menoleh. 

“Kau kedinginan?”

“Tidak. Jangan kuatir.”

“Lalu soal dirahasiakannya pernikahan. Aku juga mempunyai keluarga, kerabat, relasi kerja, juga karyawan. Aku tak suka dibilang kumpul kebo.” 

Key menoleh pada Javi. “Beri aku kesempatan. Kau bisa umumkan setelah aku terbiasa. Atau begini saja, kita tunangan dulu?” 

“Tidak.”











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.