Langsung ke konten utama

Kesempatan Untuk Cinta

 

Kesempatan Untuk Cinta

(Part 29 Merindu Cahaya di Itaewon)




***


“Alhamdulillah,” sorak Heera ketika ia keluar dari kelasnya. Izam sudah menunggunya di luar.

“Sepertinya dapat nilai A+?!” tanya Izam sambil mensejajari langkah Heeeana.

Heera mengangguk pasti. “Terima kasih, Zam.”

“Itu berkat kerja kerasmu juga,” sahut Izam dengan senyuman lebar.

“Tanpa bantuanmu, belum tentu dalam nilai setinggi ini. Terima kasih,” ucapnya sekali lagi.

“Oke. Sama-sama,” sahut Izam membungkukkan badan.

Heera tertawa melihat tingkah Izam. “Di Malaysia begitu juga, Zam?”

Izam hanya menjawab dengan senyuman.

“Bagaimana kalau aku traktir kamu?” tanya Heera sambil menghadap lurus.

“Seberapa mahal?” canda Izam.

“Eh, matri,” seru Heera sambil memukul-mukul papernya di tangan ke badan Izam. Izam hanya menghindar sambil tertawa.

“Aku senang, kita baikan lagi. Aku sempat khawatir akan kehilangan sahabat terbaikku,” ucap Heera, saat mereka sudah duduk di sebuah kafe pinggir jalan.

Izam tersenyum tipis. “Memang persahabatan itu tak seharusnya melibatkan perasaan. Agar semuanya baik-baik saja.”

Heera tercenung. Tiba-tiba ia ingat kembali harapannya pada Izam. Izam benar-benar seorang imam idaman. Walau tidak ada niatan menikah secepat itu, ia tetap tak bisa berpaling dari pesona Izam. Sekarang semuanya telah pupus.

“Hei, kok melamun?”


Ia hanya merespon dengan tipis.

“Setelah selesai kuliah, kamu punya rencana apa?” Sejenak ia merutuki diri dengan pertanyaan yang tak berfilter.

“Menikah,” jawab Izam santai, tetapi berhasil membuat Heera tersedak.

Izam sedikit panik melihat Heera yang terbatuk-batuk. “Kamu kenapa? Jawabanku aneh?!”

“Tidak,” sahut Heera setelah batuknya reda. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menenangkan diri. Bertepatan dengan itu, ia melihat Eun Sun masuk kantin bersama Hwan Yeong. Terlihat Eun Sun tertawa bersama Hwan Yeong.

Ia mengusap wajahnya, lalu menghela napas. Baru ia tahu, kalau pergi ke Amerika hanyalah alasan Eun Sun supaya tidak bertemu dengannya.

“Jadi hubungan kalian masih seperti itu?” tanya Izam.

“Ya?”

“Hubunganmu dengan Eun Sun?” ulang Izam menggerakkan dagunya ke arah meja Eun Sun dan Hwan Yeong.

“Iya, begitulah,” sahutnya sambil tersenyum pedih.

“Maaf, jika aku terlalu ikut campur,” ucap Izam ketika merasa Heera enggan membicarakannya.

“Tidak apa, Zam. Hubungan kami tak lebih baik, malah semakin buruk. Eun Sun tak pulang lagi ke rumah. Aku tak masalah jika dia memang menginginkan begitu. Akan tetapi, seharusnya dia tetap memikirkan ibunya.” Tiba-tiba Heera tersadar, ia telah membicarakan masalah pribadi pada orang lain. “Maaf, Zam. Tak seharusnya aku bicarakan ini padamu.”

“Tidak apa,” sahut Izam tersenyum tipis. “Sebagai sahabat, memang selayaknya kita berbagi suka dan duka. Hanya saja, posisiku sebagai orang yang pernah menaruh perhatian padamu jadi merasa tidak nyaman.”

Heera tertawa. “Jangan pikirkan itu lagi, Zam. Justru saat seperti ini, aku semakin membutuhkan teman. Dan kamu salah satu temanku.”

