Langsung ke konten utama

Membuka Hati

 

Membuka Hati

(Part 27 Merindu Cahaya di Itaewon)





Hasana langsung meloncat begitu motor yang dikemudi kakaknya sampai di halaman.

“Sabar dong, Hasana!” gerutu Heera. Hampir saja motornya oleng kalau saja ia tanggap menahan.

“Aku ga sabar lagi, Kak. Panas sekali.” seru Hasana sambil mengibas-ngibas tangan ke wajah.

Heera hanya bisa geleng-geleng menatap adiknya berjalan setengah berlari ke rumah. Ia memaklumi hal itu. Ia sendiri merasakan gerah yang luar biasa. Panas dan macet. Dua hal yang sampai sekarang masih erat dengan kota Jakarta.

Ia memasang raut bingung ketika melihat Hasana berbalik lagi.

“Ada tamu. Sepertinya ada yang melamar kakak lagi,” bisik Hasana dengan wajah jenaka.

“Hush.” Heera mengibas tangannya. “Jangan ngaur!”

Hasana melipat tangannya ke dada dengan memasang wajah serius. “Aku heran dih, kenapa kakakku wajah culun ini banyak yang ngelamar?”

“Aku kau bilang culun?!” delik Heera.


Hasana mengangguk tanpa dosa. “Iya. Culun, tapi sombongnya ga ketolongan.” 

Hasana berkacak pinggang sambil menatap kakaknya, “Memangnya, Kakak menginginkan laki-laki seperti apa, sih?”

Heera mendesahkan napasnya. Ia merasa tak perlu menjawab kekonyolan Hasana. Yang dipikirkannya sekarang adalah mandi dan istirahat. 

“Hasana, Heera, kemarilah!” panggil ibunya di ruang tamu.

Sesaat Hasana dan Heera bertatapan, lalu melaksanakan perintah ibunya.

“Tante Astuti?” seru Hasana ceria sambil mengulurkan tangannya. “Lama sekali Tante tidak ke sini?”

“Seharusnya kamu yang ke Bandung nengok tante,” sahut perempuan baya yang disebut Tante Astuti oleh Hasana.

Hasana mengangguk hormat pada laki-laki di samping Tante Astuti, Om Hidayat. “Apa kabar, Om?”

“Baik Hasana, kamu juga bagaimana?”

“Alhamdulillah,” jawab Hasana, lalu beralih ke seorang pemuda duduk di sofa tengah. Ia bertanya pada Tante Astuti dengan tatapan.

“Dia Fikri,” jawab Tante Astuti, “waktu kecil, kalian pernah berteman, kan? Sekarang kalian sudah sama-sama besar.”

Hasana tersenyum lebar. “Apa kabar, Kak Fikri? Senang bisa bertemu kembali.”

“Alhamdulillah, baik. Aku juga, senang sekali.”

Heera melakukan hal yang sama dengan Hasana. Hanya saja ia tak sehangat Hasana. Karena sejak tinggal di Korea, ia tidak pernah lagi bertemu keluarga ayah atau ibunya, termasuk Tante Astuti, saudara jauh ayahnya yang tinggal di Bandung.

“Ini Heera yang kuliah di Korea itu?” seru Tante Astuti. “Sekarang sudah sebesar ini. Cantik lagi.” Rasa jengah mulai merayapi wajah Heera.

Heera ingat pernah berteman dengan Fikri, bahkan ia ingat lebih detilnya karena saat itu lebih besar dari Hasana. Hanya saja ia tak bisa bersikap hangat pada Fikri. Heera mencium sesuatu yang tidak nyaman dari pertemuan ini.

“Tante, kami ke dalam dulu. Mau mandi dulu,” ucap Heera undur diri.

Hasana dan Heera masuk ke kamar masing-masing setelah mendapat anggukan dari Tante Astuti.

“Sebentar, ya, Teh,” ucap Raihana lalu beranjak berdiri.

Heera mengusap wajahnya ketika ibunya masuk ke kamarnya. “Ibu, kenapa tidak memberitahukan ini sebelumnya? Saya capek, Bu.”

“Ibu terpaksa. Karena kalau diberitahu sebelum kamu pasti mengelak dengan berbagai alasan.” Raihana memegang bahu putrinya. “Nak, Ibu mohon, cobalah untuk membuka diri.”

