Langsung ke konten utama

Narsis Parah (Part 9)

  

Diabaikan Kekasih Diam-diam Menikah dengan Pria Kaya

Narsis Parah (Part 9)


Zaida menghempaskan napasnya. “Menikahi orang kaya meski tanpa cinta?” 

“Apakah di dunia ini masih ada cinta sejati?”

Zaida tercenung. Tiba-tiba hatinya merasa tersayat. Putrinya tak percaya lagi dengan kata cinta dan dirinya punya handil atas semua itu. 

“Bagaimana kalau Javi memperlakukanmu dengan buruk?”

“Aku pernah menghabiskan waktu bersama Javi. Mungkin terlalu singkat untuk bisa dibilang telah mengenalnya, setidaknya ia tidak pernah menyakitiku.”

Zaida menghela napasnya. “Tapi Javi mau pernikahan disegerakan, kau siap?”


***

Javi dan seorang perempuan tua telah berada di ruang makan saat Zaida dan Keyla keluar dari kamarnya. Key mengenali perempuan itu dan tiba-tiba ia menjadi kikuk. Nenek Sarah yang memperhatikan itu, segera menyambutnya. 

Nenek langsung mengulurkan tangan kepada Zaida. 

“Saya Sarah, Neneknya Javi.”

“Zaida, ibunya Keyla,” sambut Zaida canggung. 

“Maaf, pertemuan kita jadi seperti ini. Kemarilah,” Nenek membimbing Key ke meja makan. “Silakan duduk, Bu. Anggaplah rumah sendiri.”

Zaida hanya bisa mengangguk dan mengambil salah satu kursi. Javi memberi isyarat kepada istri Pak Isa yang tak jauh dari situ, kemudian ia beralih ke samping Key. 

“Sebelum Subuh Jav telah memberitahu kalian ada di sini. Setelah shalat Subuh, antara percaya dan tidak Nenek langsung ke sini. Bahkan kamu tidak membalas pesan Nenek.”

“Ah, maaf, Nek. Aku belum membuka aplikasi.”

“Tak apa. Senang bisa bertemu denganmu. Apa tanggal pernikahan sudah ditentukan?” tanya Nenek sambil mengedarkan pandangannya ke Javi, kemudian Zaida. 

“Diusahakan malam ini?”

“Apa? Kalian tidak melakukan tindakan memalukan itu kan?”

“Kenapa Nenek berpikir begitu?” protes Javi.

“Kamu sih! Kebanyakan nikahan grasak-grusuk itu karena ngisi duluan.”

“Tidak, Nek. Aku cuma ingin secepatnya.”

“Mudah ngomongnya. Mesan tempat saja paling nggak sebulan duluan.”

“Nek, ada yang ingin saya sampaikan pada Nenek. Semoga Nenek memaklumi keadaan saya,” sela Key. Ia menundukkan wajahnya. “Tapi, jika memang tak bisa ditoleransi, saya rela mundur dari rencana pernikahan ini. Saya akan kembalikan dari apa telah diberikan pada saya.”

Nenek menatap penuh tanya. 

“Nek, saya mempunyai trauma tak bisa berada di orang banyak bahkan tak bisa menatap orang. Jadi, jika boleh, pernikahan  diadakan yang ada hanya kita.”

Javi meraih tangan Key dan menggenggamnya. Dadanya berdenyut nyeri. Lebih sakit saat dulu Key yang tak pernah mau menatapnya. Andai ia tahu lebih dulu, seharusnya setahun cukup mengobati luka Key.

“Begitu. Tapi, Javi punya kerabat. Mereka harus tahu supaya nggak dikira kumpul kebo.”

Key mengangkat wajahnya. “Nek, beri aku kesempatan ya. Mungkin, setelah beberapa lama berbaur dengan keluarga juga teman Javi aku bisa sedikit lebih berani.”

Javi menggenggam tangan nenek dengan tangan yang satunya. “Aku janji, akan membantu Key melakukan penyembuhan diri. Aku pastikan, suatu saat Nenek bisa memperkenalkan mantu cucu Nenek dengan bangga kepada kerabat. Ya?”

Nenek masih terdiam, tetapi pada akhirnya ia mengangguk. Semua orang di situ seketika tersenyum, termasuk Pak Isa dan istrinya yang menyuguhkan hidangan sarapan. 

“Makanya, Nek. Makin cepat nikah, makin cepat pula kita mengatur langkah selanjutnya.”

Tiba-tiba Nenek menepuk punggung Javi. “Kamu ini, nikah kayak beli permen.”

Nenek beralih pada Zaida. “Bagaimana, Bu?” 

“Sebagai seorang ibu punya anak putri, saya memilih jalan aman. Malam tadi jantung saya hampir copot mengetahui Key ada di sini.”

Kembali Nenek menepuk bahu Javi hingga terdengar erangan. Key tersenyum menatap tingkah cucu nenek itu. 

“Kamu dengar ‘kan? Kehormatan dan wajah itu penting bagi perempuan. Kalian harus janji akan menggelar resepsi setelah ini.”

“Iya, ni. In sya Allah,” sahut Key dan Javi hampir bersamaan. 

“Kalau begitu, hari ini kita ke salon kecantikan dan butik. Nenek ingin melihatmu mengenakan gaun pengantin, pasti cantik sekali. Ibu Key temani kami ya?” Nenek beralih pada Zaida. Perempuan itu hanya bisa mengangguk. Ia masih bertanya-tanya, apakah ia sedang bermimpi. Putrinya tiba-tiba menikah? Bukan dengan Neal?


*** 

Pernikahan  diselenggarakan di rumah Nenek dengan sangat sederhana. Hanya disaksikan oleh Pak Isa beserta istri, bapak Key, art dan sopir Nenek, dua teman Javi sebagai saksi pernikahan _ Indra dan Andika. 

