Langsung ke konten utama

Harapan di Langit Itaewon

Harapan di Langit Itaewon

(Part 26 Merindu Cahaya di Itaewon)





Tiba-tiba Heera terperanjat. Tepat ia memasuki ruang kantor Myung Jun, tiba-tiba bertatap mata dengan seorang laki-laki yang duduk di kursi kerja. Laki-laki itu pun terlihat terkejut.

Matanya mengerjap. Ia masih belum percaya dengan penglihatan. Kenyataannya sosok itu begitu nyata dan ia masih mengenali tatapan mata itu. 

Astaghfirullah. Ia menarik napas lalu mengembuskannya pelan-pelan.

“Eun Sun ssi, apa kabar?” tanyanya dengan formal dan dibuat sedatar mungkin.

“Baik. Bagaimana denganmu?” tanya Eun Sun tanpa beranjak dari tempat duduknya.

“Alhamdulillah, baik.”

“Silakan duduk, Heera,” ucap Myung Sun sambil menggerakkan tangannya.

Heera mengangguk. Tak lama kesan empuk langsung terasa di badannya. Lagi-lagi memori bersama Eun Sun kembali muncul. 

Seketika ia merutuki diri. Kenapa ia jadi seperti ini? Kenapa ia jadi gugup? Bukankah ia sudah bisa menduga akan bertemu Eun Sun di sini?

“Bagaimana kabarnya Hwan Yeong?”


Eun Sun terdiam beberapa saat sebelum mengatakan. “Baik.”

“Oh, syukurlah. Appa ...  maaf, Tuan Myung Sun juga bagaimana kabarnya?”

Myung Sun tersenyum lebar. “Tidak apa. Panggil saja Appa. Kabarku juga baik … Oh iya …” Myung Sun berbalik ke arah Eun Sun. “Eun Sun, ambilkan minuman untuk Heera.”

“Tidak usah repot, Tuan. Saya ke sini cuma sebentar.” Heera membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah kunci dan meletakkan di atas meja. “Saya cuma mau mengantar ini.”

Eun Sun terbelalak. “Hee, bukankah itu sudah kuberikan padamu? Kenapa dikembalikan?”

“Kuliah saya sudah selesai, jadi saya tidak memerlukannya lagi.” Tepatnya ia memang tidak pernah mengambil manfaat dari apartemen itu.

“Tapi ….”

“Omma pernah bilang, apartemen itu kenangan Omma dengan Appa. Lagi pula, saya tak memerlukannya lagi … mm … saya pulang dulu,” ucapnya sambil berdiri.

“Cepat sekali?!” tanya Myung Sun.

“Saya masih ada urusan. Besok pagi saya sudah harus berangkat ke Indonesia. Jadi masih harus mempersiapkan banyak hal.”  Sejujurnya sudah jengah dengan situasi dan riak-riak di hatinya.

“Baiklah kalau begitu. Kami tak dapat memaksa. Hati-hati di jalan.”

“Terima kasih, Tuan.” Ia membungkukkan badannya pada Myung Sun, lalu beralih kepada Eun Sun.

Ia menghempaskan napasnya dengan ketika ketika keluar dari kantor Eun Sun. Ia bertanya-tanya, kenapa serasa ada sayatan di hatinya?

Ah sudahlah, Heera. Indonesia menunggumu.



***


Eun Sun masih termangu ketika Myung Sun menutup pintu setelah Heera pulang.

“Kamu masih mencintainya?” Pertanyaan ayahnya menembus lamunannya.

Eun Sun menarik napas. 

“Kalau kamu memang mencintainya kenapa tidak kembali saja?!”

Eun Sun masih terdiam dengan pertanyaan ayahnya. Ia membuka laci meja kerjanya, lalu mengeluarkan selembar foto. Cukup lama ia mengamati foto itu hingga membuat Myung Sun penasaran.

Myung Sun mengamati foto itu. Sebuah masjid di senja hari. Siluit jingga menyinari seorang perempuan yang tengah berdiri  di anak tangga. Perempuan itu menengadahkan wajahnya dengan mata terpejam.

“Heera?” tanya Myun Sun sambil menunjuk gambar perempuan itu.

Eun Sun mengangguk. Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu berdiri di dekat kaca besar.

“Diam-diam aku memfotonya karena merasa sangat menarik.” Eun Sun mengembuskan napasnya. “Belakangan kusadari … dari matanya yang terpejam menyiratkan kepedihan. Ia juga seakan-akan sedang berdoa.”

Eun Sun menatap ayahnya yang masih menunggu kelanjutan ceritanya.

“Aku bisa menduga apa harapannya.” Myung Jun melihat ada yang tercekat di tenggorokan putranya. “Karena itulah, aku tak datang padanya, meskipun aku masih mencintainya. Lagi pula, yang paling penting adalah memberi dan membuat saling nyaman. Aku berharap, ada orang yang lebih bisa membuatnya nyaman. Aku berharap, ada yang lebih pantas menggenggam tangannya, menggapai doa yang ia panjatkan di tangga masjid itu.”

Eun Sun menyudahi ucapannya, lalu memandang kota Seoul. Menembus sekeping kenangannya bersama Heera.

“Apa yang kamu suka dari Izam?” tanyanya suatu waktu.

Heera mengerucutkan bibirnya, lalu mengerdikkan bahu. “Entahlah. Pastinya, aku nyaman bergaul dengan Izam. Izam cenderung menjaga diri, tidak seperti laki-laki lain yang mudah menyentuh bahkan kadang memeluk tanpa merasa bersalah. Beruntung sekali perempuan yang jadi istrinya. Izam pasti menjadi imam yang baik. Membimbingnya istrinya mengamalkan Islam secara kaffah.” Heera menatapnya. “Aku termasuk perempuan yang mendambakan laki-laki seperti itu.”