“Bu .…”

“Ibu janji, ini yang terakhir kalinya.” Heera terdiam. “Pikirkan masak-masak. Perlu kamu tahu, Fikri telah menyelesaikan S2 nya di Mesir. Sekarang dia sudah mengajar di dua buah Universitas Islam di Bandung. Orang tuanya juga keluarga dekat Ayah. Kita sudah tahu siapa mereka. Kesempatan ini sangat jarang terjadi.”

Heera terkulai lemas. Ia terduduk di ranjang. Ia merasa semakin terhimpit. “Kalau saya menolaknya?”

Raihana tersenyum tipis. “Memang harapan kami, kamu mau menerimanya. Namun, kami tidak memaksa kalau kamu tidak siap. Hanya satu pesan ibu, berilah kesempatan pada hatimu untuk membuka diri.”

Heera mengangguk lambat.

“Cepatlah mandi! Kasihan jika mereka menunggu terlalu lama.”


***


Pembicaraan terlihat hangat ketika Heera bergabung di ruang tengah. Heera memaklumi hal itu, karena keluarganya dan Tante Astuti memang telah lama tidak bertemu.

“Heera, ajaklah Nak Fikri, ke halaman belakang!” perintah Raihana lembut.

Heera mengangguk. Ia berusaha keras supaya bersikap hangat pada mereka. Andai saja pertemuan itu hanya sekadar silaturrahmi, mungkin ia bisa bersikap lebih hangat daripada Hasana.

Heera menggerakkan tangannya tanda mempersilakan.  Fikri mengangguk, lalu mengikut Heera dari belakang.

Suasana nyaman langsung menyambut mata Fikri. Kolam ikan kecil dengan beberapa batang palm merah di sampingnya, dan tak jauh dari kolam ada beberapa anggrek berwarna ungu lembut.

Heera duduk di bibir kolam, sementara Fikri mendekati bunga anggrek. Fikri menyentuh lembut bungga anggrek, seakan-akan takut membuat anggrek itu gugur.

“Kamu masih ingat, kapan terakhir kita bertemu?” tanya Fikri tanpa mengalihkan perhatiannya dari anggrek.

“Iya. Kita bertemu dan sempat bermain di rumah almarhum nenek di Bandung,” sahut Heera sambil menyentuhkan tangannya ke air kolam.

“Dan waktu itu, usia kita masih sekitar sepuluhan tahunan?!”

“Iya.”

“Aku tak menyangka kita bisa bertemu lagi setelah belasan tahun tidak bertemu. Mmm …  sekitar tujuh belas tahunan, ya?”

Heera menghela napasnya pelan. Ia tahu, Fikri hanya mengulur-ngulur waktu. Ah, kenapa ia jadi sensitif begini? Ia menggelengkan kepala. Ia harus membuka dirinya. Untuk masa depannya.

“Iya. Aku tak menyangka.”

Fikri berbalik. “Dan kamu masih ingat, waktu kamu terpelisit di tepi sawah?”

Heera tersenyum geli.

Fikri tersenyum lebar. Lalu ia duduk di bibir kolam, cukup berjarak dengan Heera. “Dan aku menggendongmu sampai ke rumah nenekmu.”

Heera menutup wajah dengan tangan. “Jangan ingatkan itu, aku jadi malu mengingatnya.”

“Senang bisa bertemu lagi,” lirih Fikri sambil menatap kolam. 

Heera tercenung. Ia membuka wajahnya. “Aku juga,” ucapnya gugup.

“Dan sekarang, kamu pasti tahu maksud kedatangan kami ke sini.”

Senyap. Menatap Fikri yang juga menatapnya.

Di matanya Fikri cukup fantastis. Fikri mampu memecah kekakuan dengan cara yang unik, lalu setelah keadaan mencair, tiba-tiba saja Fikri bersikap serius.

Heera mengerjap, lalu menundukkan wajah ke kolam ikan. Ia mengakui, merupakan hal bodoh jika mengabaikan Fikri. Ia sempat berteman dengan Fikri, walaupun cuma beberapa hari. Kebaikan Fikri terlihat jelas dan sampai sekarang tidak berubah.

“Tak ada alasanku untuk menolakmu. Tapi .…”

Fikri mengerutkan keningnya.

“Kadang aku berpikir, bisakah aku mencintai suamiku nantinya? Tentu itu akan menyakitkan dia jika memaksakan aku diri.”

Fikri mendesah pelan. “Cinta? Kuakui, aku masih tabu dalam hal ini dan aku pun tak ingin memikirkannya sekarang. Bagiku, cinta itu hanya pantas dibicarakan dan diungkapkan kepada orang yang halal. Apakah nanti kita bisa memberikan cinta setelah akad itu diucapkan, itu adalah hal lain. Yang terpenting, kita berbuat yang terbaik untuknya. Aku percaya, akhlak Rasulullah, satu-satunya cara yang terbaik untuk meluluhkan hati wanita salehah.”

