Langsung ke konten utama

Satu Kata

Satu Kata

(Part 28 Merindu Cahaya di Itaewon)





Eun Sun dan Izam duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon halaman masjid Itaewon.  Izam sedang memikirkan kenapa ia ada di sini untuk urusan yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Eun Sun juga bukanlah atasannya yang seenaknya bisa memerintahnya. Ia dengan Eun Sun hanyalah patner kerja. 

Izam menoleh menoleh ke Eun Sun yang sedang meneguk minuman botol. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Eun Sun menyeretnya ke Korea. Ia bertanya-tanya, mungkinkah ini sifat Eun Sun sebenarnya? Mungkinkah karena sifat itu, Eun Sun dengan mudah menangkap calon kliennya? Hingga perusahaan ayahnya menggurita sampai ke Malaysia.

Di sisi lain, Eun Sun juga terlihat lemah. Eun Sun tak bisa meluluhkan hati ibunya sewaktu dipaksa menikah dengan Heera. Eun Sun tak bisa memilih antara Hwan Yeong dan Heera, bahkan Eun Sun memilih berlepas dari keduanya.  Mungkinkah kelemahan Eun Sun hanya pada ibunya, Heera, dan Hwan Yeong? Sehingga tidak dapat menentukan pilihan. Tanpa sadar kepala Izam mengangguk.

“Mereka sudah datang,” seru Eun Sun membangunkan lamunannya. Terlihat Heera dengan seorang gadis bergerak ke arahnya. Izam mengira, gadis itulah Hasana, adik Heera. Heera pernah menyebut nama Hasana, tetapi baru kali ini ia melihatnya.

“Assalamualaikum,” ucap Heera dengan senyum cerah. “Senang dapat bertemu denganmu, Zam. Apa kabar?”


Eun Sun mendeham. Izam tersenyum geli. Ia mengerti, Eun Sun kesal kenapa Heera hanya menyebut senang bertemu dengannya.

“Alhamdulillah, aku baik. Aku juga senang bisa berjumpa denganmu. Lama sekali kita tidak bertemu. Oh, iya, ini Hasana, adikmu?”

"Iya,” ucap Heera, seakan-akan baru teringat. “Zam, perkenalkan Hasana, adikku. Hasana, Izam sahabat baikku.”

Hasana menyapa ramah, begitu juga sebaliknya.

Eun Sun kembali mendeham. “Heera, bisa sekarang?”

Izam terkesiap. “Sekarang?! Tidakkah mereka istirahat dulu atau kita jalan-jalan sebentar?!”

“Tidak usah, Zam. Kami hanya sebentar, kami harus pulang malam ini juga,” sela Heera. “Ayo, Eun Sun.”

Eun Sun menggerakkan tangannya mempersilakan.


***


Eun Sun terlihat gusar selama menunggu Heera. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa tidak beritahu saja kode lewat telpon. Ia menghabiskan minuman yang entah sudah botol ke berapa.

Ia bernapas lega ketika dari kejauhan melihat sosok Heera bersama Hasana. Ia pernah bertemu Hasana saat pernikahannya dengan Heera. Heera sekarang telah banyak berubah. Gamis berwarna rust dilengkapi dengan kerudung lebar berwarna senada membalut diri Heera, tanpa pernik lainnya. Heera terlihat lebih dewasa dan sangat sederhana sekarang. Justru pada Hasana ia melihat diri Heera yang dulu, bedanya Hasana memakai kerudung. Hasana memakai kaos putih, celana rok berwarna pink senada dengan kerudungnya. Ia bertanya-tanya, apakah Heera masih menyukai dress selutut tanpa lengan?

Ia tak bisa mengendalikan ekspresi senangnya ketika bertemu Heera. Sayangnya, keceriaannya jadi memudar akibat sikap dingin Heera, bahkan mengabaikan. Heera bersikap hangat hanya kepada Izam. Sekuat tenaga ia menahan kesal dalam dirinya.

“Heera, bisa sekarang?” ucapnya.

Heera mengangguk. Ia melangkah menaiki anak tangga, tanpa bersuara Heera mengikuti di belakang. Ia melangkah pelan. Ia tenggelam dalam kepingan-kepingan masa lalu yang indah bersama Heera. Tepat di tengah tangga ia berhenti. Heera pun menghentikan langkah, tepat berdiri lurus di hadapan Eun Sun.

Heera mengitari ke sekelilingnya. Meski sepi, ia tetap tidak mengerti kenapa Eun Sun membawanya di tempat terbuka seperti ini.

“Aku juga tidak mengerti, kenapa jadi membawamu ke sini. Mungkin karena ini adalah tempat favoritmu. Jadi yang kuingat hanyalah di sini.”

Hening. Entah siapa yang pertama kali terkejut. Eun Sun mendeham, lalu mengalihkan pandangannya.

“Apa kabar, Hee?”  tanyanya pelan.

