Diabaikan Kekasih Diam-diam Menikah dengan Pria Kaya
Mendadak Searakah (Part 5)
“Aku … aku.” Mendadak otak Key menjadi buntu. Mudah baginya jujur, tapi ia tidak ingin memperpanjang masalah.
Masalah?
Bukankah Neal tidak akan mengakuinya sebagai pacar, apalagi ada Melodi?
“Apa yang kau lakukan di sini, Key?”
Key kebingungan. Tiba-tiba ia menarik Pak Isa yang sejak tadi berdiri di samping pintu. “Kenalkan, calon mertuaku.”
Karyawati datang membawakan cincin yang diinginkan Key.
“Ini, Mbak.” Karyawati membuka dua kotak. “Kalau yang ini dipakai Sunghoon. Bisa dijadikan couple.”
Mata Key berbinar cerah. Ia tahu kalau Jake dan Sunghoon menandai persahabatan dengan cincin itu, hanya saja ia bisa mengenakan itu dengan Javi.
Namun, Seketika ia menahan napas saat melihat harganya.
Neal dan Melodi memandangi penampilan Pak Isa dari atas sampai bawah.
“Key, sepertinya kamu salah alamat deh,” seru Melodi. “Dari penampilannya, sepertinya dia cuma sopir. Bagaimana bisa membeli perhiasan semahal itu. Jangan mempermalukan diri, Key.”
Neal menarik Key. “Aku tau, kamu ingin kita cepat menikah. Tapi tidak seperti ini Key,” bisik Neal.
Mata Key membola.
“Nona?’
“Nona? Bagaimana mungkin mertua memanggil calon mantu Nona?” ledek Melodi.
Key mendelik pada Pak Isa yang membuat pria tua menutup mulutnya.
Key tersenyum miring. Ia memilih fokus pada perhiasan yang sudah ditaruh di atas etalase. Ia mengambil sebuah cincin desain yang terbuka bagian atas dan satu sisi berhiaskan permata. Ia meletakkan cincin itu dan mengambil yang berhiaskan seperti angka satu di tengahnya.
“Coba sini saya tunjukkan sebentar.”
Key menyerahkan cincin itu. Karyawati itu menggabungkan dua cincin. Benar hiasan di tengah menutup celah cincin satunya yang terbuka.
“Kalau begitu aku ambil dua cincin ini.”
Karyawati mengangguk. “Baik, Mbak.”
“Enggak sekalian gelangnya, Mbak? Gelangnya juga ada desain yang sama dan bisa dijadikan couple,” tambah karyawati. “Bentar, saya ambilkan dulu.”
Tak lama karyawati itu datang membawa dua kotak dan langsung membuka keduanya. Seketika mata Key berbinar cerah.
“Mbak yakin dia bisa bayar?” sela Melodi dengan tangan berpagut pada lengan Neal.
“Mbak, hitung itu dulu. Biar dia tahu, penampilan tak sepenuhnya jujur. Di dunia ini, ada penampilan perlente, padahal dia mengandalkan orang lain.”
Tiba-tiba Neal terbatuk-batuk. Melodi menatap selidik pada Neal.
Karyawati itu membawa dua kotak pilihan Key dan tak lama datang dan mengembalikan kartu world elite. “Ini, Mbak.”
Mata Neal dan Melodi membesar. Key mengambil kartu dan menyerahkan pada Pak Isa. Tanpa ragu Pak Isa mengambil dan kembali meletakkan ke atas etalase.
“Nona mau gelang itu?”
Key mengambil gelang yang juga sama desainnya dengan cincin. Di bagian tengahnya terbuka dan setiap sisi dihiasi permata. Bohong jika ia tidak menyukai gelang itu. Ia pernah lihat Jake mengenakan gelang itu.
“Mbak, kami ambil sepasang ini juga.”
Key tersentak dengan seruan Pak Isa. “Pak, ini mahal sekali,” bisik Key.
“Jangan kuatir. Bapak sangat kenal Aden. Selama Non yang pakai, dia pasti senang,” balas Pak Isa.
“Baik, Mbak, Pak.” Karyawati kembali membawa dua kotak gelang dan tak lama datang mengembalikan kartu itu.
“Ini sudah, Mbak. Kalung juga ada, Mbak.”
Neal dan Melodi saling bersitatap.
“Sudah cukup, Mbak.”
