Langsung ke konten utama

Terlambat Mencintai

 

Terlambat Mencintai

(Part 24 Merindu Cahaya di Itaewon)




Terlambat Mencintai


Setelah salam, Heera menoleh ke tempat Liana berbaring. Liana memejamkan mata, dari wajahnya terlihat tenang sekali.

Awalnya Heera tersenyum melihat pemandangan itu. Terlebih lagi ibu mertuanya sedang memakai rukuh, baru kali ini ia melihatnya.

Selesai berdoa, Heera kembali menoleh  ibu mertuanya. Liana masih memejamkan mata.  Lama-lama ia merasakan hawa yang tidak nyaman.

“Omma!” panggil Heera pelan. “Omma!”

Liana tak menyahut.

Eun Sun menoleh. Sejenak keduanya berpandangan, lalu segera mendekati Liana.

Eun Sun mencermati wajah ibunya. Ia tak mendapati adanya napas. Ia menoleh ke arah Heera yang menatapnya cemas.

Tangan Eun Sun gemetaran  menyentuh tangan ibunya yang masih bersedekap. Dingin. Ia mencermati pergelangan tangan ibunya. Tak ada denyut nadi. Napasnya tertahan.

Eun Sun menatap Heera dengan menggelengkan kepala.

Mata Heera membelalak. Ia menggoncang tubuh Liana. “Omma. Omma!”


Tetap ada jawaban. Sekali lagi Heera ingin menggoncang tubuh Liana, tapi Eun Sun cepat menangkapnya dan menenggelamkan dalam pelukannya. 

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun .…” 

Tangis Heera meledak. Air mata Eun Sun membasahi rambut Heera.

***


Seberapa pun berduka atas musibah ini, mereka tetap harus berbuat. Mereka harus mengurus pengebumian Liana. Tidak memerlukan waktu lama, berita meninggalnya Liana sudah tersebar. Baik di perusahaan ayah maupun di kampusnya.

Eun Sun juga mengabari kedua saudaranya, meski ia sudah bisa menduga jawabannya. Sibuk. Alasan yang paling kejam untuk orang tua, terlebih lagi di saat hari kematian. Anehnya, ia pun tak ingin membuang tenaga untuk marah.

Ia tak ingin menambah suasana duka dengan memikirkan sikap kedua kakaknya. Heera menghubungi Orang tuanya, Young See dan Izam.

Satu persatu para pentakziah mulai meninggalkan rumah Eun Sun, kecuali Myung Sun, Young See yang selalu mendampingi Heera, dan Hwan Yeong yang setia berada di sisi Eun Sun.

“Hee, aku temani ke kamar, ya! Kamu harus istirahat,” ucap Young See sambil mengerling ke arah Hwan Yeong. Ia sangat benci dengan kehadiran Hwan Yeong. Meninggalnya Liana saja sudah berat bagi sahabatnya, kenapa pula ada Hwan Yeong di sisi Eun Sun?

Heera mengangkat wajahnya yang sembab, lalu mengangguk.

“Ayo!” Young See mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh Heera.

Eun Sun menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Tubuh dan perasaannya terasa remuk. Tiba-tiba ia teringat kondisi Heera. Heera terlihat lebih daripadanya. Heera pasti membutuhkannya.  

 “Eun Sun, kau mau kemana?” tanya Hwan Yeong.

Gerakan Eun Sun terhenti. “Aku mau istirahat,” sahut Eun Sun lemas.

“Aku temani, ya!”

Eun Sun menggeleng. “Aku lelah sekali, aku ingin menyendiri.”

“Tapi di sana ada Heera,” kata Hwan Yeong.

Belum sempat Eun Sun menjawab, tiba-tiba ada ucapan salam dari luar.

“Assalamualaikum.”

Eun Sun menoleh. Mencari sumber suara. Ia mengenali kedua sosok itu. Ia segera berdiri.

“Waalaikumussalam, Ibu, Ayah.”

Eun Sun menyalami dan mencium tangan wanita yang ia panggil ibu. “Sabar ya, Nak. Semoga Allah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya untuk ibumu.”

