Hadiah Pagi
(Part 23 Merindu Cahaya di Itaewon)
Pagi ini Heera malas sekali membuka matanya. Entah sudah berapa kali alarm berbunyi, matanya hanya terbuka sedikit, lalu terpejam. Meski matanya tak kunjung terbuka, tetapi nurani terus saja mengusik. Sudah waktunya untuk bercengkrama dengan Robbnya.
“Kenapa mata ini berat sekali?” gerutunya sambil memaksa diri duduk. Gerakannya terhenti ketika merasa tangannya dipegang. Saat itulah ia baru menyadari kalau Eun Sun ada di sampingnya.
Eun Sun ada di sisinya? Sulit untuk mempercayainya. Sejenak memorinya mengulang, apa yang telah terjadi hingga yang dirindukan benar-benar di sampingnya.
Ia masih belum mempercayainya. Kenyataannya, kehangatan itu memang ada. Matanya boleh salah, tapi tidak dengan perasaannya. Ia sangat mengenali, kehangatan khas miliki Eun Sun.
Ia kembali berbaring, menyamping, menatap wajah yang terlihat damai. Dengan tangan yang satunya, ia mengelus wajah Eun Sun dengan lembut sambil meresapi perasaannya. Barulah sekarang ia menyadari, kalau ia sangat mencintai suaminya. Bukan hanya sekadar membutuhkan atau selalu ingin selalu ingin bersama, melainkan ada sebuah rasa yang sulit ia pahami.
Rasa itu membumbung tinggi, tapi juga mengakar dalam. Rasa yang membuat perasaannya lepas bebas dan tertawan secara bersamaan. Perlahan ia memajukan wajah dan mencium lembut pipi Eun Sun.
Sesaat ia mengalihkan pandangannya ke jam dinding. Ia harus siapa-siapa salat tahajud. Perlahan ia bangun dan melepaskan pegangan Eun Sun. Tiba-tiba napasnya tertahan. Eun Sun membuka mata.
“Maaf, telah membuatmu terbangun. Aku tak sengaja,” ucapnya sambil memasang wajah rasa bersalah. “Padahal gerakanku sangat pelan tadi.”
Eun Sun menarik badannya sehingga ia Kembali terbaring. “Aku yang terlalu takut kehilanganmu,” bisik Eun Sun. “Mungkin hanya tidak mendengar napasmu, aku juga akan terjaga.”
Heera terkekeh. “Gombal.” Ia berusaha bangkit, Eun Sun kembali menekannya.
“Sebentar saja.” Eun Sun mengecup rambutnya.
Heera terdiam. Tak berani bergerak.
“Terima kasih,” bisik Eun Sun.
Ia memutar badan, lalu menengadahkan wajahnya, “Untuk apa?”
“Menyayangiku,” sahut Eun Sun dengan mata terpejam. “Dan ….”
“Dan??”
“Menciumku.”
Mata Heera membesar. “Astaga … Jadi kau pura-pura tidur?” Seketika pipinya merona dan terasa berat. Ia menenggelamkannya wajahnya ke dada Eun Sun. Wajahnya terasa berat. Ia tidak akan sanggup memperlihatkan wajah kepada Eun Sun.
Eun Sun tersenyum, lalu mengeratkan pelukannya. “Tidak. Aku tidak berpura-pura padamu. Tadinya aku memang tidur, lalu tiba-tiba ada sentuhan lembut yang membuatku terjaga, lalu ….”
“Hentikan!” jerit Heera. Ia semakin menenggelamkan dirinya. Dada Eun Sun memang membuatnya merasa aman dan terlindungi.
Eun Sun tertawa. “Kenapa malu? Aku justru sangat berterima kasih. Bagiku itu hadiah yang sangat indah di pagi ini.”
“Sudah hentikan. Kumohon!”
Eun Sun memegang kedua bahu Heera, hendak melepaskan pelukannya guna melihat wajah Heera, tetapi perempuan itu malah semakin menenggelamkan dirinya. Eun Sun tersenyum lebar. Ia merasa beruntung memiliki Heera. Ia mengira gadis polos dan pemalu itu sudah punah di era sekarang ini. Kenyataanya masih ada dan ia memilikinya.
