Langsung ke konten utama

Wujud Cinta

 

Wujud Cinta

(Part 25 Merindu Cahaya di Itaewon)





“Masuklah!” ucap Heera ketika mendengar ketukan pintu, sambil menutup buku yang telah dibacanya. Young See muncul di balik pintu, diiringi dengan senyum Izam yang berdiri di belakang Young See.

“Assalamualaikum …,"  ucap Izam.

“Waalaikumsalam … Izam? Young See, Izam, masuklah!” Ia menyambar kerudung yang tergeletak di meja, lalu memasang ke kepalanya. Ia tak ingin kedua sahabatnya melihatnya berantakan.

 “Senang sekali dengan kedatanganmu, Zam,” ucap Heera semringah.

“Berterima kasihlah padaku,” sela Young See dengan memasang wajah jenaka.

Heera mendelik. Young See terkekeh.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Young See sambil duduk di samping Heera.

Izam tersenyum haru melihat kedua sahabat itu. Walau beda agama, mereka terlihat sudah seperti dua bersaudara.

Ia merasa malu pada diri sendiri. Young See selalu ada di saat Heera melewati ujian berat, sedangkan dirinya tidak dapat berbuat apa-apa.

Heera berpaling ke arah Izam. “Apa kabar, Zam?”


“Baik. Kamu?”

“Cuma lemas sedikit,” jawab Heera sambil berusaha tersenyum.

Izam dan Young See sejenak saling bersitatap. Heera tidak akan bisa menutupi dari kedua sahabatnya itu.

“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Heera sambil menatap kedua sahabatnya bergantian. 

Heera tersenyum pedih. “Ini memang terlalu mengejutkan buatku. Berbagai situasi terjadi hanya dalam beberapa jam. Aku hanya perlu waktu untuk beradaptasi dengan kondisi ini, tanpa Eun Sun dan Omma. Aku sadar, semua ini atas kehendak dan kasih sayang Allah. Jadi, aku harus belajar ikhlas.”

Young See menyentuh bahunya. “Kamu sahabatku paling kuat yang selama ini yang kukenal. Aku yakin, kamu akan segera pulih.”

Heera tersenyum tipis.

“Kalau kalian memang saling mencintai, kenapa tidak rujuk saja? Kalian telah menepati janji untuk bercerai, tetapi bukan berarti tidak boleh rujuk kembali,” kata Izam.

“Kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Dengan perceraian itu, otomatis hubungan pernikahan kami telah terputus.”

Izam dan Young See menatap shock.

Heera tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya, “Hei, kenapa kalian begitu terkejut? Aneh, ya?”

Bagi Izam, hampir enam bulan berkumpul tanpa melakukan sejauh itu memang kedengaran sangat aneh. Ia teringat, sewaktu menangkap tubuh Heera yang mau oleng di Itaewon. Tubuhnya bagai tersengat listrik. Seketika menimbulkan reaksi yang begitu hebat di tubuhnya. Beruntung di tempat ramai, jadi ia mudah mengendalikan diri. Entah kalau di tempat sepi dan cuma berduaan. Izam yakin, dirinya tak sekuat itu.

“Kamu yakin, kalian tidak melakukannya?” bisik Young See sambil memajukan wajah.

Heera tersenyum geli dengan ekspresi Young See. Ia teringat momen terakhirnya bersama Eun Sun.


***


“Kalau begitu, aku yang datang padamu,” ucap Eun Sun lirih. 

Gerakan Heera  terhenti. Ia tak bisa mengungkiri kalau ia bahagia mendengar kalimat itu. Ia berbalik, menghadap lurus Eun Sun.

“Aku merindukanmu. Sangat,” ucap Eun Sun lirih sambil mendekapnya.

Heera mmemejamkan mata. Membiarkan seluruh lelah mengalir seiring dengan napas Eun Sun di telinganya.

Saatnya Eun Sun melepaskan pelukannya, tiba-tiba tubuhnya hampir roboh. Kakinya telah bekerja keras seharian. Ke masjid Itaewon, jalan-jalan dengan Izam, ke kantor Eun Sun, lalu pulang berjalan kaki dari halte bus ke rumah dengan kondisi hati yang terluka dan putus asa. Semuanya serba melelahkan. Kakinya sudah tak punya tenaga lagi. Beruntungnya Eun Sun tanggap menangkapnya.

Eun Sun tersenyum lebar. “Sepertinya kamu sangat kelelahan.” Tanpa diminta Eun Sun membopongnya ke dalam rumah.

“Sudah datang?” tanya Liana yang duduk  di sofa ruang istirahat sambil menonton televisi. Wajah Liana berbaur rindu.  Heera ingin turun, tapi Eun Sun menahannya.

“Sebentar, Bu. Aku mau mengantar menantu ibu ke kamar dulu. Nanti aku ke sini lagi.”

Heera meringis. Ia merasakan wajahnya menghangat ketika melihat senyuman geli dari ibu mertuanya.

