Diabaikan Kekasih Diam-diam Menikah dengan Pria Kaya
Menikah Tanpa Cinta (Part 8)
Zaida kembali terdiam. Ia mengakui kesungguhan Javi, tapi tetap saja cemas meliputinya. Bagaimana pun mereka dari dunia yang berbeda. Lalu bagaimana juga dengan wasiat almarhum bapak Neal.
“Bu, kami berencana menikah secepatnya, kalau bisa besok.”
Zaida menoleh cepat. “Kenapa? Kalian tidak melakukan perbuatan itu ‘kan?” Kembali Zaida diserang cemas.
Javi mengibas kedua tangannya. “Tidak. Kami tidak sejauh itu.”
“Lalu kenapa mau dipercepat? Resepsi juga perlu waktu mempersiapkannya, meski tidak besar-besaran.”
“Key mau pernikahan dirahasiakan. Kalaupun mau diadakan resepsi ia minta waktu.”
“Tidak besok juga ‘kan?” kilah Zaida sambil meluruskan badan. Ia baru ingat, kalau putrinya menyimpan ketraumaan lain. “Ia tidak pernah cerita tentangmu. Sampai saat ini Ibu masih ragu.”
“Waktu SMA, saya lebih suka menyendiri di belakang gedung sekolah. Suatu hari Key datang dan menaruh kucing di sana. Tiap hari ia menengok dan memberi makan kucing itu. Di situlah kami mulai menghabiskan waktu bersama, meski tidak saling tegur sapa apalagi ngobrol. Bahkan sepertinya Key tidak pernah menatapku. Meski penasaran, saya tak ingin mengganggunya. Perlahan kehadirannya memberi warna dan sangat berarti bagi saya. ”
Javi meluruskan pandangannya. Pikirannya melayang jauh ke masa sekolah SMA.
“Mey, hari ini hari apa? Mengapa kau dapat makanan begitu istimewa?” tanya Key saat pada kucing kecil betina yang asyik makan ayam panggang.
“Hari ini hari terakhir aku di sini.”
Spontan Key menoleh ke arah suara. Kepalanya tengadah demi melihat wajah yang memiliki tubuh menjulang itu. Ia berdiri dan menghadap Javi yang sudah mengenakan pakaian bebas.
“Kau mau ke mana?”
Javi di masa kini tersenyum. “Butuh waktu setahun hingga ia mau menatapku. Itupun di saat perpisahan.”
Zaida menoleh. Ia dapat merasakan getaran suara dari anak muda di sampingnya.
“Dan sekarang dia ada di depanku, tidak mungkin saya membuang kesempatan ini. Dibanding saat perpisahan dulu, perasaanku lebih cemas saat ini. Bagaimana pun hubungan kami tidak memiliki pondasi. Di hatinya bukan saya. Kehadiranku hanyalah di saat dia kecewa pada Neal. Saya takut saat kecewanya hilang dan kembali pada Neal. Membayangkan ini, rasanya kecemasanku beribu kali lipat.”
“Dengan menikah pun bukan solusi yang tepat. Bagaimana kalau seperti kau bilang ia pergi meninggalkanmu.”
“Setidaknya saya berkesempatan memberikan yang terbaik untuknya dan itu hanya dapat dilakukan dengan pernikahan.”
Zaida terdiam. Beberapa menit ia memandangi Javi, sehingga anak muda itu menjadi kikuk.
Zaida menghela napas dan meluruskan pandangan. “Kau bilang dia tak pernah menatapmu?”
Javi mengangguk. Zaida kembali terdiam.
“Setidaknya ia jujur padamu.”
“Maksudnya?”
“Dulu Ibu pernah depresi berat. Ibu sering jalan-jalan tanpa arah tujuan. Key yang baru berumur enam tahun sering ditinggal sendirian. Terakhir ia merengek ingin ikut hingga akhirnya Ibu benar membawanya. Tapi Ibu malah melupakannya dan meninggalkannya entah di mana. Orang-orang berdatangan menghampirinya dengan aneka tatapan. Ada menatap iba, mengolok-olok bahkan ejek. Beruntungnya ayah Neal yang saat itu masih hidup menemukannya dan membawa pulang.”
Javi membeku. Ia tidak tahu kalau Key di masa juga mengalami hal seberat itu.
Zaida sesat terdiam. Ia baru menyadari kalau dirinya telah mempercayai Javi. “Sejak itu Ibu bertekad sembuh dan memulai hidup baru. Tapi Key sudah terlanjur memiliki ketraumaan. Ia tak berani menatap, gelisah berada di orang banyak, tapi juga takut sendirian.”
“Bagaimana ia bisa menjalani hidup seperti itu? Bukankah dia SMA bahkan kuliah berpisah dengan Jbu?” Tiba-tiba sesak memenuhi rongga Javi.
“Dia pandai memanipulasi diri sendiri. Makanya ibu bilang, kau jangan sampai menyakitinya juga. Entah apa yang akan terjadi jika dia mengalami hal buruk lagi.”
“Tidak akan. Manipulasi?”
“Jika dia menatap saat berbicara dengan seseorang, itu belum tentu benar-benar menatap. Dia takut sendirian, tapi bisa menstimulasi dirinya seakan bersama orang lain, seperti menyalakan kipas angin atau mendengarkan musik, seakan dia tidak sendiri.”
Javi masih perlu waktu mencerna apa diceritakan Zaida.
