Diabaikan Kekasih Diam-diam Menikah dengan Pria Kaya
Malam Pertama (Part 10)
Key memejamkan matanya, berharap ia tertidur lebih duluan. Nyatanya, telinganya makin menajam, memindai bunyi shower di kamar mandi bahkan ia dapat merasakan gerakan-gerakan Javi. Shower dimatikan dan tak lama pintu terbuka. Seketika dadanya berdebar keras dan semakin bergemuruh ketika indra penciumannya menangkap aroma vanila lembut semakin dekat. Terlalu dekat malah.
Ternyata dirinya masih belum bisa menjadi wanita dingin materialis yang sebenarnya. Menjalin hubungan nominal tanpa rasa.
Kecupan lembut di dahi yang membuat matanya seketika membuka.
“Belum tidur?”
Key hanya mampu menggeleng sedikit, bahkan tak berani mengerjap. Ia dapat merasakan detak jantungnya yang bertalu. Ia berpikir, jika Javi menjauhkan wajahnya beberapa detik lagi, jantungnya akan berhenti berdetak.
Javi terus saja memindai wajah cantik yang telah halal untuknya. Ia menatap setiap inci wajah itu, seakan tidak ingin kehilangan satu pori-pori pun. Pandangannya menurun hingga sampai pada sepasang bibir yang membuatnya seketika menelan ludah.
Wajah Javi memaju, spontan mata Key terpejam dengan wajah meringis dan bibir melipat. Namun, di luar dugaan. Kecupan kali ini di antara kedua alisnya. Entah apa mekanismenya, Key dapat merasakan hangat dari kecupan singkat itu telah mengalir ke seluruh badannya. Menimbulkan efek yang masih belum bisa ia cerna. Ia berani membuka mata setelah napas Javi sedikit lebih berjarak.
“Aku janji tidak akan melakukan itu tanpa izinmu.”
Key hanya mengerjap yang ia sendiri tidak tahu apa terjemahan dari kedua matanya. Javi menarik diri dan berbaring. Seketika Key dapat bernapas lega. Sayangnya, oksigen belum sempurna terhirup, sebelah tangan Javi telah meraih kepalanya dan meletakkan ke bahu.
“Tidurlah. Kau pasti kelelahan,” ucap Javi, kemudian menghadiahi sebuah kecupan di rambut.
Seketika Key dapat merasakan urat-urat yang sejak tadi menegang lentur seketika.
***
Sayup suara azan di berbagai penjuru membangunkan Key, meski matanya enggan membuka. Sesaat ia ingin meregangkan otot-ototnya, tetapi terhenti ketika menyadari hal baru. Ia membuka mata. Wajah teduh Javi di depan matanya.
“Apa aku masih bermimpi?” gumamnya dalam hati. Javi yang dulunya tak pernah ia tatap kini memeluknya erat.
“Sekarang sudah berani menatap?”
Key tersentak. “Sudah bangun?” Ia langsung melepaskan diri dari pelukan Javi dan segera duduk.
Javi tersenyum dan ikutan duduk. “Ibumu bilang kau tak berani menatap orang. Pantesan hampir setahun aku membersamai di belakang gedung sekolah, tapi kau tak pernah menatapku.”
“Kau sendiri tak pernah menyapaku,” protes Key.
“Aku hanya tak ingin membuatmu takut. Aku tau rumor beredar tentangku di sekolah.”
Key menghadap badannya ke arah Javi. “Setelah beberapa hari kita habiskan waktu bersama, aku tau kau tidak seperti dirumorkan orang-orang. Tapi kenapa kau tidak membela diri?”
Javi menghela napas kemudian menyandarkan kepalanya ke dinding. “Aku tak ingin menghabiskan energi hanya untuk pandangan orang-orang. Aku bisa hidup tanpa mereka.” Javi menoleh ke samping. “Ibumu bilang kau tak bisa menatap orang. Tapi sepertinya kau bisa menatapku. Ibumu juga bilang, kau pandai manipulasi.”
Key meringis. Ia tak pernah merasa seorang manipulatif. Ia hanya menggunakan beberapa trik untuk bertahan hidup.
“Pertama kali bertemu setelah sekian lama berpisah kau menatapku sebagai apa?”
“Ayam panggang,” sahut Key cepat.
“Hah?
“Maksudku sugar daddy?”
“Apa?” Mata Javi membulat.
“Apalagi? Bukankah aku melamar pada Nenek karena nominal menggiurkan.”
Raut Javi berubah.
Key meraih tangannya. “Jangan merasa terhina. Bagaimana pun kau pria unggul, lebih mudah bagimu meninggalkanku dibanding aku meninggalkanmu.”
“Maksudnya?”
“Jika kau bertemu gadis yang kaucintai, kau bisa menceraikanku. Sebaliknya, walaupun aku bertemu pria yang aku suka, tak mudah bagiku melepaskanmu. Lihatlah, baru berapa hari bertemu, kau sudah menghujaniku banyak materi. Sama saja aku melempar diri ke neraka jika melepaskanmu.”