“Tapi ini tidak adil lo!”
Heera mengangkat wajahnya. Menengadah, menatap Eun Sun dengan alis terangkat.
Eun Sun mengangguk dan memasang wajah sedih. “Sementara aku belum dikasih kesempatan untuk memberi hadiah.”
“Memangnya kau ingin memberiku apa?” tanya Helana tidak mengerti.
Perlahan Eun Sun memajukan wajahnya. Heera terjengit. Wajahnya termundur beberapa senti. Seketika Eun Sun tertawa melihat wajah istrinya.
“Apanya yang lucu?” Heera mendengus kesal sambil duduk. Ia memang masih belum terbiasa, seharusnya Eun Sun memahaminya bukan malah menertawakannya.
Eun Sun duduk, menatap wajah istrinya yang merengut. Ia semakin gemas. Membuat hasratnya membumbung tinggi. Saat Heera lengah, ia segera meraup kedua kulit merah lembut tersebut. Mata Heera mendelik. Tubuh terjengit. Ia memang tak ingin membuang kesempatan itu, tapi juga tak ingin membuat istrinya ketakutan. Eun Sun melenturkan gerakannya, membiarkan Heera menarik diri. Siapa sangka hal itu membuat tubuh Heera melentur dan terpejam. Lembut, hangat dan penuh rindu. Inilah hadiah pagi untuk perempuan yang sangat dirindukannya.
Eun Sun menarik wajahnya. Perlahan mata Heera membuka. Berpendar. Sayup. “Tidak menakutkan, bukan?”
Heera menenggelamkan wajahnya. Mengusap bibir dengan jarinya, lalu memejamkan mata. Momen itu memang selesai, tetapi detak jantungnya tak kunjung normal.
Eun Sun mengeratkan pelukan. Ia merasakan jelas, jantung Heera yang berpacu cepat. Ia meletakkan kepalanya di atas rambut Heera. Menciumnya sekilas. “Hanya Tuhan yang tahu betapa dalamnya rinduku padamu. Melihatmu seperti ini, betapa besar hasratku ingin mencumbumu. Namun, aku tidak akan bertindak lebih jika itu membuatmu ketakutan.”
Heera mengangkat wajahnya. “Aku tak apa. Aku juga sangat merindukanmu.” Heera menurunkan wajahnya. “Menantikan momen-momen seperti ini. Hanya ada kau … dan aku.”
Eun Sun memegang kedua bahu Heera dan menatap wajah yang bersemu merah. Jarinya menyingsing helai rambut yang menutupi wajah Heera. “Hari ini aku akan izin libur pada ayah. Aku ingin menikmati momen indah ini lebih lama.”
“Tapi …”
Eun Sun meletakkan jari di bibir Heera. “Ayah akan memahaminya.” Ia meletakkan dahinya ke dahi Heera. “Saranghe.”
Heera memejamkan mata. Betapa bisikan itu terasa merdu di telinganya. Syahdu, mengalir damai ke dalam lubuk hatinya. Perlahan ia merasakan sentuhan sama di bibirnya. Sesaat tubuhnya terjengit, namun ia tak ingin diam lagi. Ia ingin membalas pemberian Eun Sun. Kekasih halalnya. Dan hanya dirinya, kekasih halal Eun Sun.
Di saat dimabuk asmara, tiba-tiba sebuah ketukan mengejutkan mereka.
"Ya?" seru Eun Sun tanpa sempat mengendalikan nada suaranya akibat kesel.
"Maaf, Tuan. Nyonya menyuruh saya memanggil kalian."
"Baiklah. Kami akan ke sana," sahut Eun Sun.
Eun Sun kembali memajukan wajahnya, tetapi Heera menarik diri.
"Kita penuhi panggilan Omma dulu, ya," ucap Heera sambil merapikan pakaian yang dikenakannya.