Izam mengangguk ragu. “Setelah mengetahui ini, harapanku muncul lagi.”

“Kita jalan-jalan, yuk! Aku butuh refreshing nih.”


***



Heera meletakkan beberapa lembar baju, laptop, semua buku, dan beberapa benda ke atas ranjang. Setelah dirasa cukup, ia memasukkan semuanya ke dalam kopernya kecuali laptop. Ia memasukkan laptop ke dalam tas ransel.

Tanpa Eun Sun, kamar ini benar-benar terasa hampa. Tak ada lagi yang bisa menahan dirinya di sini.

Kenangannya bersama Izam sore tadi kembali berkelabat. Walau bertiga dengan Young See, Izam tetap saja meng-istiemewakannya. Ia mengakui menyukai pemuda itu. Ia ingat betul debaran jantungnya sore tadi, saat bertatap mata dengan Izam. Ia yakin, jantungnya akan pecah jika saja Izam tidak mengalihkan pandangan. Astaghfirullah, desisnya.

Sekali lagi ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kosong. Hampa.

Ia beranjak berdiri. Membuka lemari baju dan menyentuh satu persatu deretan mini dress cantik pemberian Eun Sun.

Kalau hanya untuk menghindariku, kamu tak perlu menjauh dari Omma.


***


Pertama kalinya Heera mengunjungi masjid Itaewon sendirian. Ia tidak mengajak Young See karena merasa tidak enak pada Young See yang notabene-nya non muslim. Sebelumnya ia sudah ada janji dengan Izam agar menunggunya di sana.

Ia bersemangat sekali ketika mendengarkan tausiyah, juga silaturahmi bareng antara sesama muslim di berbagai penjuru dunia. Ia akan memiliki banyak teman. Ia berazam akan memulai langkah untuk menepati janjinya kepada ibunya. Berkerudung.

Ia tak tidak tahu, entah kapan bisa memakai kerudung dengan istikamah. Setidaknya, ia sudah berusaha memulai langkah.

Sesudah salat Zuhur, Izam mengajaknya makan di sekitar kawasan Itaewon. Izam mengajaknya ke sebuah restoran yang menyediakan nasi briani.

“Aku sudah sangat merindukan nasi ini,” ucap Izam, lalu menyuap sesendok nasi.

Heera tersenyum geli melihat Izam yang seperti baru makan setelah seminggu kelaparan.

“Bagaimane, suke tak?” tanya Izam setelah ia menyuap makanannya. Izam memang lebih suka berbahasa Malaysia jika hanya berdua dengan Heera.

“Suke … Lazat sanget.”

Izam tertawa dengan logat Malaysia buatan Heera.

“Sekali-kali kamu cerita tentang India, Zam.”

“Memangnya kamu mau dengar apa?” jawab Izam setelah mulutnya benar-benar kosong.

“Apa saja. Keluargamu atau apapun.”

Izam meletakkan sendok. Menatapnya serius. Ia menjadi salah tingkah dengan pandangan Izam.

“Keluargaku … maksudku, kakek, nenek dan juga beberapa keluarga saudaranya ayahku tinggal di Kashmer.”

Kashmer.  Ia pernah dengar kalau orang-orang Kashmer cantik dan tampan-tampan. Tanpa sadar kepalanya menggangguk, mengingat Izam juga tampan.

Izam bercerita banyak tentang keluarganya. Ia baru tahu, kalau Izam orangnya terbuka. Selama berteman, mereka memang jarang berbicara urusan pribadi.

Ia tak menyangka kalau Izam salah satu cucu dari pemilik perusahaan tekstil ternama di India. Karena selama ini Izam terlihat sederhana, kecuali pulang pergi ke kampus naik mobil pribadi.

“Kapan-kapan kamu ajaklah aku ke India,” kata Heera jenaka. Wajahnya menengadah sambil mengingat-ngingat, “Melihat Sungai Gangga, Taj Mahal, kebun bunga saffron seperti yang kau bilang, ke ….”

“Aku akan membawamu, kalau kamu sudah menikah denganku.”