“Bahkan sama Ibu, Key tak sepenuhnya jujur. Dia menyembunyikan kesedihan dan masalahnya karena tidak ingin membebani Ibu. Neal anak tetangga kami. Mereka tumbuh bersama. Dia terbiasa bersama Neal. Dia takut ditinggalkan Neal. Karena itulah Key tak bisa menatap orang lain selain Neal.”
“Jika sejauh itu hubungan mereka, itu artinya potensi keberhasilanku makin tipis,” lirih Javi dengan wajah tertunduk.
“Entahlah. Ibu ingin dengar dari dari sisi Key dulu. Jika memang alasannya masuk akal, Ibu akan bantu supaya kalian bisa menikah secepatnya.”
“Terima kasih, Bu,” ucap Javi dengan tersenyum, meski ada cemas yang mengganjal di hatinya.
***
Sayup suara azan membangunkan Key dari alam mimpi. Ia mengerjapkan mata berkali-kali demi mengusir rasa kantuk yang masih saja membelenggu.
“Key, sudah azan.”
“Mmm,” shaut Key sambil menggeliat, tetapi dua detik berikutnya ia terlonjak duduk. “Ibu? Kapan Ibu datang?”
Ia lebih syok ketika menyadari mereka sedang tidak berada di kamarnya. “Kita di mana?”
“Kita di mana? Kau masih belum sadar?!”
Zaida langsung menarik sebuah bantal dan memukulkan ke badan Key. “Bagaimana kau bisa ceroboh sekali?! Bagaimana bisa sampai di sini, heh?!”
“Ampun, Bu. Sebentar-sebentar,” seru Key sambil melindungi badannya dengan mengangkat kedua tangan.
Zaida menghentikan pukulannya. Napasnya tersengal.
Kening Key mengerut. Berusaha meraba-raba ingatan terakhir kali. Ia teringat kemarin ke mall, pulang, kakinya yang pegal, tawaran Javi, setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi. Seketika wajahnya meringis. Fakta tidur di rumah pria membuatnya ingin menenggelamkan diri, belum lagi bagaimana harus menjelaskan kepada wanita yang melahirkannya itu.
“Sudah ingat?!” sindir Ibunya.
Key mendekat dan menarik lengan ibunya. “Bu,” ucap Key dengan nada antara rayuan dan takut.
“Berwudulah, sudah azan. Nanti kita bicarakan lagi,” pinta ibunya lirih.
Key terdiam menatap wajahnya ibunya yang seakan amarah lenyap dan tidak meninggalkan sisa sedikitpun.
“Ayo! Kok malah bengong?”
Key mengangguk cepat dan segera turun, meski ia masih belum mampu mengusir kebingungannya. Sesaat ia kebingungan, karena tidak tahu di mana kamar mandi hingga menemukan sebuah pintu.
Zaida yang melihat tingkah putrinya hanya bisa geleng-geleng kepala.
***
“Bagaimana Ibu sampai ke sini?” cecar Key begitu ia salaman sehabis shalat.
“Lupakan itu. Ibu nanya, bagaimana kamu bisa kamu tidur di sini? Apa yang terjadi? Bahkan pria pemilik rumah ini mengatakan kalian tunangan? Bagaimana dengan Neal?”
Wajah Key tiba-tiba menjadi datar. Ia menundukkan wajah. Tidak tahu harus berucap apa. Terbayang janjinya pada almarhum bapak Neal supaya selalu bersama Neal.
“Javi telah telah cerita banyak. Tapi Ibu ingin dengar dari sisimu. Jujurlah pada Ibu.”
“Jika aku berlepas diri dari Neal, apa aku termasuk ingkar janji?”
“Apa dulu alasannya?”
Key masih terdiam.
“Jujur saja, apa yang kau rasakan? Abaikan dulu bagaimana Ibu juga almarhum bapak Neal. Ibu ingin mendengar suara hatimu.”
Key mengangkat wajahnya. “Ibu janji tidak akan jangan menyalahkanku,” pinta Key.
“Itu tergantung bagaimana nanti. Sekarang Ibu minta kamu jujur pada Ibu. Apa yang kau inginkan?”
Key kembali tertunduk. Takut dan rasa bersalah menjelma. Sesaat ia mengisi rongga paru-paru dengan udara subuh.
“Aku cuma lelah. Aku tau ini sangat egois. Tapi ini hidupku. Aku tidak ingin lagi menghabiskan energiku untuk orang yang tak menghargaiku. Tiba-tiba saja, aku ingin membahagiakan diri. Aku tidak ingin lagi mendukung siapapun. Aku tidak ingin menikahi pria yang masih didukung. Aku akan bekerja keras, tapi semua penghasilan milikku. Aku juga ingin melakukan hal-hal aku sukai. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menikmati hidup ini. Aku ingin menangis dan tertawa secara jujur.”
Zaida termangu. Menatap putrinya yang meluapkan segala rasa seakan tanpa napas. Ia bertanya-tanya berapa banyak penghasilan Key yang telah terforsir pada Neal sampai jadi begini?
Perkataan Javi kembali terngiang.
“Dilihat banyaknya follower, seharusnya Key memiliki banyak penghasilan dari endorse dan afiliasi, tetapi key masih saja tinggal di kos kecil dan mengenalkan pakaian sederhana.”
“Dengan menikahi Javi?”
“Tepatnya menikahi orang kaya?”
Zaida menghempaskan napasnya. “Menikahi orang kaya meski tanpa cinta?”
.jpg)
Komentar
Posting Komentar