Eun Sun mengangguk. “Aamiin … terima kasih, Ibu dan Ayah menyempatkan diri datang ke sini.” Lalu ia beralih menyalami ayah mertuanya.

Ayah mertuanya memeluknya. “Tabahkan hatimu, Nak!”

Eun Sun menjawab dengan anggukan, lalu ia mempersilahkan keduanya masuk ke rumah. Myung Sun dan Bibi Chan segera menyambut keduanya.

“Myung Sun?!” seru ayahnya Heera.

“Hendra!”

Kedua pria dewasa itu saling berpelukan. “Apa kabar?”

“Baik. Kau bagaimana?”

“Alhamdulillah, aku baik. Senang bisa bertemu denganmu lagi.”

“Aku juga.” Myung Sun mempersilahkan keduanya duduk di ruang tamu. Hwan Yeong berdiri menyambut mereka.

Raihana bertanya pada Eun Sun dengan ekspresi wajah.

“Dia Hwan Yeong. Dia temanku di kampus,” ucap Eun Sun agak kikuk. 

“Raihana, mertua Eun Sun,” seru Raihana sambil mengulurkan tangan.

Hwan Yeong menyambut uluran tangan Raihana. “Hwan Yeong.”

 Hwan Yeong kesal karena Eun Sun memperkenalkannya sebagai teman kampus. Namun, ia tak ingin memperbesar masalah. Tuh akhirnya Eun Sun memang harus melepaskan Heera. 

 “Nak, Heera mana?” tanya Raihana pada Eun Sun.

“Dia ada di kamar. Akan saya panggilkan,” ucap Eun Sun sambil bergerak, tetapi Raihana mencegahnya.

“Nak, biarkan ibu menjenguknya.”

Eun Sun mengangguk. Ia beralih ke Bibi Chan, “Ahjumma, tolong antarkan Ibu ke kamar Heera.”

Bibi Chan mengangguk, lalu mempersilahkan kepada orang tua Heera.

“Saya di sini saja, lama tidak ngobrol-ngobrol dengan Tuan Myung Sun,” ucap Hendra.

Raihana mengangguk, lalu ia berlalu mengikuti Bibi Chan.


***



Heera menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Matanya terpejam. Young See menatapnya cemas.

“Aku ambilkan makanan, ya,” kata Young See.

Heera menggeleng.

“Ayolah, Hee, kamu harus makan. Kamu harus tegar.”

Heera mengembuskan napas lelahnya. “Semuanya terlalu mengejutkan, Young See. Baru saja kami menikmati kebahagiaan itu, tiba-tiba hanya beberapa menit …” Ia tak kuasa meneruskan ucapannya. Air matanya mengalir deras.

Heera sadar bahwa kehidupan dan kematian, semuanya Allah yang mengatur. Namun, ia perlu waktu untuk menjalani semua ini. Liana adalah satu-satunya orang dewasa yang dicintainya di Korea ini. Tanpa Liana, ia akan sebatang kara dan sebentar lagi ia juga akan kehilangan Eun Sun.

Young See menyentuh punggung tangan Heera. Berharap bisa memberi kekuatan pada sahabatnya.

“Sabar, ya. Di sini kau tidak sendiri.”

Heera membuka matanya. Sahabatnya telah mengingatkannya. Ia tidak sendiri di sini. Di Korea ini.

Young See bernapas lega ketika melihat Heera mau tersenyum. Meski senyuman itu masih berbalut luka.

Refleks mereka menoleh ketika pintu terbuka diiringi dengan kemunculan Bibi Chan. Heera menghapus air matanya. Seketika matanya melebar.

“Ibu ….”

Heera bersegera menghambur ke pelukan ibunya.

“Senang sekali Ibu datang. Terima kasih, Bu.”

“Jangan berkata begitu. Selain besanan ibu, Liana juga sahabat baik ibu.” Raihana melepaskan pelukannya, lalu membimbing putrinya duduk ke ranjang.

“Young See, terima kasih, kamu telah menemani Heera,” ucap Raihana kepada Young See.