Javi menarik pinggang Key hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. Kembali Key merasakan jantungnya berdetak cepat.
“Kalau begitu, kau tak boleh menyesal kalau terperangkap di sini.”
“Tidak akan,” sahut Key dengan memasang wajah meyakinkan.
Javi memajukan wajahnya. Key memejamkan mata dengan sedikit memiringkan wajahnya. Melihat itu Javi mengalihkan sasarannya.
Key meringis. Spontan ia mendorong Javi.
“Jev, kenapa menggigitku?” protes Key sambil mengusap lehernya yang terasa sakit.
“Untuk menyenangkan kedua pengasuhku. Nenek pun kalau melihat ini pasti senang.”
“Hah?”
“Bangunlah. Kita salat berjamaah.”
Key mengangguk saja, meski belum mengerti apa yang dikatakan Javi barusan.
***
Di ruang makan sudah ada Indra yang berdiri tak jauh dari Javi dan sepasang suami istri yang menyiapkan sarapan.
“Selamat pagi!” sapa Key, kemudian duduk di samping Javi.
“Pagi,” sahut Javi setelah menyesap tehnya.
“Selamat pagi, Nyonya,” ucap Bi Nurul sambil meletakkan sepiring irisan buah.
“Selamat pagi, Nyonya.”
“Nyonya? Tidak-tidak, jangan panggil aku nyonya. Aku sama seperti kalian, hanyalah seorang pekerja.”
Mata Javi melotot. Key merasakan tubuhnya menciut. “Baik-baik. Aku nyonya,” ucap Key, kemudian menyembunyikan wajahnya di balik cangkir teh.
“Panggil saja dia Nona Key,” titah Javi.
Key langsung menurunkan cangkir. “Boleh-boleh. Terima kasih,” ucap Key sambil memegang lengan Javi.
“Tapi ingat, kau istriku, kau juga wajahku, wajah keluargaku.”
“Aku ingat itu. Selain introvert, tidak ada penyakit dan tindakan aneh dalam diriku.”
“Hanya itu?” pancing Javi.
Key memiringkan kepala, berusaha mengingat apa tindakan anehnya. Ia ingat, misi awalnya sekarang ingin seperti Jake. Bebas mengekspresikan diri, tapi itu bukan kesalahan.
Key memajukan wajahnya ke arah Javi. “Menikahimu karena harta, apa juga termasuk memalukan?”
Javi berdeham sambil berusaha menstabilkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat. “Itu tergantung kinerjamu.”
“Jangan kuatir, aku tidak akan membiarkan uangmu dan Nenek sia-sia,” sahut Key. Tiba-tiba ia merasa seperti anak kecil. Ia menyentuh dahi dan menurunkan beberapa helai, demi menyembunyikan wajahnya yang ia yakini pasti merah.
“Tidak telalu buruk, Key. Selama Javi tidak melihat jijik padamu,” batin Key.
“Hari ini aku mau ke perusahaan. Hari ini apa kau punya rencana keluar?”
Key menggeleng cepat. “Stock rancanganku telah habis. Jangan sampai klien protes padaku,”
Javi mengangguk. “Kalau tiba-tiba mau keluar, beritahu aku.”
Key menoleh ke arah Indra, hingga kemudian kembali berbisik. “Apa setiap tindakanku harus lapor kepadamu?”
“Tidak. Sebenarnya kalaupun mau keluar rumah juga tidak harus. Hanya saja, aku harus memastikan keselamatanmu.”
“Aku mengerti. Kau tenanglah.”
“Ndra, bisa berangkat sekarang?”
Indra mengangguk. “Bisa, Pak.”
Javi beralih pada Key. “Aku pergi dulu.”
Key mengangguk, sambil mengulurkan tangannya kemudian mencium punggung tangan Javi. “Hati-hati di jalan.”
Javi mengangguk, kemudian mencium kening Key. Sesaat gadis itu terpaku. Sensasi ciuman singkat itu benar-benar berhasil menjalar ke seluruh tubuhnya.
***
“Alhamdulillah,” serunya sambil merentangkan kedua tangannya setelah berhasil membuat beberapa konten dan mengupload sesuai jadwal. Lebih melegakan lagi, setidaknya ia tidak perlu memaksakan diri lagi selama beberapa hari.
“Apa aku perlu memasang iklan lagi, buat cari klein?” gumamnya, kemudian beberapa detik menggeleng. “Sebaiknya aku isi waktu dengan berusaha mengenali si Ayam Panggang. Bahkan ia bekerja di mana aku tidak tahu.”
Ia melihat jam di layar ponselnya. Ia memutuskan akan mengantar makanan buat makan siang Javi.
“Bi, ada makanan buat Javi? Biar saya antar. Maafkan, baru saja kepikiran,” tanya Key pada Bibi Nurul yang sibuk di dapur.
“Bibi tadi memang masak, tapi cuma sedikit karena tadi cuma buat Nyonya.”
“Jangan panggil Nyonya, Bi. Aku belum terbiasa. Coba aku lihat, Bi.”