Eun Sun membaringkannya ke atas ranjang, lalu menyelimutinya “Aku menemui ibu dulu. Kamu istirahatlah!” Eun Sun mendaratkan sebuah ciuman di keningnya. 

Beberapa saat Heera menunggu, tetapi Eun Sun tak kunjung datang sampai akhirnya ia terlelap. Paginya baru lah ia mendapati Eun Sun dengan memakai piyama. Eun Sun sempat mencumbunya pagi itu, sampai akhirnya sebuah ketukan mengagetkan mereka.

Tanpa sadar bibir tersungging senyum melihat Eun Sun mengerang kesal karena aktifitasnya terhenti. Susah payah ia membujuk Eun Sun agar mau mendahulukan ibunya terlebih dahulu. 

Eun sun kembali kesal ketika Heera menyodorkan baju koko pemberian ibunya yang telah lama tersimpan. Seberapa pun kesalnya, tetapi akhirnya ia luluh juga dengan bujukannya. 

Ia tidak menyangka kalau itu kebersamaan mereka terakhir kali. Ia tidak akan melupakan kehangatan dan kasih Eun Sun padanya. Bahkan sampai sekarang pun, kadang ia masih merasakannya. 

“Tuh kan, kamu tersenyum,” suara Young See membuyarkan lamunan Heera. “Aku tak percaya kalian tidak melakukannya.”

Hampir saja Heera menjambak rambut Young See kalau saja ia tidak malu pada Izam. Kenapa pula sahabatnya tidak percaya atas hal ini? Apakah ia dan Eun Sun terlihat terlalu romantis sebagai sepasang pengantin dalam sandiwara?

“Kalian bisa menikah lagi,” sela Izam. “Aku yakin, Eun Sun sangat mencintaimu.”

Heera menggeleng. “Sudahlah. Kita jangan membicarakan itu lagi. Biarlah semua berjalan apa adanya. Biarkan waktu yang membawa kami ke mana.”

Young See dan Izam terdiam menatapnya.



***


Sejak di rumah, Hwan Yeong tak bisa menahan senyum. Hatinya terlalu berbunga-bunga. Bagaimana tidak,  Eun Sun menelponnya dan mengatakan akan menjemputnya. 

Tak perlu waktu lama untuk tampil cantik di depan Eun Sun, ia sudah professional dalam hal berdandan. Selama ini tak ada kecacatan. Sedikitpun. 

Senyumnya semakin merekah. Eun Sun membawa ke restoran favorit. Restoran berbintang lima. Pencahayaan remang-remang di lengkapi musik jazz. Syahdu. Dari ketinggian mereka bisa menikmati kota Seoul di malam hari di balik kaca besar. Indah sekali.

Ia sudah lama merindukan suasana ini. Sudah lama Eun Sun tidak membawanya kemari. Ya, setelah Eun Sun menikah dengan Heera. Sekarang, tidak ada lagi yang menghalangi cinta mereka. Eun Sun pasti melamarnya. Ia sudah tak sabar lagi menunggu detik-detik itu. 

“Aku senang sekali malam ini.” Hwan Yeong melap mulutnya dengan tisu setelah menyelesaikan makanannya. 

Eun Sun tersenyum tipis. 

Hwan Yeong mengulurkan tangannya memegang tangan Eun Sun. “Sekarang, katakanlah! Ada yang ingin kamu bicarakan?”

Eun Sun mengangguk. Diam beberapa detik. 

Hwan Yeong mengerutkan keningnya. Ada yang aneh. Ia baru menyadari, Eun Sun sangat pendiam malam ini.

“Hwan Yeong,  aku minta maaf,” ucap Eun Sun lirih. Hwan Yeong menatapnya cemas “Aku tak bisa lagi melanjutkan hubungan ini.”

Hwan Yeong tersentak. “Kenapa?”  

“Kujelaskan pun kukira kamu tidak akan mengerti,” jawab Eun Sun datar.

“Kamu ingin kembali ke Heera?” tanya Hwan Yeong setengah kecewa. Setengah marah. Setengah sedih.

 Eun Sun menggeleng. “Setelah perceraian itu, kami tak pernah lagi bertemu bahkan berkomunikasi.”

“Bukankah kamu berjanji padaku, kita akan menikah?! Tunaikan janji itu!” tukas Hwan Yeong. 

Eun Sun diam. Menatap lamat-lamat wajah Hwan Yeong. “Maafkan, aku. Setelah pikir panjang, jika tetap bersikeras menunaikan janji itu, yang tercipta nantinya hanyalah penderitaan.”

Hwan Yeong melipat dahinya, “Penderitaan? Apa maksudmu?”

“Hubungan yang hambar.”

“Kenapa? Bukankah kita saling mencintai?” cecar Hwan Yeong.

Eun Sun tersenyum datar. “Aku tidak tahu lagi tepatnya cinta itu seperti apa dan harus bagaimana. Selain itu, aku merasa kita tidak cocok lagi.”

