Tahajud di Langit Itaewon
(Part 30 Merindu Cahaya di Itaewon)
Salat Tahajud selalu menghiasi ujung malam-malam bahagia mereka. Salat Tahajud, bagai perjanjian yang tak terucap. Kebahagian tanpa diminta.
Selesai salat Heera mendekat, lalu mencium tangan suaminya dengan takzim. Suaminya membalas dengan ciuman sepenuh kasih sayang di ubun-ubunnya.
“Pakailah kerudungmu?!” perintah Eun Sun tiba-tiba.
Heera mengernyit.
“Aku ingin membawamu ke suatu tempat.”
Heera tak habis mengerti, ke mana Eun Sun membawanya di pagi yang masih buta begini. Setelah kerudung terpasang sempurna.
“Eun Sun, apa-apaan ini?” Ia tidak mencurigai Eun Sun. Hanya ia tidak bisa membuang ketidakmengertiannya.
“Tenang saja.” Eun Sun mengangkat tubuhnya dan berjalan.
“Eun Sun?!”
“Jangan berisik!”
“Iya, tapi kita mau ke mana? Aku bisa jalan sendiri."
Eun Sun mendirikannya saat di dekat mobil.
"Masuklah," pinta Eun Sun sambil membuka pintu mobil untuknya.
"Iya. Tapi kita mau ke mana?"
"Nanti kamu akan tau," sahut Eun Sun.
Heera memasuki mobil, meski tidak mengetahui ide apa yang ada di benak Eun Sun.
Setelah dalam mobil, Eun Sun mengeluarkan secarik kain hitam, lalu melilitkan sepotong kain ke matanya
“Katakan, kita mau ke mana?” Tangannya ingin melepas kain yang menutupi matanya, tetapi Eun Sun lebih cepat menarik tangannya, lalu menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi. Ia meronta-ronta kegelian.
"Eun Sun!"
“Kalau kamu masih cerewet. Aku akan menghujanimu dengan yang lebih garang dari ini,” ancam Eun Sun.
Ia terdiam. Memasang wajah cemberut.
Eun Sun menghidupkan mesin mobilnya. “Duduk yang manis, jangan bertanya lagi dan jangan coba-coba melepaskan kain itu!”
Lagi-lagi ia memberengut.
Ke mana Eun Sun membawa, ia tak ingin memikirkannya lagi. Ia memilih diam dan memberengut. Eun Sun memang suka berbuat semaunya. Ia kesal jika mengingat hal itu. Lebih kesal lagi ketika menyadari fakta bahwa ia selalu menuruti kemauan Eun Sun.
Ia terkesiap, terjaga dari tidurnya setelah Eun Sun menyentuh bahunya.
“Maaf … mengagetkanmu,” sesal Eun Sun.
Ia hanya tersenyum tipis. Membiarkan tubuhnya dibopong Eun Sun, sambil menebak-nebak apa yang akan dilakukan Eun Sun terhadap dirinya. Ia melingkarkan tangannya ke leher Eun Sun.
Ia tidak tahu suaminya akan membawanya ke mana, tetapi rasa percaya yang membuatnya pasrah. Tidak, tetapi menyerahkan diri. Ah, mengingat betapa ia mempercayai Eun Sun saja terasa begitu indah.
Ia bisa merasakan, mereka sedang menaiki anak tangga. Ia mendengar napas Eun Sun yang tersengal-sengal.
Eun Sun kelelahan menggendongnya. Ia tersenyum geli menyadari fakta ini.
"Badanku berat ya?" tanyanya.
"Sangat berat."
Seketika wajahnya merengut mendengar jawaban Eun Sun.
Seringai senyum terbit di bibir Eun Sun akibat tingkahnya. Ia mendirikan Heera, lalu perlahan melepaskan kain penutup matanya.
“Bukalah matanya!” bisik Eun Sun di telinga.
Mata Heera mengerjap-ngerjap. Eun Sun berekspresi surprise padanya. Ia memutar kepala. Napasnya tercekat.
Menoleh ke kiri, pintu masjid. Menengadah, tulisan hijaiyah Allahu akbar di atasnya. Dua menara berdiri kokoh mendampingi kubah. Menoleh ke kanan, anak tangga.
Masjid Itaewon?
“Lihatlah!” tunjuk Eun Sun dengan dagu.
Matanya terperangah. “Masya Allah,” desisnya.
Dadanya berdecak kagum. Benang-benang putih mengurai di ufuk langit. Masih malu-malu menyapa kemegahan kubah masjid dan setiap menaranya.
Ia terus mengangkat kepalanya. Menatap proses fajar, yang semakin lama semakin sempurna. Masjid Itewon semakin menampakkan kegagahannya.
Indah. Syahdu. Lembut. Sayup-sayup terdengar azan dari dalam masjid, melengkapi kedamaian hatinya.
“Happy birthday, Yeobo,” bisik Eun Sun, lalu mencium lembut pipinya.
Napasnya tertahan. Matanya melebar sempurna.
“Baarakallahu fiikum,” ucap Eun Sun, lalu menghadiahinya dengan kecupan di antara kedua keningnya.
Ia mengembuskan napasnya. “Terima kasih. Aku tak kan melupakan ini,” ucapnya haru. Butiran kristal mulai mengambang di kelopak matanya.
Eun Sun tersenyum lebar. Meraih kedua tangannya dan menatapnya. “Aku ingin menjadi imam yang baik bagimu. Bantu aku, ya.”
Ia tersenyum haru. Butiran kristal itu tak kuasa lagi dicegah.
Eun Sun mengusap pipinya dengan ujung jari. “Jangan menangis di sini. Malu dilihat orang.”
“Bantu aku juga agar menjadi ma’mum yang baik.”
Eun Sun mengangguk sambil tersenyum. Ia meraih pundak Heera, lalu mencium pucuk kepala Heera. “Saranghae, makmumku.”
Heera mengangkat wajahnya, menatap wajah Eun Sun. “Nado saranghae, Imamku.”
Ia melihat jelas, bibir dan mata Eun Sun tersenyum indah. “Alhamdulillah.”
Bunga-bunga cinta di hatinya semakin merekah oleh satu kalimat yang diucapkan Eun Sun
Eun Sun melepaskan pelukannya. Satu dua orang sudah mulai menaiki anak tangga. Sudah saatnya salat Subuh.
Eun Sun mengulurkan tangan kepadanya. “Kita berwudu dulu.”
Ia tersenyum lebar, lalu menyambut uluran tangan Eun Sun. Sejenak ia menengadah menatap langit.
Eun Sun. Cinta. Fajar. Masjid Itaewon.
Ia tidak akan melupakan semua ini.
Alhamdulillah.
Terima kasih, ya Allah.

Komentar
Posting Komentar