Diabaikan Kekasih Diam-diam Menikah dengan Pria Kaya
Memangnya Kamu Siapa? (Part 6)
“Memang kamu siapanya Key? Dengar, Key bukan budak yang bisa kau suruh sesuka hati!”
Neal tersentak. Mengapa ada suara pria di telepon Key? Ia memperhatikan ponsel. Benar memang nomor panggil nomor Key.
“Kamu siapa?”
“Memang penting tahu siapa aku? Bukankah kau tak peduli padanya. Di matamu dia tidak apa-apa dibanding karir.”
“Katakan kamu siapa?” teriak Neal.
“Tebak sendiri. Aku ingatkan, mulai sekarang kau tak bisa lagi memerintah Key seenak hati. Aku akan membuatmu menyesal, jika melihatnya tertindas.”
Klik.
“Hallo! Hallo!” teriak Neal.
Panggilan terputus. Ia melayangkan tangannya. Hampir saja, ponsel itu ke tanah, andai saja tidak ingat cicilan yang belum lunas.
“KEY!!”
Andai ada orang di dekat situ, pasti akan tahu seberapa marahnya Neal yang terdengar dari gertakkan geraham.
Neal menghempaskan napasnya sebelum keluar dari balik tanaman bonsai itu dan duduk di kursi outdoor. Di sampingnya Dilan sudah duduk santai sambil memainkan ponsel.
“Dil, kau ada bertemu dengan Key?”
Dilan mengangkat wajahnya, kemudian menggeleng. “Kenapa? Baru terasa penting keberadaannya? Aku heran, termakan apa itu gadis sampai cinta mati pada pria bodoh sepertimu?”
Neal terlonjak. “Sebenarnya kau mencela siapa?”
“Jelas-jelas mencela siapa, masih nanya,” sahut Dilan, kemudian mengalihkan perhatiannya pada ponsel. Neal mendengus kesal.
“Dilan?”
“Iya, Pak. Siap!” Dilan menyerahkan ponselnya pada asisten yang sejak tadi sibuk di belakangnya, kemudian menjauh.
Neal kembali gamang. Siapa pria di telepon tadi?
“Mengapa aku seperti pernah mendengar suara itu, tapi di mana?” gumam Neal. Pikiranya kembali mengusut. Pertemuannya dengan Key di mall membuatnya kembali mengulang. Tadinya ia berpikir Key membeli cincin couple untuk mereka, tapi siapa pria di telpon itu?
Mungkinah Key benar-benar akan bertunangan dengan pria di telepon itu? Neal menggeleng cepat. Key yang mengikutinya puluhan tahun, tidak mungkin berpindah semudah itu. Bukankah Key tidak datang atau menghubunginya hanya beberapa hari?
Neal memejamkan mata, tetapi bayangan kartu world elite mengganggunya. Siapa pria itu? Pak Isa? Sayangnya penampilan Pak Isa sangat bertolak belakang dengan karisma kartu world elite.
Ia mengambil ponsel dan melakukan panggilan kepada nomor lain. Tak lama panggilannya terjawab.
“Assalamu ‘alaikum.”
“Wa ‘alaikum salam, Tante. Apa kabar, Tante?”
“Baik. Ada kabar apa, Neal? Kamu baik-baik saja, kan?”
“Aku baik, Tante. Tante, benar mau menjodohkan Key dengan seseorang?”
“Kau dengar dari mana omong kosong itu,” sahut suara di sebenarnya.
Neal tersenyum. Berarti apa yang dikatakan Key kemarin memang bohong.
“Tante punya kerabat yang bernama Pak Isa?”
“Pak Isa? Tidak ada. Kenapa?” sahut di seberang, terdengar kebingungan.
“Yakin, Tante?”
“Yakin. Memangnya kenapa?”
“Siang tadi aku ketemu Key di mall, tepatnya di toko perhiasan mewah. Dia bersama seorang pria tua. Katanya namanya Pak Isa. Dia membeli perhiasan ratusan juta. Sekitar 300 juta kalau nggak salah.”
“Astaghfirullaah!” pekik Zaida, ibunya Key.
“Lalu tidak kau tanyakan langsung pada Key, secara empat mata?”
“Selama beberapa hari tidak bertemu, Tante. Siang tadi bertemu juga kebetulan.”
“Ada apa dengan anak itu. Dia juga sudah berapa hari tidak menelpon Ibu. Nanti Tante akan telpon dia,” sahut Zaida berapi-api.
“Iya. Terima kasih, Tante.”
“Ini sudah kewajiban seorang Ibu. Jika dia melakukan yang aneh-aneh, Ibu akan menyeretnya pulang.” Emosi makin kentara terdengar dari nada.
***
Javi mematikan panggilan. Melihat nama di layar ponsel saja membuatnya darah tinggi. Ia memasukkan nomor Neal ke dalam daftar hitam.