Hwan Yeong mendesah. “Aku sadari itu. Arah hidup kita sudah mulai berbeda dan … cintamu tak lagi sempurna untukku, tapi aku mencintaimu. Aku menerimamu apa adanya dan akan berbuat apa saja untukmu.”

Sekali lagi Eun Sun menggeleng. “Usiamu masih muda, jalanmu masih panjang, jangan kau buang semua itu demi seorang laki-laki yang tak bisa lagi--”

Ucapan Eun Sun terhenti. Hwan Yeong menunggu. 

“Sudahlah, abaikan.” Hening sesaat. “Aku hanya ingin sendiri.”

“Tanpa cinta?” tanya Hwan Yeong dengan tatapan tajam.

Eun Sun mengangkat wajahnya sejenak. Lalu menunduk. “Aku tak ingin lagi memikirkan cinta. Biarlah mengalir apa adanya. Biarlah cinta berlabuh di mana. Padamu … Heera ... mungkin juga pada wanita lain."

Hwan Yeong mendesah pasrah. 

Eun Sun berdiri. Mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di samping piring. 

Ia menyentuh punggung tangan Hwan Yeong. “Percayalah, kamu akan bahagia tanpa aku.”   

Hwan Yeong hanya termangu. Tidak menganggguk, tidak juga menggeleng. Ia memang masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Eun Sun. Ia juga tidak mengerti, kenapa ia seperti tak punya kekuatan lagi untuk memaksa atau berbuat untuk mempertahankan cintanya.

Eun Sun berbalik, lalu melangkah pelan. Meninggalkan Hwan Yeong dan restoran favorit mereka. 

Meninggalkan semuanya.

Ia akan memulai kehidupan baru. 

***



Heera hanya membolehkan dua minggu untuk dirinya beristirahat. Setelah itu, ia akan memulai hidup baru.

Perlu waktu untuk membiasakan diri. Yang paling berat buatnya adalah ketika lelah. Tangannya seakan-akan menuntut kehangatan agar bisa kuat. Namun, ia berjanji akan menghilangkan candu itu. Ia harus melangkah. Semenjak itu juga, ia memutuskan berjilbab dengan istikamah. Janji yang diaminkan ibunya.

Kuliah dan kuliah, kecuali hari minggu ke masjid Itaewon merupakan lingkaran rutin yang dijalani Heera. Ia tidak akan membiarkan dirinya berleha-leha, bahkan saat liburan musim dingin pun dia masih mengambil beberapa kursus.

Sebelum kehilangan komunikasi, Eun Sun menyerahkan kunci apartemen untuk biaya kuliahnya agar ia tidak bekerja. Heera sudah berusaha menolaknya, tetapi Eun Sun memaksanya.

“Izinkan aku melepasmu tanpa ada rasa khawatir.” Perkataan Eun Sun membuat hatinya tak kuasa lagi untuk menolak. Namun, ia berjanji tidak akan memanfaatkan apapun dari apartemen itu. Ia akan tetap kuliah dengan usahanya sendiri. Ia memasang target akan mendapatkan beasiswa.

Perjuangan kerasnya membuahkan hasil. Ia berhasil mendapatkan beasiswa, kecuali dua semester akhir. Beruntungnya ia masih mempunyai tabungan.  

Suatu hari Izam pernah menyatakan kembali perasaannya kepada Heera. Namun, Heera sudah tidak ingin lagi berurusan dengan tetek bengek cinta. Ia hanya ingin menyelesaikan kuliah dan pulang.

Setelah menyerahkan kunci, Heera pun tak pernah lagi bertemu Eun Sun. Ia tidak tahu, apakah Eun Sun berhenti kuliah atau sengaja menghindarinya. Hwan Yeong pun raib entah kemana. Ia mengira Hwan Yeong dan Eun Sun pergi ke suatu tempat dan hidup bersama di sana. Kalau memang demikian, ia turut bahagia.

Saat tibanya ia harus pulang ke Indonesia. Sebelumnya ia harus mendatangi kuburan Liana dan kantor ayahnya Eun Sun untuk mengembalikan kunci apartemen. Saat mendatangi kantor ayah Eun Sun inilah yang berat buatnya.

Sejenak ia mendongakkan kepala, menatap gedung menjulang tinggi. Memori bersama Eun Sun kembali memutar. Tanpa sadar, bibirnya tersungging senyum. Ia tidak akan menyesalinya.

“Heera?” Pria paruh baya langsung menyambut hangat padanya.

“Iya, Appa. …” Heera mendeham. “Selamat siang, Tuan Myung Sun.” Ia membungkukkan badan.

Myung Dun mengerjapkan mata. Seakan masih belum percaya apa yang dilihatnya. “Heera, masuklah.”

Tiba-tiba Heera terperanjat. Tepat ia memasuki ruang kantor Myung Jun, tiba-tiba bertatap mata dengan seorang laki-laki yang duduk di kursi kerja. Laki-laki itu pun terlihat terkejut.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.