Langsung ke konten utama

Pertemuan


Pertemuan

(Part 22 Merindu Cahaya di Itaewon)




 Ia memain-mainkan gelang yang melingkar di pergelangan. Ah, betapa rindu benar-benar menguasainya. Ia bertanya-tanya, apa yang dilakukannya andai bisa bertemu dengan Eun Sun. Menggenggam tangan Eun Sun saja? Itu lebih dari cukup. Ah, kenapa ia menjadi seorang yang sangat menyedihkan.

Ia mengambil ponselnya lalu menyentuh angka satu.

“Assalamualaikum,” terdengar suara dari sana. 

“Wa alaikumsalam, Bu.” Tiba-tiba saja air matanya mengalir deras. Ia pun merasa tak perlu membentung air matanya. Ia memang terlalu lelah.

“Hee … Heera. Ada apa, Nak?” Suara ibunya terdengar cemas.

Entah berapa menit ia terus menangis. Ibunya pun dengan sabar mendengarkan tangisannya dan menunggunya sampai putrinya bisa bercerita.

Tak ada yang perlu disembunyikan dari ibunya. Ia tak kuasa lagi berpura-pura tegar. Berpura-pura bisa berjalan sendiri.

“Nak, kalau kamu mencintainya kenapa tidak kamu datang padanya?” tanya ibunya lembut.

“Saya tidak tahu, apakah dia masih mencintaiku.”


“Jika dilihat dari ceritamu, ibu yakin, dia masih mencintaimu. Penghindaran bisa merupakan wujud rindu yang tak terbentung.”

“Tapi saya takut, Bu.”

“Hee, dengarkan ibu. Janganlah menyeberang jembatan, sebelum kamu sampai jembatan itu. Ibu memahami ketakutanmu dengan yang akan datang. Yang harus kamu sadari, kalian menjalani saat ini, bukan nanti. Terlepas apakah kalian akan berpisah atau tetap bersama, itu masih rahasia takdir. Tidak ada yang bisa menduganya. Walau kita yakin suatu saat akan berpisah, menurut ibu, kalian berjalan bersama saat ini adalah lebih baik. Sama-sama saling mencurahkan hingga sama-sama tenang. Daripada sekarang, situasi seperti ini rentan sekali mengundang fitnah.”

Heera terdiam, mencerna nasihat ibunya.

“Bagaimanapun kalian sama-sama mempunyai hak dan kewajiban. Apakah nanti akan berpisah, kalian tetap dituntut dengan kewajiban saat ini.”

“Bu, masalah kewajiban. Selain sebagai istri, saya juga punya kewajiban menaati Allah, di antaranya berjilbab. Dan saat ini, saya belum sangup. Saya mengharapkan imam yang mampu membimbing saya untuk amalkan Islam. Sedangkan Eun Sun …,” ucapan Heera terhenti. 

Ia teringat penolakan Eun Sun di Itaewon. Eun Sun tidak mau salat, padahal pada saat santai. Kalaupun ia kembali bersama Eun Sun, bisakah ia menutup mata dari kelalaian Eun Sun? Bisakah membawa Eun Sun ke jalan hidayah? Atau jangan-jangan terbawa dengan pandangan dan gaya hidup Eun Sun. Membayangkannya saja membuatnya merinding.

“Heera!!”

“I –I ya, Bu,” sahut Heera tergagap.

“Hee, Ibu mengerti keinginanmu. Ibu juga tahu lemahnya kamu. Tapi, menurut ibu … Saat ini kamu seperti sedang keracunan, dan kamu menolak dikasih penawarnya hanya karena menurut kamu komposisinya tidak ampuh.  Itu terlalu konyol. Dengan menolak, itu berarti kehancuran. Sedangkan jika meminumnya, walaupun tidak sembuh total, setidaknya masih ada kesempatan untuk berbuat yang lebih baik.”

Hening beberapa saat.

“Iya, Bu. Saya mengerti. Tapi …,” Heera ragu apakah Eun Sun masih mencintainya.