Kedua mata Heera melebar. Napasnya tertahan. Fakta baru ada pada Fikri membuat matanya terpana.

Heera mengerjap. Dadanya berdebar keras. Ya Allah, inikah jodohnya? Secepat ini perasaannya bertekuk lutut? Sejenak ia mengangkat wajahnya, menatap Fikri yang berpaling dari darinya. Pesona Fikri yang baru dilihatnya, Fikri tipe orang menjaga diri dari perempuan. Apa masih ada alasan untuk menolak Fikri?

“Baiklah, Fikri. Beri aku waktu!”

Fikri berbalik menatapnya. “Berapa lama?”

“Sebenarnya aku mulai menyukaimu. Tapi, tidak salahnya aku bermusyawarah dulu Robbku. Kamu mengerti, kan?”

Fikri mengangguk ragu. “Iya, aku mengerti. Semoga Allah memberi yang terbaik buat kita.”

“Aamiin,” sahut Heera segenap jiwa.

***


Di Malaysia


Izam menyerahkan sebuah dokumen pada rekan kerja, sekaligus sahabatnya dua terakhir ini. Ia mengamati sahabatnya yang memeriksa dokumen tersebut, Eun Sun.

“Kamu masih bersikeras tidak balikan lagi dengan Heera?” tanya Izam.

Gerakan Eun Sun terhenti sebentar, lalu ia kembali menaruh perhatian pada dokumen di tangannya.

“Aku tahu, kamu masih mencintai Heera.”

Eun Sun mendesah, lalu meletakkan dokumen itu di meja. “Cinta saja tidak cukup.”

Izam menatapnya dengan tatapan tanda tanya.

Eun Sun berdiri, menatap foto yang terpajang di kantor Izam. “Kuakui, aku ke sini tidak hanya untuk mengembangkan bisnis. Lebih dari itu, aku ingin belajar banyak hal darimu, dan Islam di sini.” 

Ia berbalik menatap Izam yang menunggu ceritanya. “Aku ke sini untuk Heera. Tapi … Heera bergerak terlalu cepat, hingga sulit bagiku untuk meraihnya. Heera sudah banyak berubah. Ia sudah bisa menjadi dirinya sendiri, sedangkan aku baru merangkak.”

“Aku rasa, Heera tak mempermasalahkan itu kalau ia memang mencintaimu,” tukas Izam.

“Bagiku, Heera menikah denganmu, lebih kusukai daripada menikah denganku yang terlalu awam dalam masalah agama.”

Izam tertawa geli. “Kamu terlalu merendah.”

Eun Sun mendekat. “Aku serius. Kalau kamu mau, aku akan membantumu melamar Heera.”

Izam tertawa lebar.

“Zam, aku tidak bercanda. Dia pernah bilang, kamu tipe pria idamannya.”

“Sudah, lupakanlah. Lagipula Heera sepertinya sudah bertemu dengan laki-laki yang cocok dengannya.”

Eun Sun mengerutkan kening.

“Young See cerita padaku lewat chatt. Setelah sekian tahun hati Heera tertutup, akhirnya ada laki-laki yang bisa menembus hatinya.”

Eun Sun terdiam. Lalu ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. “Syukurlah kalau begitu.”

Izam tersenyum geli melihat sikap Eun Sun. Eun Sun tidak akan bisa menutupi perasaan darinya.

“Kalau boleh tau, siapa laki-laki itu?” Akhirnya Eun Sun tak bisa menahan diri dari penasarannya.

“Masih keluarga dekat Heera, lulusan Mesir, mengeajar di beberapa universitas dan sekarang sedang menempuh S3.”

Eun Sun tersenyum. Senyuman yang ketir di mata Izam. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh bunyi ponsel. Izam mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“Dari Young See.” Izam menyentuh kolom pesan itu. “Zam, ini ada pesan Heera.”

Refleks Eun Sun meluruskan badan ketika mendengar nama Heera.

[Young See, aku sudah berkali-kali salat dan hatiku semakin yakin menerima Fikri.]

“Jadi Fikri namanya,” sela Eun Sun.

Izam hanya mengangguk, lalu meneruskan bacaannya. 

[Tapi, ada satu hal yang mengganjal di hatiku. Bagaimana aku bisa menerima Fikri, sementara aku masih mengenakan barang Eun Sun. Young See bisakah kamu carikan no kontak Eun Sun?]