Bibi Nurul memperlihatkan makanan di bawah tudung saji.
“Kalau begitu itu saja, aku antar buat Javi.”
“Tapi makan siang Non?”
“Tidak apa. Sepertinya ini juga tidak habis buat Javi, nanti aku sisanya.”
“Non?”
“Tidak apa. Bi, bantu carikan aku wadahnya.”
***
[Aku mau mengantar makanan buatmu. Kirim alamat kantormu]
Hanya beberapa detik pesan Key dibalas dengan share lokasi.
[Hati-hati di jalan.]
Key yang tadinya bersandar pada kursi kini terduduk ketika melihat alamat yang diberikan Javi. Lokasi itu bahkan nama gedungnya sama yang sering ia masuki untuk mengantar makanan Neal.
“Memangnya si Ayam Panggang bekerja sebagai apa?”
“Apa, Non.”
Key terkesiap karena melupakan Bibi Nurul yang tak jauh darinya. “Tidak apa, Bi. Aku turun dulu, Bi. Assalamu ‘alaikum.”
“Wa ‘alaikum salam,” sahut Bibi Nurul sambil tersenyum. Ucapan salam hanya kegiatan sederhana, tapi tidak semua orang konsisten atau peduli melakukannya. Tindakan sederhana, tetapi membuat Bibi Nurul yakin, Key perempuan baik dan layak mendampingi majikan yang sejak kecil ia besarkan.
***
“Jev, aku sudah di bawah. Kantormu di mana?” tanya Key di dalam telpon.
“Tunggu saja di sana. Aku minta Indra menjemputmu.”
“Baiklah. Aku tunggu.” Key menutup panggilan. Sesaat ia mengedarkan pandangan. Luasnya lobi dan orang-orang berlalu. Baru kali ini ia memperhatikan suasana lobi. Biasanya ia langsung saja meluncur ke ruang ganti dan studio, itu pun kalau Neal tidak syuting di luar gedung.
“Key, ini buatku?”
Tak sempat membalas, tiba-tiba tas lunch box yang sejak tadi ia bawa telah berpindah ke tangan Neal.
“Itu bukan ….”
Bahkan Neal telah membuka penutupnya. “Aku tau kau pasti merindukanku.”
“Ternyata benar ‘kan? Kamu telah selingkuh dengannya.”
Sebuah tangan melempar lunch box di tangan Neal hingga terjatuh ke lantai dan berhamburan isinya.
“Mel, apa yang lakukan?” teriak Neal karena kaget.
Mata Key membesar melihat makanan yang telah ia susun begitu cantik kini berserakan di lantai.
“Pantesan waktu aku dilecehkan saat itu sampai sekarang belum ada kata maaf. Neal, kau membelanya?”
Neal tergagap. Situasi tidak menguntungkan baginya. Banyak orang menatapnya. Meski hanya hubungan gimik, ia harus berada di sisi Melodi. Tapi bagaimana dengan Key?
Belum sempat Key mencerna, kini ia dihadapkan akting Melodi dengan wajah menyedihkan. Orang-orang berbagai arah berdatangan. Beberapa orang di antaranya merekam dengan ponselnya.
Tiba-tiba dunia terasa berputar. Bisik-bisik mulai memenuhi ruang itu. Key merasa terjebak di dua dunia.
Ia berada di malam hari. Orang-orang mengerumuninya menyuguhkan aneka tatapan dan kebisingan yang membuatnya seperti berada di pusaran angin.
Key memegang kepalanya. Pusaran terus menyeretnya dengan slide semakin lebih cepat. Siang dan malam seakan berganti-ganti hanya sepersekian sekian detik.
“Kenapa? Pura-pura pusing? Pelakor memang selalu begitu! Jangan pikir dengan begitu orang-orang akan kasihan padamu.”
Dua orang perempuan entah dari mana mendorong Key hingga tersungkur ke lantai. Telur rebus terkena tangan Key hancur seketika.
Melodi makin merasa di atas awan. Ia meletakkan high heelsnya ke atas jari Key. Orang-orang tak peduli dengan sikapnya. Orang hanya peduli pelakor parasit yang harus dimusnahkan. Mulut dan jari seakan rugi jika tidak berkontribusi dengan ejekan.
Mengabaikan jeritan Key yang kesakitan.
“Mel, sudah.”
Neal berusaha menarik Melodi. hingga Key terlepas dari penderitaan.
Key mengangkat jarinya yang terasa remuk. Ia bersyukur setidaknya rasa sakit menyadarkan dan tidak terseret ke pusaran masa lalu. Kesadarannya perlahan mulai pulih.
“Kenapa? Kau masih membelanya?” teriak Melodi.
“Apa yang terjadi?”
Seketika semua mata beralih pada sosok berwibawa yang baru saja datang. Semua tertunduk.
***
Cerita ini diikut serta lombakan di kbm App. Mohon dukungannya dengan mengklik link di bawah ini
.jpg)
Komentar
Posting Komentar