“Tidak salahnya kamu datang padanya. Buang rasa gengsi, malu atau takut. Datanglah dan selesaikan.”

Heera menghela napasnya. “Insya Allah. Terima kasih, Bu. Doakan saya," pintanya ragu 

“Iya, ibu selalu mendoakanmu, Nak.”


***


“Oke, datanglah dan selesaikan. 

Gumamnya seakan mengaku kalah pada dirinya sendiri. Sejenak ia mendongakkan kepalanya. Menatap gedung pencakar langit di hadapannya.

Gerakan lift menuju lantai lima belas terasa lambat. Ia harus bersabar menunggu jalannya lift selantai demi lantai dengan pertarungan yang masih bergemuruh di dalam batinnya.

Tiba saatnya sampai di lantai lima belas. Ia menghela napas panjangnya. Ia melangkah ragu. Apakah harus diteruskan atau pulang saja. Ah, dia tak bisa membayangkan kalau Eun Sun menolaknya nanti.

Langkahnya makin lambat ketika dari kejauhan ia sudah melihat pintu kantor Eun Sun. Dadanya makin bergemuruh hebat. Apa yang akan dikatakannya nanti? Masihkah ada cinta Eun Sun untuknya? Dan berbagai pertanyaan yang membuatnya ingin kembali. Sayangnya, usahanya sudah terlalu jauh. Terlalu  tolol kalau memutuskan pulang.

Gerakannya terhenti. Matanya melebar. Eun Sun dan Hwan Yeong keluar dari ruangan itu. Darahnya mendesir. Ia tak perlu melangkah lagi. Apa yang terlihat, sudah cukup sebagai jawabannya. 

“Heera?”

Ia terkesiap. Seakan-akan baru saja kembali dari dunia lain. Ia menoleh ke kiri ke kanan. Rupanya liftnya sudah berhenti. 

“Appa?!” ucapnya, lalu membungkukkan badan kepada ayah mertuanya.

“Senang bisa melihatmu,” ucap Myung Sun dengan senyuman lebar.

“Saya juga senang bisa bertemu Appa,” ucapnya seramah mungkin. “Mmm, permisi, saya harus pergi. Selamat Malam.” Kembali ia membungkukkan badan.

“Selamat malam juga. Hati-hati di jalan," ucap Myung Sun heran.

Ia mengangguk. “Terima kasih.”


***


“Eun Sun, aku ingin kau menemaniku,” rajuk Hwan Yeong.

“Hwan Yeong, mengertilah, aku lagi sibuk.” Eun Sun menghela napasnya, setelah menatap Hwan Yeong terlihat shock. Ia sadar diri kalau bicaranya terlalu kasar.

“Hwan Yeong,” ucapnya diusahakan selembut mungkin, ukuran lembut bagi orang yang lagi kesal. “Mengertilah, aku tak bisa meninggalkan pekerjaan ini.”

Wajah Hwan Yeong dilumuri raut kecewa.

Ia memegang pundak Hwan Yeong. “Aku janji, akan menemanimu di lain waktu. Oke.”

“Baiklah,” sahut Hwan Yeong setelah terdiam beberapa detik. “Aku pegang janjimu.”

Eun Sun mengangguk pasti.

“Baiklah, aku pergi dulu.”

Eun Sun mengantar Hwan Yeong sampai ke pintu. “Hati-hati di jalan.”

Hwan Yeong hanya menjawab dengan anggukan, lalu mencium pipinya.

Sepeninggalan Hwan Yeong, Eun Sun termenung di sofa. Ia tak sepenuhnya jujur kepada Hwan Yeong. Ia memang masih mempunyai pekerjaan, tetapi tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak permintaan sang kekasih.

Ia hanya sedang tidak berselera untuk keluar. Dengan siapa pun. Tak terkecuali Hwan Yeong, kekasihnya. Ia menyadarkan punggungnya ke sandaran sofa, lalu memejamkan mata. Ia tak bisa lagi mengabaikan lelahnya, tetapi tak tahu bagaimana membuangnya.

