Diabaikan Kekasih Diam-diam Menikah dengan Pria Kaya
Demi Sepasang Cincin Idol (Part 4)
Key menoleh pada Javi. “Beri aku kesempatan. Kau bisa umumkan setelah aku terbiasa. Atau begini saja, kita tunangan dulu?”
“Tidak.”
Key terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dengan wajah merengut. “Ya sudah. Kirim nomor rekeningmu. Aku kembalikan uangmu.”
Javi menahan senyumnya. “Aku ingin menikah secepatnya.”
Key menoleh.
“Tapi janji, suatu saat pernikahan kita akan diumumkan.”
Key mengangguk pasti. “Aku janji. Terima kasih.”
“Kalau begitu, kau bersiaplah.”
“Hah? Menikah sekarang?”
“Kau mau begitu?”
Key melambaikan kedua tangannya. “Tidak-tidak. Aku harus memberi tahu ibu.”
Kali ini Javi tidak menyembunyikan senyumnya.
“Aku mau membawamu menemui Nenek.”
Key menghela napas lega. “Begitu?” Tetapi beberapa saat kemudian dia memekik. “NENEK?”
“Kenapa?
“Apa tidak terlalu cepat?
“Makin cepat, lebih baik. Besok aku akan urus ke KUA, jika bisa besok kita menikah.”
“JEV!” Ia tersadar, mengapa ia memanggil Jev? Apakah karena biasnya Jake?
“Aku bilang jika,” sahut Javi. “Tapi, kenapa kau memanggilku Jev?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Mungkin terlalu gugup. Tapi aku menyukai. Hanya aku yang boleh memanggilmu Jev.”
Diam-diam Key menghela napas. Ia tak menyangka, pada situasi tertentu ternyata bisa juga merayu.
Javi kembali memalingkan wajah sambil menahan gelitik di perutnya.“Bersiap-siap! Aku tunggu.”
Key mengangguk dengan wajah masih kebingungan. Ia turun dari mobil dengan langkah lambat.
Javi tertawa kecil dengan tingkahnya. Terkenang tingkah Key di masa SMA. Key yang tak pernah berani menatapnya, setelah sekian tahun siapa sangka sekarang ada di depannya.
Javi sedikit cemas ketika melihat Key yang berbalik ke arahnya. “Jev, bisakah kau menemaniku ke dalam?”
Javi mengerutkan kening.
“Aku tidak tahu selera Nenek. Kau bisa membantuku mencari pakaian yang cocok?”
Sesaat Javi memandangi kontrakan Key. Terlihat seorang perempuan berjalan di selasar.
“Kita beli saja. Kau masuklah!”
“Tapi ….”
“Kau mau ciptakan skandal dengan membawa pria ke dalam kamar?”
“Nggak gitu juga. Nanti aku buka kamarnya,” sahut Key.
“Sudahlah. Kau juga lihat kondisiku, tidak nyaman buatku keluar masuk.”
“Bukankah juga sama saja kalau kita ke sebuah toko?”
Javi membuka mulut, tetapi urung karena langsung dipotong Key.
“Oke-oke. Aku ambil dompet dulu.”
“Tak perlu. Masuklah!”
Akhirnya Key mengangguk pasrah. Ia bertanya-tanya mengapa melupakan sikap Javi yang dominan. Javi yang kadang mulutnya tanpa filter terhadap gadis-gadis yang menyatakan cinta padanya. Key jadi sangsi hubungannya dengan Javi akan bertahan lama.
“Fighting, Key. Setidak Javi memberimu kekayaan. Pastikan kamu telah datang ke konser Enhypen dan memiliki card Jake edisi terbatas, baru berpikir cerai dari pria dominan ini.” Key memotivasi diri sendiri.
***
Sejuk dan aroma lembut dari pewangi ruangan menyambut Key, ditambah jejeran busana yang terpasang di beberapa manekin membuat perasaannya terasa lebih menyegarkan. Sayangnya, perasaan itu hanya beberapa detik. Berubah seketika saat melihat label harga yang terpasang di salah satu busana.