Semoga kamu bertemu dengannya laki-laki seperti yang kauinginkan.

***

Indonesia.

Heera menutup bukunya ketika ibunya muncul di balik pintu. Ibunya duduk di samping seraya menghela napas. Ia tahu, jika raut wajah ibunya seperti itu pasti ingin membicarakan hal sama. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjangnya, lalu memejamkan mata.

“Kenapa kamu selalu enggan membicarakannya?!” tanya Raihana.

“Saya selalu merasa lelah jika ibu ingin membicarakan itu.” Ia membuka matanya. “Saya tahu ibu sangat mengharapkannya, sementara saya tak bisa mengabulkannya. Itu yang membuat saya semakin merasa lelah.”

“Lalu, sampai kapan kamu menghindarinya, dan membiarkan dirimu selalu dalam kelelahan?”

“Bu, saya tak menghindarinya. Cuma belum terbuka, itu saja.”

“Sampai kapan? Sementara usiamu semakin bertambah.”

Heera tercenung ketika diingatkan usia. Ia menyadari usianya sudah beranjak dua puluh tujuh tahun. Kenapa ia masih belum bisa memaksa hatinya untuk memikirkan masalah jodoh? 

“Entahlah, Bu. Saat ini, saya hanya ingin terus berbenah diri dengan sambil memperdalam agama. Masalah jodoh, biarlah Allah yang mengaturnya.”

Raihana menghela napas panjang. Heera bisa memahami raut kecewa dari wajahnya ibunya. Ia pun lelah. Setiap kali membicarakan masalah itu, selalu berakhir dengan kekecewaan wajah ibunya.

Ia pun tak habis pikir apa yang telah dilakukannya. Kenapa ia selalu menolak lamaran laki-laki?

Ia memang pernah berjanji untuk bekerja setahun dua tahun dulu, untuk memberi sesuatu pada orang tuanya, meskipun masih belum bisa disebut balas jasa. Karena jasa orang tua tidak akan pernah terlunasi. Akan tetapi, ia pun tidak akan memaksa memenuhinya kalau memang orang tuanya menginginkannya menikah.

Benarkah alasannya ingin memperdalam ilmu agama dulu? Sebelumnya ia memang pernah melakukan kenaifan. Bermimpi mendapatkan jodoh yang saleh. Ah, betapa konyolnya jika mengingat hal itu. Seharusnya ia tahu diri, Allah hanya menjodohkan laki-laki saleh dengan perempuan salehah. 

Setelah itu, ia tak ingin apa-apa lagi. Ia hanya ingin memperdalam agamanya. Hampir seratus persen waktunya ia habiskan untuk itu. Masuk ke universitas berbasis Islam, bergabung dengan komunitas yang aktif dengan kegiatan keagamaan, bahkan ia juga siapkan dirinya untuk menjadi seorang muballighah.

Lingkungan baru yang ia terjuni telah mengenalkannya dengan beberapa pemuda yang memenuhi kretiria seorang pemuda yang pernah diidamkannya dulu. Kendati demikian, ketika ada beberapa di antara mereka yang datang padanya, kenapa hatinya tidak terbuka? Ia sudah melakukan salat istikharah berkali-kali, kenyataannya sama. Perasaannya belum bisa menerima.

Mungkinkah ia masih mengharapkan Eun Sun? Ia meragu atas hal ini. Saat baru saja tiba di Indonesia, tiba-tiba ia melihat sebuah artikel yang judul memuat nama Hwan Yeong. Karena penasaran, ia mengklik artikel itu. 

Artikel itu mengabarkan bahwa Hwan Yeong telah menjalin hubungan seorang aktor dari Kanada. Dari situlah, ia baru tahu kalau Hwan Yeong ternyata menetap di Kanada bersama orang tua yang telah lama tinggal di sana. Ia juga baru tahu, kalau Hwan Yeong tidak pergi bersama dengan Eun Sun.

Sempat artikel itu menyinggung mantan kekasih Hwan Yeong, yang sekarang telah populer di kalangan para pengusaha. 

Jika memang Eun Sun sudah putus dengan Hwan Yeong, kenapa Eun Sun tidak datang padanya? Mungkinkah Eun Sun tidak mempunyai lagi perasaan terhadapnya? Pertanyaan itu dibenarkan oleh sekeping kenangan, saat terakhir ia mampir ke kantor Eun Sun. Eun Sun tidak menunjukkan sikap senang, bahkan sedikitpun Eun Sun tidak beranjak dari duduknya. Jika Eun Sun tidak lagi mencintainya, kenapa ia masih berharap?

Heera mengangkat pergelangannya. Menatap gelang yang diberikan Eun Sun. Ia sudah mencobanya berkali-kali untuk melepaskan gelang itu, hasilnya selalu gagal. Ia juga pernah membawa ke toko perhiasan untuk meminta bantuan mereka. Kenyataannya, ternyata gelang itu telah dikunci. Hanya bisa dibuka oleh orang yang mengetahui kodenya. 

Eun Sun memang pernah berkata kepadanya bahwa ia sendiri yang melepaskan gelang itu, jika memang Heera menginginkannya. Konyol sekali, jika ia harus mencari Eun Sun hanya untuk melepaskan gelang itu.

Lalu kenapa Eun Sun memberinya gelang yang tak bisa dilepas? Mungkinkah Eun Sun tak ingin melepaskan dirinya? Tapi kenapa sampai sekarang Eun Sun tak kunjung datang? Atau mungkin karena saat itu Eun Sun memang tak ingin melepaskannya, dan sekarang perasaannya telah berubah.

Dan sekarang masihkah ia mengharapkan Eun Sun?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.