Matanya terbuka tatkala terdengar bunyi pintu.  Kembali ia memejamkan mata ketika tahu yang masuk adalah ayahnya.

“Kenapa kusut begitu? Bukankah sudah bertemu Heera?”

“Ayah bicara apa?” sahutnya dengan masih terpejam.

“Bukankah tadi Heera ke sini?”

Matanya terbuka. Ia meluruskan badannya sambil menatap tanya pada ayahnya.

“Tadi aku bertemu dengannya di lobby. Jadi, ia tidak ke sini?”

“Sudah lama?”

“Baru saja.”

Ia langsung berdiri, lalu berlari ke luar.

Eun Sun tak bisa berdiri tenang di dalam lift. Andai lift itu manusia, tentu ia akan memukulnya. Memaksanya agar bergerak cepat.

Ia langsung berlari keluar begitu pintu lift terbuka. Ia memutar pandangannya ke sekitar halaman gedung sambil mencermati satu persatu perempuan yang dilihatnya. Hasilnya nihil. Ia mengerang keras.


***


Heera tak yakin apakah kakinya bisa bertahan sampai ke rumah. Badan dan perasaannya sudah terlalu lelah. Kakinya sudah mau lepas. Sekarang ia masih harus berjalan dari halte ke rumah Liana. Ia sempat merutuki diri, kenapa tidak memakai jasa taksi saja hingga sampai ke depan rumah. 

Tiba di halaman rumah, langkahnya terhenti. Matanya mengerjap. Mungkin ia salah lihat. Eun Sun telah berdiri di halaman rumah.

Eun Sun melangkah cepat ke arahnya. “Heera!”

Heera masih belum bisa mempercayai penglihatan dan pendengarannya.

"Oppa?!” Ternyata ia juga merindukan menyebut Oppa. 

“Ayah bilang kamu ke kantor.”

Heera menunduk. Menatap telapak tangannya yang dipegang Eun Sun. Kini ia yakin semuanya. Kehangatan telapak tangan Eun begitu nyata.

“Katakanlah, kamu tadi ke kantorku, kan? Kamu datang kepadaku, kan?”

Heera ragu menjawabnya.

“Katakanlah!” desak Eun Sun. “Kamu ke sana untukku, kan?”

Heera menatap dalam mata Eun Sun. Ia masih belum bisa melupakan apa yang dilihatnya tadi.  Luka itu telah menghanguskan rindu dan harapannya. Sekarang yang ada hanyalah keputus asaan.

 “Kalau mau bertemu Omma, naiklah!” ucapnya datar.

Langkahnya terhenti. Eun Sun menangkap sebelah tangannya. 

“Kalau begitu, aku yang datang padamu,” lirih Eun Sun. 

Heera berbalik. Menatap lurus wajah Eun Sun. Berharap ada setitik kebohongan agar ia bisa membantah. Kenyataannya nihil. 

Eun Sun mendekat, lalu membawa tubuh lelahnya dalam pelukan.

“Aku … sangat merindukanmu,” bisik Eun Sun. "Sangat."

Heera memejamkan mata. Membiarkan seluruh lelahnya mengalir seiring napas Eun Sun di telinganya. “Aku juga,” ucapnya nyaris tak terdengar.

***


Pagi ini Heera malas sekali membuka matanya. Entah sudah berapa kali alarm berbunyi, matanya hanya terbuka sedikit, lalu terpejam. Meski matanya tak kunjung terbuka, namun nurani terus saja menyuruhnya bangun untuk shalat. Sudah waktunya untuk bercengkrama dengan Robbnya. 

“Kenapa mata ini berat sekali?” gerutunya sambil memaksa diri duduk. Gerakannya terhenti ketika merasa tangannya dipegang. Saat itulah ia baru menyadari kalau Eun Sun ada di sampingnya. 

Eun Sun ada di sisinya?





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.