Ia menghampiri Javi dan berbisik. “Mahal sekali. Kita cari di toko lain saja. Oh iya, kita bisa beli di toko di pinggir jalan, jangan ke mall.”
“Apa aku tidak cukup kaya?”
Key tersentak dengan suara Javi yang mengundang tatapan dari beberapa karyawan.
Key mencebik. “Sombong sekali.”
“Ini bukan sombong, tapi percaya diri. Kalau bukan diri kita sendiri yang menghargai, siapa lagi?”
Tiba-tiba Key merasa tertohok. “Iya … iya, kakak kelas tampan, genius dan kaya. Jangan menyesal kalau ambil yang paling mahal.”
“Tak masalah, jika itu cocok di badanmu dan etika seorang istri dari pria kaya.”
“Etika?” pekik Key dengan mata membulat.
Kekesalan Key ternyata tidak hanya sampai di situ. Ternyata ia harus memperlihatkan pada Javi setiap busana yang ia suka, tetapi selalu mendapatkan gelengan Javi.
“Apa ini sudah cukup?” seru Key dengan langkah gontai. Kakinya benar-benar terasa pegal.
Beruntungnya kali ini ia mendapatkan jempol Javi. Key dapat bernapas lega. Sesaat kemudian napasnya tertahan.
“Mbak, ambil itu, itu dan itu,” tunjuk Javi pada beberapa pakaian yang telah Key coba.
“Kenapa tidak kau bilang dari tadi? Beli saja semuanya, tidak perlu mencoba berkali-kali,” protes Key.
Javi Abai. Kursi rodanya telah memutar ke arah kasir. Key merapatkan gerahamnya.
Penderitaan Key tak hanya sampai di situ. Mereka harus menyinggahi beberapa toko sepatu dan tas.
“Sudah selesai kan? Aku capek,” keluh Key sambil memegang ketika keluar dari toko tas. Tas belanja diambil alih pada Pak Isa.
“Ke toko perhiasan belum. Kita perlu membeli cincin pernikahan,” sahut Javi santai.
“Huaaaa,” rengek Key.
“Tahanlah sebentar.”
Key hanya memberikan wajah merengut. Beruntungnya mereka tak terlalu jauh berjalan ke toko itu. Segala lelah seketika hilang ketika merk yang tertera di bagian atas pintu.
“Jake?” Terbayang kotak biru mint di benaknya.
Javi mendengus ejek. Kursi rodanya masuk, tetapi Key bergegas menahannya. “Serius kita masuk ke sini?” tanyanya tanpa berani mengerjap.
“Menurutmu?”
“Harganya selangit,” tambah Key.
“Kalau begitu kita beli ke lain saja,” ucap Javi.
“Tidak-tidak. Aku tahu kau pria kaya, pasti mampu membelikan satu set untukku, bahkan mungkin tokonya.”
Javi menahan senyumnya sambil melihat lengannya yang dipegang Key. Setelah berhasil mendatarkan raut ia mengangkat kepala, terlihat Key yang memasang wajah imut.
Javi berjuang sekuat tenaga menahan sensasi kupu-kupu yang menggelitik di perutnya. “Karena sangat mahal, tentu aku harus mengajukan syarat.”
“Apa?” tanya Key dengan mata membulat yang membuat Javi mengalihkan pandangannya.
“Besok kita menikah.”
“Oke!” sahut Key cepat. Beberapa detik kemudian Key tersadar. “MENIKAH?! BESOK?!”
Beberapa orang yang lewat menoleh padanya. Bahkan di seberang selasar. Key meringis.
“Tidak boleh ditarik lagi.”
“Bukan begitu. Masalahnya, aku belum memberitahu orang tuaku.” Key memelankan suaranya.
“Itu gampang. Beritahu tahu sekarang, atau besok pagi. Malamnya kita menikah.”