Young See mengangguk. “Sama-sama. Heera sahabat baik saya, jadi apa yang dirasakannya, saya pun ikut merasakannya.”

Raihana tersenyum, “Kamu memang anak baik.”

Tiba-tiba raut muka Raihana berubah, “Maaf, tak seharusnya ibu bertanya di saat suasana seperti ini. Gadis yang di luar tadi siapa?”

Seketika Heera dan Young See saling bersitatap.

“Dia .…” ucapan Heera terhenti ketika Bibi Chan masuk membawa minuman dan makanan ringan. Bibi Chan meletakkannya di atas lemari kecil di samping ranjang.

“Ini silahkan diminum, Nyonya, Nona Heera dan Nona Young See.”

Raihana mengangguk, “Terima kasih, Ahjumma.”

Bibi Chan mengangguk, “Sama-sama.” Lalu ia undur diri.

“Dia kekasih Eun Sun yang pernah kauceritakan.” Raihana tidak sedang bertanya. Ia mendesah. “Seharusnya dari awal, Ibu tidak menerima pernikahan ini.”

Heera menyentuh tangan ibunya. “Sudahlah, Bu. Saya tak menyesali keadaan ini. Saya bersyukur bisa mendapatkan kasih sayang dari Omma, juga Eun Sun. Saya percaya, semuanya akan baik-baik saja,” kata Heera dengan mata berkaca-kaca.

“Ya, sudah. Sekarang kamu istirahat dulu. Ini sudah terlalu malam, sebaiknya Ayah Ibu ke apartemen dulu, nanti kami balik ke sini.”

“Saya ikut Ayah dan Ibu.”

Raihana dan Young See saling bersitatap dengan raut cemas.



***


Eun Sun berdiri ketika melihat Heera, Raihana, dan Young See ke ruang tengah. Raut wajahnya berubah cemas ketika mengenali tas Heera di tangan Young See.

“Aku pulang, Oppa.”

Myung Sun terlonjak. Hwan Yeong berdiri, ia langsung mendekati Eun Sun yang bergerak mendekati Heera.

Eun Sun menggeleng. Ketakutan tergambar jelas di matanya.

“Urusan kita sudah selesai.”

Eun Sun memegang bahu Heera. “Tidak. Jangan pergi saat seperti ini! Aku membutuhkanmu.”

 “Eun Sun, urusan kalian telah selesai. Bukankah kalian telah berjanji akan berpisah?!” seru Hwan Yeong.

Eun Sun mengabaikannya. Ia memegang bahu Heera dan menundukkan wajah demi menatap mata Heera. “Kumohon, jangan pergi di saat seperti ini! Kita sama-sama kehilangan ibu. Aku yakin, kamu sangat membutuhkanku sebagaimana aku membutuhkanmu.”

“Eun Sun, di sini ada aku. Kamu telah berjanji akan menceraikannya. Kamu tidak lupa kan?” sela Hwan Yeong.

Young See berdecak kesal. Ingin sekali ia menjambak rambut perempuan yang tidak tahu malu itu. Ia heran melihat wajah Heera yang terlihat datar dan tenang. Mungkinkah sahabatnya sudah tak punya tenaga untuk marah?

Melihat Eun Sun yang serba salah, Raihana angkat bicara. “Nak Eun Sun, benarkah kamu pernah berjanji menceraikan Heera?”

Eun Sun tertunduk. Tangannya terkulai lesu. “Itu dulu, saat kami menikah terpaksa untuk membahagiakan ibu. Sekarang aku sangat mencintainya dan membutuhkannya.”

“Janji adalah hutang dan kamu harus menunaikannya,” ucap Raihana lembut, tetapi tegas.

Tubuh Eun Sun bagai tersengat listrik. Tubuhnya bergetar hebat. Menatap wajah pasi Heera yang seakan telah kehilangan ruhnya.

Hwan Yeong mengulum senyum. Young See bertambah murka. Myung Sun dan Bibi Chan tertunduk sedih.

“Ibu tau, ini sangat berat buat kalian. Tapi, kalian yang membuat perjanjian itu, jadi kalian harus menepati.”

Eun Sun mematung. Hanya matanya yang terus berpendar menatap mata Heera.