Key keluar kamar digandeng oleh ibunya. Saat mendekati ruang tengah ia menundukkan kepala. Dadanya tiba-tiba berdebar hebat. Keringat mulai membanjiri punggungnya. Sesaat ia menyesali diri. Andai dari dulu ia berani menghadapi dunia, mungkin momen sakral ini akan dilakukan secara besar-besaran. Dulu Key berpikir, trauma akan hilang dengan trik-trik palsu yang telah ia terapkan.

Mendadak langkahnya terhenti. Ia memejamkan mata, mencoba memulai trik palsu, nyatanya gugup mengacaukan konsentrasinya. 

“Key, angkatlah wajahmu. Mereka semua menatapmu penuh suka. Tidak ada yang menjudge atau menatap iba. Terutama Javi, lihatlah matanya. Mengapa Ibu melihatnya seperti telah lama mengenalmu?”

Spontan Key mengangkat wajahnya. Sesaat ia tertegun menatap Javi telah berada di depannya. Ia baru tersadar kalau Javi ternyata memiliki senyuman yang indah dan tatapan  hangat. 

Zaida membimbingnya hingga sampai duduk di samping Javi. 

***

“Cut!” 

Terik matahari membuat Dilan mempercepat langkah dan menghempaskan bokong ke sofa. Iseng membuka ponsel setelah meneguk air mineral. 

[Satu orang lagi teman kita telah melepaskan masa lajangnya. Semoga kau berbahagia sampai tujuh turunan dan tujuh tanjakan Javi] 

Sebuah chat di sertai foto Javi yang sedang menjabat tangan penghulu masuk di grup alumni SMA mereka. Hanya beberapa detik masuk respon dari teman-teman lain. 

[Kenapa ceweknya tidak kau posting Andika?]

[Javi tidak mengizinkan]

[Wkwk. Javi masih seperti yang dulu]

[Tapi kami kan jadi penasaran siapa ceweknya]

[Coba tebak. Jika benar aku traktir makan di sebuah restoran.]

[Ah sebentar lagi kita reunian.]

[Coba tebak. Jika benar, aku pastikan Javi akan menjamu kalian semuanya di acara reunian] 

[Kasih petunjuk dong, Dika. Apa kita mengenalnya?]

[Dia adik kelas kita]

[Serius?]

[Angkatan tahun berapa?]

Otak Dilan segera berputar ketika melihat tahun yang disebutkan Andika. Sayangnya ia tak bisa mencoba menebak satu cewek pun di antara sepuluh kelas. Hanya Key yang bisa ia ingat. 

“Neal, aku sudah lama tidak melihat Key. Kalian bertengkar?”

Neal mengangguk.

“Kenapa?” 

“Entahlah!” 

Dilan mencebik ejek. Kau masih saja memperlakukannya seperti ini. Kau bilang bertengkar, tapi tidak tahu apa masalahnya. Sebenarnya kau cinta atau tidak sih sama dia?”

“Entahlah,” jawab Neal santai kemudian memejamkan mata. Pertemuannya dengan Key di mall kembali mengganggu pikirannya.

“Kau tidak ingin membujuknya?” 

“Kami sering berselisih. Didiamkan, dia pasti datang.”

Dilan mendengus. “Aku peringatkan, jika kau terus seperti ini, kau akan kehilangan dia.”

Neal hanya meresponnya dengan senyumannya. Key telah mengikutinya sejak kecil, bagaimana mungkin tiba-tiba Key meninggalkannya. Pria di mall itu, Neal yakin Key di sana membantu mencari cincin itu atau hanya untuk memanasinya. 

“Kau ingat Javi? Kakak kelas kita di SMA.”

Neal membuka mata. Ia teringat Javi terkenal bermulut kejam dan tak suka didekati, malah membiarkan Key berkeliaran di belakang gedung sekolah. Namun, Neal saat itu percaya dengan karakter Key, gadis itu tidak akan meninggalkannya. 

 “Di antara sekian orang, kenapa kau ingat dia?” protes Neal.

“Dia menikah hari ini. Jika ingat dia,  aku juga teringat Key. “Semua orang tahu, hanya Key yang bisa berkeliaran di dekat Javi. Entah kenapa, aku merasa yang dinikahi Javi itu Key.”

Neal tertawa. “Key menerima Javi dan meninggalkanku? Dari sudut mananya lebih bagusan pria lumpuh daripada aku?” 

Dilan mendengus ejek. “Sepertinya kau mengidap narsis parah. Aku sarankan kau segera cek kesehatan mental.”

“Kau mengataiku?”

“Aku cuma menyarankan.” Dilan berdiri. “Key cantik dan baik, siapapun bisa menyukainya. Andai tidak memandangmu sebagai sahabat, dia tipeku untuk dijadikan istri. Jadi aku ingatkan sekali, jangan sampai kau kehilangan dia.” 

Neal terdiam, menatap punggung Dilan yang menjauh. Sesaat senyum miringnya terbitnya. 

“Key meninggalkanku? Tidak mungkin. Cinta Key padaku dari kecil, jadi mana mungkin bisa berpindah ke orang baru.”

***

Key memejamkan matanya, berharap ia tertidur lebih duluan. Nyatanya, telinganya makin menajam, memindai bunyi shower di kamar mandi bahkan ia dapat merasakan gerakan-gerakan Javi. Shower dimatikan dan tak lama pintu terbuka. Seketika dadanya berdebar keras dan semakin bergemuruh ketika indra penciumannya menangkap aroma vanila lembut semakin dekat. Terlalu dekat malah. 

Kecupan  lembut di dahi yang membuat matanya seketika membuka. 












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.