“Alhamdulillah, baik. Bagaimana kabarmu? Juga ayah … maksudku Tuan Myung Sun?”

Eun Sun mendesah, “Alhamdulillah, aku baik. Ayah juga. Senang bertemu denganmu,” ucap Eun Sun jujur. Ia merasakan perasaannya mulai berbelok arah dari awal tujuannya.

“Aku juga,” jawab Heera dengan senyuman tipis. Sambil memalingkan pandangannya.

Eun Sun tersenyum lega ketika sempat melihat kilatan cerah dari mata Heera, meski hanya beberapa detik.

“Oh, iya. Mana gelangnya ya?” tanya Eun Sun tiba-tiba.

“Tidak bisakah, kamu sebutkan saja kodenya?” sahut Heera balik bertanya.

“Agak susah menjelaskannya. Sudahlah, sini tangannya, lagi pula kamu memakai baju lengan panjang, dan kamu tak perlu menyingkap lenganmu.”

Heera mengangguk ragu. Ia mengangkat tangannya.

Eun Sun mendekat selangkah. Memerhatikan gelang itu, lalu menyentuh pengait gelang itu yang berbentuk putaran.

Dada Eun Sun berdebar hebat. Ia mengakui, perasaannya tidak menyetujui tindakannya. Namun, ia tetap bersikeras karena ini demi kebaikan Heera.

Ia memutar sekali, hingga berbunyi klik. “Gelang dikunci oleh tingga putaran, kombinasi dari dua angka dua angka. Jadi aku harus memutarnya tiga kali.” Eun Sun merasakan jelas napasnya yang tertahan.  Putaran keduanya semakin melambat. Batinnya berteriak keras melarangnya. Ia bernapas keras ketika terdengar bunyi klik di putaran kedua.

“Sekali lagi,” ucapnya. Entahnya kenapa, pandangan matanya tertuju pada sebelah tangan Heera yang satunya. Tangan itu berpegang erat pada kain gamis yang dikenakan Heera. Meskipun samar, ia melihat jelas getaran pada tangan itu.

Eun Sun batal melepaskan gelang itu. Heera yang menatapnya heran.

“Kenapa kita harus melepaskan apa yang telah terkunci dengan suka cita?”

Mulut Heera ternganga, lalu menutup kembali. Matanya mengerjap. “Apa maksudmu?”

“Tak perlu kuulang lagi. Kamu pasti memahaminya,” tukas Eun Sun.

Heera menghela napasnya. Eun Sun melihat jelas guratan di wajah itu. Antara kesal, senang, kaget, sekaligus marah.

"Kamu tau, aku akan menikah."

"Kamu tidak mencintainya. Jangan membohonginya dan dirimu sendiri."

Heera mengerang kesal. Lebih tepatnya, ia kesal pada diri sendiri yang mulai tergoda dengan ucapan Eun Sun. 

“Oke. Katakan satu kata saja, agar aku bisa mempertahankan gelang ini!” ucap Heera dengan tatapan tajam. Tatapan yang selalu membuat dada Eun Sun bergetar hebat.

“Hanya satu?”

“Iya. Hanya satu,” tegas Heera. Tepatnya ia ingin membuat sekak Eun Sun.

Eun Sun terdiam. Ia mendongakkan kepalanya ke langit yang menaungi masjid. Hingga beberapa detik, ia menurunkan wajah, lalu menatap Heera. 

“Satu kata?”

 Heera menantangnya dengan tatapan 

Terlihat Eun Sun sedang mempertimbangkannya. “Jujur.”

“Jujur?” desis Heera. 

Eun Sun mengangguk. “Aku tidak apa-apanya jika dibandingkan dengan laki-laki yang telah melamarmu. Dalam masalah agama, aku tak bisa diandalkan dan aku juga tak bisa berjanji apa-apa padamu. Inilah aku apa adanya. Hanya satu yang kuminta darimu, jujurlah pada perasaanmu! Aku tahu, perasaanmu masih ada untukku sebagaimana perasaanku selalu untukmu.”

Mata Heera membesar. Sejuta emosi ingin berloncatan dari matanya. “Kalau memang kaukatakan benar, kenapa kau tidak datang menemuiku dari dulu?” tanya Heera getir. 

Ia teringat perasaannya saat kehilangan Liana dan Eun Sun bersamaan. Ia tidak bis membayangkan bagaimana keadaannya jika tanpa dukungan orang-orang terdekat. Ia menengadahkan wajahnya, menatap langit yang memayungi masjid Itaewon juga mereka berdua.

“Itu karena aku mencintaimu.”

Sontak Heera berpaling, menatap Eun Sun dengan tanda tanya. Setengah mengejek. 

Eun Sun tertunduk. “Aku akui aku salah. Aku perlu waktu untuk merenungkan semuanya. Saat aku bisa melepaskan Hwang Yeong, kau saat itu sudah tenang dan bangkit kembali. Aku lihat, Izam juga sering menemanimu. Aku teringat kalau juga pernah menaruh perasaan padanya.”