“Baik. Tunggu sebentar. Kami buatkan kuitansi. Atas nama siapa, Mbak.”
Key memandang Pak Isa.
“Atas nama Keyla Azizah,” sahut Pak Isa.
“Baik. Mohon ditunggu sebentar, Mbak, Pak.”
“Key, jangan katakan kamu menjual diri dengan Bapak ini!” tuding Melodi.
Plak.
Sontak semua orang di situ terkejut dengan bunyi renyah itu.
“Anda berani menampar saya?” teriak Melodi.
Tanpa diketahui Pak Isa, Andika dan Javi telah berada di belakang.
“Anda yang dari bermulut busuk. Anda menghina saya, saya dapat menahan diri. Tapi jika menghina Nona, saya tidak akan menahan diri.”
“Saya manajer di sini. Apa yang terjadi?” tanya Andika.
Javi membuka mulut, tetapi Key langsung melotot.
“Dia menampar saya.”
“Maafkan saya, Pak. Nona ini dari meremehkan Nona Key.”
Andika menatap Melodi dari atas sampai bawah dengan mata menyipit kemudian beralih pada Neal.
“Kalian pemeran … Bingkai Cinta?” tanya Andika.
Melodi merangsek maju. “Benar, Pak Manajer. Kami tokoh utama Bingkai Cinta.”
Neal membenarkan dengan anggukan. Javi memandang Key yang hanya tertunduk.
Andika menoleh pada salah satu karyawannya. “Katakan apa yang terjadi?”
“Mbak Meli itu terus saja menghina pelanggan, bahkan menuduh tidur dengan bapak itu hingga akhirnya beliau itu menamparnya.”
Kesalahan penyebutan nama membuat bola mata Melodi seperti mau keluar. “Kau tidak mengenalku?” tanya Melodi dengan luapan.
Karyawati itu menggeleng. “Dibanding Mbak, saya lebih mengenal Mbak Key.”
Giliran Key kebingungan. “Kau mengenalku?” tanya Key dengan sedikit memajukan wajah.
“Mbak pasti engene. Aku juga engene. Mbak bisa nomor wa-nya? Obrolan kita pasti seru.”
Tanpa ragu Key mengeluarkan ponselnya. Melodi yang terabaikan semakin meradang.
Andika sedikit menundukkan kepala kepada Melodi.
“Maaf, Nona. Nona Key pelanggan eksklusif kami. Kami harus menjaga kenyamanannya. Jika tidak ada yang Anda cari di sini, silakan Anda pergi,” ucap Andika disertai gerakan tangan.
Melodi menggertakkan gerahamnya. Sesaat ia menoleh pada Key yang memiringkan kepala dengan bibir mencebik.
“Neal, lihat kerabatmu, dia meremehkanku,” protes Melodi.
“Sudahlah, kita pergi dari sini. Jangan bikin keributan,” seru Neal sambil menarik Melodi keluar.
“Tapi ….” Melodi kembali ingin melayangkan protes, tetapi tatapan semua mata padanya membuatnya harus menahan diri.
Mau tak mau Melodi harus menuruti Neal.
Key menghempaskan napas setelah kedua makhluk itu hilang dari pandangannya. Namun, masalah tak selesai sampai di situ. Ia lupa, kalau Javi sudah tahu hubungannya dengan Neal.
Ia mengambil satu cincin dan menghampiri Javi. “Jev, ini cocok tidak dengan jarimu?”
Javi mengulurkan tangannya. Key memasangkan cincin itu ke jari manis Javi dan seketika ia dapat bernapas lega. “Syukurlah, cocok di jarimu.”
“Kenapa kau memilih cincin ini?” tanya Javi.
Key merasakan tungkainya melemah dengan tatapan Javi. Ia mengambil cincin dan memperlihatkan pada Javi. “Aku milih cincin ini dan kata mbak itu bisa dibilang sepasang. Kalau digabungkan, cincin ini akan menyatu. Bahkan bisa dipasang satu jari.”
“Serius? Tidak ada yang ditutupi dariku?”
“Oke-oke. Aku tidak ada niatan menutupinya darimu, cuma kuatir kau akan mentertawakanku.”
“Katakan?”
“Aku mengambil cincin yang sama dengan Jake Enhypen, sedang yang kau pakai itu sama dengan Sunghoon.”
“Jadi kau memanggilku Jev, karena menyukai Jake? Aku tidak akan mengenakan cincin ini,” ucap Javi sambil hendak melepaskan cincin itu, tetapi langsung dicegah Key.