Key berkacak pinggang, menatap Javi penuh selidik. “Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti kebelet nikah?”
Wajah Javi menyurut. “Aku takut kau berubah pikiran. Bukankah, bukan aku yang kau cintai? Bukankah kau menikahiku hanya karena kaya?”
Key tergagap. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Benar saja, beberapa orang lewat menatapnya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Javi. “Aku tau, aku matre, tapi tak perlu memperlakukanku seperti ini.”
“Seberapa banyakpun aku mengikatmu dengan kekayaan, tetaplah orang di hatimu pemenangnya. Di hatimu aku hanya ….”
“Oke … oke. Kenapa malah drama?” protes Key, kemudian berbalik masuk ke dalam toko.
Javi menoleh ke arah, Pak Isa mengacungkan jempol untuknya.
Seketika hilang beban besok harus menikah saat melihat deretan perhiasan yang bahkan tak berani ia impikan. Bagi Key, ia akan berpuas diri meski hanya dapat membeli album idolanya.
“Javi?”
Spontan Javi bahkan Key menoleh ke arah suara.
“Andika? Kau kerja di sini?”
“Wah, Javi. Ternyata aku tidak salah lihat. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tanya Andika sambil mengulurkan tangan yang langsung disambut Javi.
“Seperti yang kau lihat,” jawab Javi.
“Aku sempat baca kabarmu di grup.” Pandangan Andika beralih pada Key. “Dia?”
“Dia calon istriku, Key.”
“Wah, kabar baik ini.” Andika mengulurkan tangannya pada Key yang disambut dengan canggung. “Sepertinya aku pernah melihatmu.”
“Dia adik kelas. Kita kelas 12 dia baru kelas sepuluh,” sela Javi.
“Key … Key,” eja Andika. “Aaah ….” Tiba-tiba mulutnya menutup karena melihat delikan mata Javi.
“Jev, karena lama tidak bertemu, bagaimana kalau ngobrol ke kantorku?”
“Boleh.” Javi beralih pada Key. “Kau pilihlah sesukamu.”
Andika tersenyum penuh arti.
“Tapi ….”
“Jangan kuatir. Aku percaya pada Javi,” sela Andika.
“Tetap saja,” sahut Key dengan rengutan.
Javi mengeluarkan selembar kartu pada Key. Key menyambut ragu dan seketika jatuh ke pangkuan Javi ketika matanya menangkap kata world elite.
Javi tersenyum melihat kegugupan Key. Ia mengambil kartu dan menyerahkan pada Andika.
“Sip!” Andika mencium kartu itu. “Key, beli yang banyak ya. Siapa tau besok aku langsung dipromosikan.”
Javi mencebik. Andika menyerahkan kartu pada salah satu karyawan perempuan. Kemudian dia mengambil alih kursi roda Javi. “Ayolah kita masuk. Lama tidak ngobrol. Mulutku gatal sekali.”
Pandangan Javi beralih pada Pak Isa. “Pak, temani Key.”
Pak Isa mengangguk. “Baik, Den.”
Key kini kembali fokus deretan cincin di etalase. Seorang karyawan mendekat. “Ada yang bisa saya bantu. Atau ada gambaran mau seperti apa, biar saya bantu carikan.”
Key menoleh ke kiri dan kanan. Ia memajukan wajah. “Ada cincin yang sama dengan Jake?”
“Jake Enhypen?”
Key meletakkan jarinya ke bibir. “Ssst.”
Karyawan menutup mulutnya. Ia mengangguk mengerti. “Sebentar ya, Mbak.”
Key mengangguk. Karyawan berlalu. Sesaat Key menoleh pada Pak Isa yang berdiri di samping pintu. Bertepatan lewat Neal dan Melodi di depan toko. Beberapa orang mengambil foto mereka.
Key berbalik, tapi terlambat. Neal terlanjur mengenalinya.
“Key, apa yang kau lakukan di sini?”
.jpg)
Komentar
Posting Komentar