“Itu ….”

“Aku tahu perasaanmu tak mudah berubah,” potong Eun Sun. “Tapi aku kehilangan kepercayaan diri untuk mendekatimu. Bagiku, aku lebih bahagia melihat kau dengan Izam, laki-laki yang akan bisa membimbingmu ketibang aku yang tidak tahu apa-apa. Aku hanya akan menyusahkanmu.” 

“Eun Sun ….” Mata Heera berpendar, menatap laki-laki yang pernah jadi kekasihnya. Antara haru dan kecewa. 

“Lalu setelah sekian lama, aku tak bisa mengenyahkan bayanganmu di hatiku, akhirnya aku coba berdamai dengan perasaanku. Aku coba meraihmu. Mencoba jadi lelaki yang layak menjadi imammu, tetapi aku tak bisa mengimbangimu. Perubahanmu sangat cepat, sedang aku hanya merayap di sela-sela tugasku sebagai pengemban perusahaan ayah. Hingga aku pasrah, aku akan bahagia selama kamu bahagia. 

Mata Heera berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau Eun Sun diam-diam memperhatikan langkahnya. Ia sempat salah paham dengan Eun Sun. 

“Tetapi ….” Eun Sun menelan ludah. “Setelah bertemu denganmu, setelah yakin kau juga mencintaiku, aku memberanikan diri untuk melamarmu. Kuharap kau memberi kesempatan padaku dan perasaanmu.”

Heera mengalihkan pandangannya. Mengembuskan napas secara perlahan. Penjelasan Eun Sun telah menerjang keyakinan yang sejak tadi berusaha ia tahan agar tidak roboh. Tidak. Bukan tangan Eun Sun, melainkan tangannya sendiri. 

Ia tidak bisa membohongi diri rasa senangnya ketika bertemu Eun Sun. Sekuatnya tenaga ia bersikap dingin agar sifat lamanya terhadap Eun Sun tidak menjelma. Ia menyadari, ia tidak rela gelang itu terlepas dari tangannya karena itu hadiah dari Eun Sun. 

Namun, sekuat tenaga ia tahan, demi masa depannya. Ia sudah memutuskan akan melangkah bersama Fikri. Kini, pertahanannya telah goyah.

 “Maafkan aku, Eun Sun. Kuhargai perasaanmu, dan di mataku kau adalah laki-laki dan berhak menjadi imam bagi perempuan muslimah manapun. Hanya saja,   aku sudah mengambil keputusan,” ucap Heera sambil menggenggam tangannya. Ia merasakan, seakan-akan pori-pori tangannya terus bergerak-gerak. 

“Maafkan aku, Eun Sun. Kuhargai perasaanmu, dan di mataku kau adalah laki-laki dan berhak menjadi imam bagi perempuan muslimah manapun. Hanya saja,   aku sudah mengambil keputusan,” ucap Heera sambil menggenggam tangannya. Ia merasakan, seakan-akan pori-pori tangannya terus bergerak-gerak. 

Ia tidak akan merubah keputusannya. Ia tidak akan salah memilih Fikri. Meski harus melukai Eun Sun, juga dirinya. Meski  dirinya merindukan kehangatan dan kasih sayang tangan Eun Sun.

“Baiklah, kalau begitu. Aku beritahu dua angka terakhir. Kau bisa melepasnya sendiri. Tetapi aku berharap kamu merubah keputusanmu,” ucap Eun Sun. 

Heera mengerutkan keningannya.

“Setidaknya sampai ujung tangga itu?!” tunjuk dagu Eun Sun pada anak tangga paling bawah. “Setelah itu, aku tidak akan berharap lagi.”

Ini konyol. Ia tidak akan mengubah keputusan hanya karena tuntutan perasaannya yang menginginkan tangan Eun Sun. Ia percaya, kelak tangannya akan bisa beradaptasi dengan jodoh yang memang disiapkan untuknya. 

“Baiklah!”

Heera tahu ini percuma saja, tetapi ia tidak ingin mengecewakan Eun Sun.

“Terima kasih.”

Heera mengangguk. “Tapi … bagaimana nanti aku bisa menyerahkan gelang ini?”

“Itu sudah milikmu. Kau bisa menjual dan memberikannya ke orang lain kalau itu memang menggangumu.”

Heera mengangguk. Sejenak ia menatap Eun Sun sebelum mengucapkan, “Assalamu alaikum.”

“Wa alaikum salam.” 

Eun Sun harap cemas menatap Heera yang menuruni anak tangga satu persatu. Makin lama, jantungnya semakin berdetak cepat seiring dengan Heera yang menjauh. Hingga tangga terakhir, Eun Sun memejamkan mata, lalu berbalik. Meski bisa menduganya, ia tidak sanggup melihat Heera mengangkat kaki tanpa berbalik ke arahnya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.