“Soal aku memanggilmu Jev, aku tidak membela diri. Tapi … ayolah, jangan cemburu pada idol. Mereka tak lebih seperti karakter yang menghibur dan menginspirasi. Dunia kami berbeda, bagaimana mungkin aku bisa mengharapkannya?”
“Benar?”
“Ya Allah, Jev. Aku memang bodoh, tapi nggak separah itu.”
“Baik. Kali ini aku kasih toleran. Setelah ini kau harus menerima konsekuensi jika kau mengabaikanku karena mereka.”
“Tidak akan. Semakin kau mendukung kesukaanku, aku akan semakin memujamu.”
Javi mencebik. Ia berpaling demi menyembunyikan senyumnya yang sulit dihentikan. Andika dan Pak Isa saling bertatap, kemudian keduanya tersenyum penuh arti.
“Cuma ini? Nggak ada yang lain?”
“Hah?” Sesaat kemudian Key tersadar. Javi tersenyum, ia tidak tahu calon istirnya selelet itu.
“Oh ini.” Key mengambil kotak gelang dan memperlihatkan pada Javi. “Beli ini. Tapi ini Pak Isa yang ambil.”
“Kau menyukainya?” tanya Javi.
Key mengangguk, tapi setelah itu ia tak berani lagi mengangkat wajah. Ia dapat merasakan wajahnya memerah. Bagaimana bisa dalam semalam ia menjadi wanita serakah.
“Ambillah.”
Key mengangkat wajah cepat dengan mata berbinar. “Sungguh?”
Javi mengangguk.
Key langsung membuka kotak gelang Sunghoon, tetapi tidak sedang di tangan Javi. Key merengut.
Javi menoleh pada kotak satunya. “Kalau itu?”
Key membuka kotak yang ditunjuk Javi. Tiba-tiba Key punya ide memasangkan ke Javi karena desainnya yang terbuka di dua sisi.
Ia tersenyum lebar melihat gelang itu masuk ke tangan Javi. “Ternyata tanganmu cantik sekali, Jev.”
Key mengerjap. Ia segera berdiri dan memasang gelang satunya dan memperlihatkan pada Javi. “Lihatlah, gelang kita juga sepasang! Sepertinya kita memang ditakdirkan bersama.”
“Nggak sekalian dengan kalungnya, Jev?!” Andika tidak akan mengambil kesempatan ini. Siapapun yang melihat tatapan Javi, akan tahu seberapa bucin pria itu.
“Sudah .. sudah. Aku memang mabuk perhiasan ini, tapi tidak akan membuat calon suamiku bangkrut dalam semalam,” sela Key.
“Kau meremehkanku?” protes Javi.
“Hah? Dari sudut mananya aku meremehkanmu?” tanya Key kebingungan.
“Dika, tolong ambilkan kalung itu,” titah Javi.
Andika memberi isyarat kepada Mbak itu. Key hanya menatap Javi tanpa berkedip.
***
“Aku … aku.”
“Cut … Cut,” teriak Sutradara Booming kesal. “Melodi apa yang terjadi?
“Itu semua gara-gara dia,” balas Melodi sambil menunjuk lawan aktingnya, kemudian meninggalkan lokasi syuting.
Sutradara beralih pada Neal. “Neal, apa yang terjadi?” bisik Sutradara Booming. “Meski cuma kekasih settingan, kau jangan merubah mood dia. Kau lihat bagaimana performanya, belum lagi kalau terdengar isu buruk di luaran. Ini akan mempengaruhi karirmu. Karirmu bisa hancur.”
Neal sedikit menundukkan wajah. “Saya pastikan tidak akan terjadi lagi kedepannya.”
Sutradara Booming menepuk bahunya. “Kita istirahat dulu. Patikan masalahmu sudah selesai, saat take selanjutnya.”
“Iya, Pak.”
Sutradara Booming menjauh. Neal mengambil ponselnya di atas meja dan menjauh ke tempat sepi.
“Key, sebenarnya Pak Isa itu siapa? Kau mau bikin konten? Suruh dia minta maaf pada Melodi.”
“Memang kamu siapanya Key? Dengar, Key bukan budak yang bisa kau suruh sesuka hati!”
Neal tersentak. Mengapa ada suara pria di telepon Key?
***
.jpg)
Komentar
Posting Komentar