“Pak, kita ke rumah saja,” pinta Javi.
Dari kaca spion, Pak Isa melihat Key yang tertidur pulas.
“Key?” Sekali lagi Javi mencoba, tapi Key si introvert itu memang benar-benar kelelahan.
Mobil yang membawa mereka kini telah memasuki halaman rumah elite. Pintu rumah segera terbuka dari dalam. Terlihat seorang perempuan tua berdiri dari dalam.
“Key?”
Key masih saja bergeming.
“Jadi bagaimana, Den? Apa sebaiknya kita bangunkan saja. Kasian kalau tidur semalaman dengan posisi seperti itu,” ucap Pak Isa saat mobil telah berhenti.
“Sebentar.” Javi berusaha menurunkan kakinya dari mobil. Dengan tangan tetap berpegangan pada dinding mobil ia memutar hingga tetap di depan Key.
“Apa yang Aden lakukan? Bahkan dokter belum mengizinkan berjalan jauh.”
“Saya coba dulu, Pak.”
“Den?”
“Tolong buka pintu lebih lebar dan juga persiapkan kamar tamu. Perempuan tua yang mendengar itu langsung membuka pintu dan bergegas ke kamar tamu.
“Key?”
Masih diam. Javi melingkar kedua tangan Key ke lehernya. Perlahan Javi mengangkat badan Key, dan sesekali memanggil.
“Key.”
“Hmm.”
Key malah mengeratkan pegangannya ke leher Javi. “Jev, kemana saja kamu selama ini?” igau Key.
“Selama ini kau mengingatku?” tanya Javi. Tapi tidak ada lagi jawaban. Javi tersenyum melihat Key yang masih memejamkan mata.
Pak Isa tak bisa jauh dari Javi yang membopong Key. Ia khawatir majikannya itu tiba-tiba tumbang.
Javi berhasil meletakkan Key ke atas ranjang. Ia juga melepaskan tas selempang Key, kemudian meletakkan ke atas nakas. Sejenak ia merasakan sakit menjalari tulang kakinya. Pak Isa langsung berjongkok di depannya.
“Sudah diingatin juga. Bapak oles dengan minyak ya.”
Javi mengangguk. Istri Pak Isa langsung keluar dan masuk membawa botol dengan wajah cemas.
“Kakiku akan baik-baik saja. Jangan terlalu cemas.”
Pak Isa menggulung ujung celana Javi. “Bagaimana kami tidak cemas. Tiba-tiba Aden membawa beban sangat berat.”
Javi menoleh ke arah Key yang tertidur pulas. Spontan bibirnya tersenyum.
Tiba-tiba terdengar bunyi getaran di dalam tas. Sesaat Pak Isa dan Javi saling bertatapan. Getaran berhenti, tetapi beberapa saat kemudian kembali berbunyi.
“Pak, tolong ambilkan. Kuatir ada yang mencarinya.”
Pak Isa mengangguk, kemudian mengambil ponsel dalam tas Key.
“Ibu,” eja Pak Isa pada layar ponsel sambil menyerahkan pada Javi.
Sesaat mata Javi membesar. Gugup seketika menyelimutinya.
Javi menerimanya. Sesaat ia berdeham sebelum menjawab panggilan itu.
“Key, sekarang kamu di mana?” cecar ibu Key di seberang sana.
Javi berdiri dan keluar kamar karena takut Key terbangun akibat volume tinggi dari si penelepon.
Pak Isa kembali cemas melihat Javi yang berjalan. Ia bergegas mengambilkan kursi roda. Istrinya merapikan selimut Key dan memastikan AC sudah nyala.
Javi kembali berdeham.
“Key? Kamu siapa?”
Javi menjauhkan ponsel karena tiba-tiba suara ibunya Key memekakkan telinga.
“Saya Javi, Bu. Key ada di sini, dia sedang tertidur.” Javi duduk pada kursi roda yang baru saja dihantar Pak Isa.
“KEY TIDUR DI RUMAHMU? KATAKAN KAMU SIAPANYA, KEY?”
“Saya tunangannya. Tapi jangan kuatir, dia tidur di kamar tamu. Di sini juga ada sepasang suami istri.” Javi mengubah panggilan menjadi mode video. Ia langsung mengarahkan pada Pak Isa dan istrinya begitu calon mertuanya menjawab panggilan video itu.
“Mereka pengasuh saya, mereka tidak akan membiarkan saya melakukan tindakan tidak senonoh.”
“Apa kamu bilang tadi? Tunangan? Key tidak pernah cerita kepada Ibu.”
“Mungkin belum ada kesempatan, Bu.”
“Perlihatkan Key sekarang di mana?”
“Baik, Bu.”
Istri Pak Isa yang mendengar obrolan itu bergegas memastikan selimut Key masih rapi.
“Lalu kenapa Key tidur di rumahmu?”
.jpg)
Komentar
Posting Komentar