Kening Eun Sun mengerut tajam. Mencoba mengingat-ngingat apa saja yang diberikannya pada Heera. “Astaghfirullaaah.”

Izam menatapnya heran.

“Aku telah memakaikan gelang ditangannya. Sementara gelang itu, hanya aku yang bisa melepaskannya.”

“Pakai kode?” tanya Izam.

Eun Sun mengangguk. “Zam, aku minjam ponselmu.”


***


Heera menghempaskan ponselnya di atas ranjang. Ia baru saja mengirim pesan pada Young See. Ia sangat berharap, Young See mau mendatangi kantor Eun Sun lalu meminta nomor kontak. Ia sudah memutuskan untuk menerima Fikri, hanya saja harus menyelesaikan urusannya dengan Eun Sun.

“Kenapa urusannya jadi panjang begini?” serunya sambil menghempaskan badannya ke atas ranjang.

Tangannya meraih kembali ponselnya ketika nada panggilnya berdering. Heera tersenyum lebar ketika melihat sebuah nama di layar ponselnya.

“Assalamualaikum, Zam.”

“Wa … waalaikum salam,” sahut sebuah suara di seberang sana setelah sekian lama terdiam. Suara itu terdengar terbata-bata.

“Izam, kamu kenapa? Zam?”

“Aku Eun Sun.”

Heera tersentak. Napasnya tertahan. Ia tak menyangka akan tersambung dengan Eun Sun secepat ini. Apakah selama ini, Young See berhubungan dengan Eun Sun? Berarti Young See tahu keberadaanku Eun Sun, tetapi kenapa Young See tidak pernah cerita padanya? Tapi .... 

Heera kembali memperhatikan layar ponselnya. Tertulis nama Izam. Kenapa memakai ponsel Izam? Bukankah Izam di Malaysia, sedangkan Eun Sun di Korea?

“Heera, kamu ingin melepaskan gelang itu?” Suara di seberang sana menembus lamunannya.

“I ... iya, Eun Sun. Sebutkan saja kodenya,” sahutnya cepat. Ia menjauhkan ponselnya supaya Eun Sun tidak mendengar napas kerasnya. 

“Tidak. Harus aku sendiri yang melepaskannya.”

“Maksudmu?” tanyanya heran.

“Aku telah berjanji, aku sendiri yang melepaskannya. Jadi aku harus menepatinya. Di mana kita bertemu?”

Heera mendesah. Ia tak habis jalan pikir Eun Sun. Ia lupa, apakah memang Eun Sun pernah mengucapkannya. Kalaupun iya, itu bukankah suatu hal yang merepotkan?!

“Eun Sun, aku tak mengerti jalan pikiranmu. Bagaimana kita bisa bertemu, sedangkan jarak kita sangat jauh? Itu tentu sangat merepotkan.”

“Aku ada di Malaysia. Kita bertemu di masjid Itaewon.”

“Tapi .…”

“Kukirimi kamu dua tiket. Besok kita bertemu di Itaewon.”

“Eun Sun?! Eun Sun .…”

Heera mendecak kesal. Eun Sun memang tak pernah berubah.


***


Eun Sun menghela napas panjangnya, seakan-akan baru saja datang dari perjalanan jauh. Sejenak ia menatap Izam yang menatapnya heran. Eun Sun merentangkan tangannya di sandaran sofa.

“Kamu akan bertemu dengannya di Itaewon?” tanya Izam.

Eun Sun mengangguk.

“Hanya untuk melepaskan gelang itu? Kenapa tidak kau beritahu saja kodenya?” tanya Izam semakin heran.

“Aku juga tidak mengerti,” gumamnya. “Aku juga meragukan apa yang kuucapkan tadi. Sepertinya aku tidak mengatakan itu padanya. Ah … sudahlah!” Eun Sun berdiri, lalu mengambil dokumen yang sempat terabaikan. “Pesan empat tiket ke Korea. Hari ini juga.”

“Empat tiket?” tanya Izam heran.

“Iya. Dua dari Indonesia ke Korea, lalu kaukirim ke Heera, dua untuk kita.”

“Kita? Maksudmu aku?” tanya Izam semakin heran.

“Iya, kamu. Beritahu aku langsung kalau kamu sudah mendapatkannya,” seru Eun Sun, lalu hilang di balik pintu.

Izam shock melihat sikap Eun Sun. Begitu mudahnya bilang kalau ia juga harus ke Korea tanpa meminta atau memberi penjelasan terlebih dahulu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.