Mendadak suasana jadi senyap. Entah siapa yang pertama kali terkejut dengan kalimat itu. Napasnya tertahan.

Izam berdeham. “Maaf, bercandaku keterlaluan, ya?”

Heera menyedot minumannya. “Kamu membuatku takut, Zam.”

Izam tersenyum tipis. Agak sumbang. “Aku minta maaf.”

Ia mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya. “Setelah ini ke mana lagi?”

Mereka menyusuri kawasan Itaewon. Sepanjang jalan mereka disuguhi toko-toko pakaian, cendra mata, juga restoran yang menjanjikan kehalalan dan citra rasa yang tak mengecewakan.

Langkahnya terhenti. Menatap dress cantik yang terpasang di balik kaca besar.  Seketika ia tenggelam dalam kenangannya bersama Eun Sun. Tanpa sepengetahuannya, Eun Sun telah membelikan untuknya.

Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Menghalau sebutir cairan yang hampir lolos di matanya.

“Kenapa?” tanya Izam dengan wajah perhatian.

Ia tersenyum kecut. Andai yang di hadapannya adalah Eun Sun, mungkin ia akan menarik Eun Sun ke dalam butik itu.

Tiba-tiba dari arah belakang ada yang berlari hingga menyerempet bahunya. Belum sempat ia berpikir, tiba-tiba masih ada orang berlari ke arahnya. Tepatnya, orang itu sedang mengejar seseorang. Ia tak sempat menghindar. Tubuhnya nyaris oleng, andai Izam tidak tanggap menyanggah badannya 

Seketika ia terkesiap. Tubuhnya mendesir hebat. Kehangatan tangan Izam  telah meng-olengkan akalnya. Matanya terbelalak, bertatapan dengan Izam yang juga menatapnya.

Ia mengira jantungnya akan meledak, andai saja Izam tidak cepat melepaskannya. Napasnya memburu. Tungkainya terasa lepas.

“Sebaiknya kita pulang saja!” ucap Heera gugup. Ia memutarkan pandangan ke sekitarnya supaya tubuhnya lebih relaks. Gagal.

“Tapi sebentar lagi Ashar,” jawab Izam.

“Kalau begitu, aku pulang sendiri.” Heera bergerak cepat tanpa menunggu jawaban Izam.

“Hel, Heera!” Izam berusaha mengejar dan memegangnya. Heera mengibas tangannya sehingga pegangan Izam terlepas. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?”

Ia menatap wajah Izam yang kental dengan kecemasan. Ia menarik napas, lalu mengembuskannya pelan. “Maaf, Zam,” ucapnya diusahakan datar. “Tiba-tiba aku tidak enak badan.”

Izam menghela napas lega. Ia memang sangat mengkhawatirkan Heera. “Baiklah, kalau begitu kita pulang saja.”



***


Tidak nyaman rasa hari-hari bergelut dengan rindu. Tiada hari ia lalui tanpa mengingat dan mengkhawatirkan Eun Sun. Ia memang bisa mengalihkan perhatian dengan kesibukan, lalu berpura-pura baik-baik saja. Hari ini, ia mengaku kalah.

Hari ini, ia telah melakukan kesalahan fatal. Kesalahan yang membuat rindunya memberontak hebat. Menghantam akalnya. Nyaris menghanguskan imannya.

Ia memain-mainkan gelang yang melingkar di pergelangan. Ah, betapa rindu benar-benar menguasainya. Ia bertanya-tanya, apa yang dilakukannya andai bisa bertemu dengan Eun Sun. Menggenggam tangan Eun Sun saja? Itu lebih dari cukup. Ah, kenapa ia menjadi seorang yang sangat menyedihkan.

Ia mengambil ponselnya lalu menyentuh angka satu.

“Assalamualaikum,” terdengar suara dari sana.

“Wa alaikumsalam, Bu.” Tiba-tiba saja air matanya mengalir deras. Ia pun merasa tak perlu membentung air matanya. Ia memang terlalu lelah.

“Hee … Heera. Ada apa, Nak?” Suara ibunya terdengar cemas.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.