“Izinkan saya berbicara dengan Heera sebentar,” ucap Eun Sun lemas, setelah beberapa detik terdiam.

Raihana mengangguk, lalu dengan isyarat ia menyuruh putrinya mengikuti Eun Sun.


***



Heera duduk lemas di tepi ranjang. Ia seperti menunggu keputusan hukuman gantung. Ia akan mati setelah mendengar ucapan cerai dari Eun Sun. Ah, andai hidup semudah itu.

“Aku tak menyangka perpisahan kita secepat ini,” gumam Eun Sun setelah cukup lama terdiam.

“Bukankah dari dulu kita menantikan ini?!”

“Tidak setelah kita telah melewati hari-hari indah bersama. Tidak setelah, aku merasakan betapa tersiksanya jauh darimu. Tidak setelah aku datang padamu.”

“Sebentar lagi akan ada yang menemanimu. Dia cinta pertama dan sejatimu. Kamu akan bisa melupakanku”

Eun Sun bersimpuh  Heera. “Saat ini aku membutuhkanmu. Andai diberi kesempatan sekali lagi, aku akan memilihmu.”

Jiwanya bergetar hebat. Eun Sun memilihnya? Andai janji itu boleh ditarik!

Heera mendesah, menatap lurus wajah Eun Sun. “Kita tak bisa berbuat apa-apa lagi. Meninggalnya Omma, otomatis urusan kita selesai.”

Eun Sun memeluk Heera. “Aku tidak akan sanggup berpisah denganmu. Aku sangat membutuhkanmu. Aku mencintaimu.”

Heera balas memeluk Eun Sun. Air matanya mengalir deras. “Aku juga mencintaimu.”

Heera melonggarkan pelukannya. Menatap lekat wajah sembab Eun Sun. “Kita akan bisa melewatinya … karena kita ... saling mencintai.”

Eun Sun menatap lurus wajah Heera. Matanya terus berpendar, seakan mencari pegangan di mata itu.

“Percayalah!” ucap Heera.

Eun Sun menghela napasnya. Mengangguk lesu.

"Jika kita saling mencintai, mengapa tidak bersama saja?!" 

"Itu janji yang telah kita ucapkan sebelum menikah. Kita harus menepatinya."

Heera tersenyum getir, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Eun Sun, “Saranghae, Yeobo.”

Kembali Eun Sun memeluk Heera dengan segenap jiwanya. Segenap cinta yang berpatri dalam hati nuraninya. Berharap setelah itu tidak ada lagi hari. “Saranghae, Yeobo.”


***



Myung Sun dan semua ada di situ berdiri ketika melihat kedatangan Eun Sun dan Heera.

Myung Sun meneteskan air mata ketika melihat putranya memegang bahu Heera. Heera terlalu lemah. Tak seharusnya mereka berpisah dalam situasi seperti ini.

Eun Sun membawa Heera  menghampiri Raihana. Ia menghadap lurus wajah Heera. Kedua tangannya beralih memegang kedua tangan Heera. Ia mendesah keras. Ia tidak yakin, apakah bisa bertahan setelah kehilangan kedua tangan yang telah banyak memberikan kehangatan padanya.

Eun Sun tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya ke kepala Heera. Mencium ubun-ubun Heera dengan segenap jiwa.

Heera memejamkan matanya. Meresapi ciuman Eun Sun dalam setiap denyut nadinya. Dalam setiap detak jantung. Kelembutan itu perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Mengalir dalam darahnya. Menembus setiap pori-pori kulitnya. Meresap dalam jiwanya. Ia berkata dalam dirinya, ia akan kuat. Karena Eun Sun mencintainya.

Eun Sun melepaskan tangannya. Mundur satu langkahnya. Wajahnya menatap lekat wajah Heera.

“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Eun Sun bergetar. “Mulai detik ini, disaksikan Appa, Ayah dan Ibu, aku menceraikan Heera.”

Keduanya terpejam. Mereka sudah berjanji, tidak ada air mata dalam perpisahan ini.

Tepatnya mereka kehabisan air mata.


***



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.