Eun Sun menarik pinggangnya. Ia membatasi bibir Eun Sun dengan jari.
"Memenuhi panggilan itu wajib." Heera kembali mengingatkan.
Eun Sun melepaskan pegangannya, tetapi wajah merengutnya tak kunjung reda.
"Kasihan Omma jika menunggu terlalu lama," bujuk Heera, diiringi dengan sebuah ciuman. "Ayolah, jangan merajuk begitu. Bukankah katanya hari ini kamu akan libur?!"
Eun Sun mengangguk.Wajahnya perlahan mulai ceria. "Kalau begitu, aku peluk lagi sebentar."
Heera terkekeh. Ia memajukan badannya, hingga tubuh mungilnya kembali tenggelam. "Sebentar saja ya."
"Iya."
***
Tanpa sadar mulutnya terbuka. Baru pertama kali Heera melihat tampang Korea memakai baju koko. Warna biru lembut sangat serasi dengan wajah Eun Sun yang bersih.
“Jangan berlebihan!” Eun Sun mengibaskan tangannya.
Heera mengerjap. “Memang tampan sekali.”
Eun Sun berdecak kesal. “Aku tidak akan memakainya kalau saja bukan dari ibuku. Sudah, ah.”
Heera tersenyum. Ia tahu, Eun Sun judes hanyalah untuk menutupi rasa gengsinya. Ia mengikuti Eun Sun hingga sampai di kamar Liana. Liana sudah menunggu lengkap dengan memakai rukuh.
“Kamu tampan sekali, Eun Sun,” ucap Liana.
“Tuh benar, kan?!” timpal Heera.
Eun Sun hanya merespon dengan wajah merengut.
“Maaf, pagi-pagi merepotkan kalian,” ucap Liana.
Eun Sun terkesiap. Ia tersadar kalau telah menyakiti hati ibunya. “Ibu jangan bicara begitu! Sudahlah, kita salat sekarang?”
Liana mengangguk. “Badan ibu rasanya lemas sekali. Ibu salat berbaring saja.”
Eun Sun menatap Heera, Heera membalas dengan anggukan. Heera mendekat. “Iya, kalau memang Omma merasa tidak kuat, sebaiknya berbaring saja.” Heera mencium punggung tangan Liana. “Saya bahagia sekali kita berkumpul seperti ini.”
Liana mengangguk. “Omma juga sangat bahagia. Melihat Eun Sun seperti ini, rasanya sulit sekali menggambarkan betapa bahagianya Omma. Hadiah yang indah di pagi ini.”
“Aku juga bahagia jika Ibu dan Heera bahagia,” ucap Eun Sun, suaranya seperti tercekat. Heera melihat mata Eun Sun mengerjap. Mungkin terlalu aib bagi laki-laki itu menangis.
Mereka melaksanakan salat berjamaah dengan khusyuk dan rasa syukur yang tak terkira. Hanya Tuhan yang dapat tahu bagaimana perasaan Heera. Eun Sun menjadi imam dalam shalatnya. Baginya inilah hadiah terindah di pagi ini.
Airmata mengalir deras di mata Liana. Ia tak menyangka, putranya masih ingat surah Fatihah dan surah pendek. Ia sangat bersyukur, meski bacaan Eun Sun patah-patah.
Memori Eun Sun saat masih kecil berkelabat dalam benaknya. Dulu Eun Sun rajin mengaji, dan mau menghafal surah-surah pendek. Itu dulu, sewaktu rumah tangganya masih utuh. Setelah rumah tangganya berantakan, Eun Sun tak mau lagi mengaji bahkan mengabaikan salat. Ini semua karena kesalahannya. Ia hanya bisa memohon ampun kepada Allah.
Apa pun yang terjadi pada masa lalu mereka, setidaknya ia masih bisa melihat putranya salat dan membaca surah-surah pendek. Ia harus mengucapkan puji syukur kepada Allah.
Liana memejamkan matanya. Ia ikhlas apapun yang terjadi padanya. Ia ikhlas segalanya.

Komentar
Posting Komentar