Bau-Bau Kemiskinan
(Suamiku Kuli Terhormat part 3)
"Sudahlah. Sesuai wasiat ibumu. Kau bisa mengambil perusahaan Zurra jika sudah menikah. Jadi jangan putus dari Bei jika ingin mengambil alih perusahaan."
Gea membuka tasnya dan memperlihatkan buku nikah. "Aku sudah menikah."
Sontak Sinta berdiri dan merampas buku nikah itu. Ia membuka buku itu dan sesaat terkejut ketika melihat nama suami kakaknya. Beberapa detik kemudian ia tersenyum kemenangan. "Kakak tak perlu membuat buku nikah palsu hanya karena ingin putus dengan Kak Bei."
Gea merangsek maju dan mengambil buku nikahnya. "Kamu lupa aku putus dengan Bei karena trik norakmu."
"Mengapa kau selalu mengintimidasi adikmu?" sela Malika sambil mengelus dada Lyman.
"Menginditimasi? Heh."
"Pa, lihat putrimu! Dia semakin melonjak," adu Malika. "Gea, apa kau tidak malu. Baru putus dengan Bei, langsung menikah dengan pria entah berantah."
"Malu? Hah? Bagaimana dengan Sinta yang sangat lengket dengan calon tunangan kakaknya. Oh aku lupa, dia memang genetik darimu. Belum genap ibuku meninggal, kamu membawa anak yang usianya hampir sama denganku. Siapa seharusnya yang lebih malu?" tukas Gea.
"Kau!" Malika menggigil menahan amarahnya.
"Sudahlah. Kalau memang sudah menikah, panggillah dia sekarang," sela Lyman.
***
Ahsin sedang menaiki proyek yang baru dibangun. Baru menaiki lantai ke lima tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ahsin, bisa kau datang kemari sekarang? Papa ingin bertemu denganmu."
"Bisa. Tapi aku belum ganti pakaian," jawab Ahsin sambil mengedarkan pandangannya. Sekretaris Ferry dan beberapa rekan berdiri di dekatnya.
"Tidak perlu. Kemarilah. Akan kukirim alamatnya."
"Hari ini sampai di sini dulu. Aku mau pergi dulu," ucap Ahsin setelah menutup ponselnya. "Ferry, kita pergi dulu."
"Lalu mereka …." Ferry menunjukkan kepala kontrak proyek.
"Tidak apa. Tinggalkan saja jika memang penting. Nanti kita lanjutkan lagi," sahut pria paruh baya yang juga mengenakan pakaian kuli bangun lengkap dengan helm.
"Terima kasih. Ayo Ferry."
***
Gea bergegas menyambut Ahsin dan menggandeng lengannya. "Perkenalkan, dia suamiku, Ahsin.” Gea memperkenalkan suaminya yang masih mengenakan pakaian kuli dengan bangga.
"Gila, dimana Kakak menemukan pria setampan ini? Kak Bei kalah jauh," pekik Sinta dalam batin. "Tapi melihat pakaiannya, dia malang sekali."
Malika menatap remeh. Lyman semakin merasakan nyeri di dadanya melihat pakaian Ahsin.
"Mengapa kau menikah dengan sembarang orang?" sesalnya sambil memegang dada. "Baru mengangkat bata? Ceraikan dia! Bei seribu lebih bagus dari dia."
"Tidak akan," sahut Gea tegas. Ia semakin mengeratkan pegangannya. Ahsin menoleh cepat, menatap perempuan yang baru dinikahinya. Baru kali ini ia merasakan rasa yang sulit dijabarkan. Haru, tapi kenapa terasa sesak. Bibir tersenyum, tapi kenapa matanya memanas.
"Kak Gea, lihat pakaiannya. Apa yang kau harapkan dari dia? Dia tak mampu memberimu apa-apa. Kau akan menderita," sela Sinta.
"Jangan khawatir, aku bahagia. Soal penghidupan, jangan kira semua orang seperti kalian suka mengandalkan orang lain demi mendapatkan kehidupan hedonis."
"Kau!" suara Sinta tertahan. Mendadak kumpulan kata manisnya menguap.
"Gea, lihatlah dia datang tidak beradab. Begitukah pertama kali bertemu dengan keluarga istri? Jangankan memberi mahar dan hadiah pernikahan, berganti pakaian lebih layak pun tidak," timpal Malika.
"Sudahlah. Kalau kau mau bersamanya silakan, tapi setelah pergi dari sini, kau tidak akan mendapatkan apa-apa," ancam Lyman.
"Jangan khawatir. Aku memang tidak menginginkan apa-apa. Namun, cepat atau lambat aku akan mengambil apa yang memang seharusnya menjadi milikku."
"Kita lihat saja," tantang Lyman.
"Ayo, kita pergi dari sini," ajak Gea.
Ahsin mengangguk. Ia mengalihkan pegangan Gea, kemudian menggenggam telapak tangan kecil mulus itu. "Aku akan ingat perlakuan kalian pada Gea. Ke depannya, aku tidak akan diam jika melihatnya lagi."
Mereka berbalik keluar.
"Piuh," umpat Malika. "Memang dia siapa. Buruh imigran."
Sinta beralih duduk di samping papanya. "Pa, bagaimana kalau Sinta menggantikan Gea menikahi Kak Bei?"
"Jangan. Soal Bei, nanti aku bicara padanya. Kamu dengan Grup Buana?"
"Grup Buana? Terkaya di kota ini, salah satu terkaya di Indonesia dan sepuluh besar di Asia bahkan perusahaan More, sudah memasuki daftar 100 teratas di dunia."
Lyman mengangguk. "Kamu benar. Keluarga Buana memang luar biasa. Aku dengar putra mereka sudah kembali ke Indonesia. Belum menikah dan tak lama mereka akan mengadakan pesta tahunan. Papa sudah mendapatkan undangan. Pada pesta itu, kau harus bisa meraih hati putra itu."
"Pa, percayalah. Aku akan menikahi putra Buana dan memberi banyak kemewahan untuk Papa dan Mama."
Lyman dan Malika tersenyum puas. "Kamu memang anak berbakti," puji Lyman.
"Tapi … tadi Sinta lihat nama suami Kak Gea, Buana …."
"Mungkin kamu salah lihat. Kalau pun benar, mungkin hanya namanya sama. Mana mungkin putra Buana berpakaian buruh," sahut Lyman.
"Papamu benar. Dia muncul saja, dari sini sudah tercium bau kemiskinan," tambah Malika.
Sinta semakin bersemangat. "Baik, Pa, Ma. Sinta pasti akan mendapatkan putra Buana."
***
Di luar Ahsin kembali membuka payungnya dan sebelahnya tangannya memegang pundak Gea.
"Hari ini cuaca tidak baik. Aku akan mengantarmu pulang. Kau istirahatlah," bujuk Ahsin begitu melihat mendung menyelimuti wajah Gea.
"Ahsin, maaf atas perlakuan keluargaku padamu tadi."
"Abaikan mereka. Aku tidak menghormati orang yang menganiaya kamu, meski mereka orang tuamu." Ahsin menyentuh pipinya. "Abaikan sikap mereka, ya. Sekarang kau punya aku."
Gea menatap Ahsin. Bagaimana ia bisa mengandalkan pria asing yang baru menikahinya?
"Hidungmu berdarah," pekik Ahsin.
Gea menengadahkan wajahnya. Ahsin mengeluarkan sapu tangan di sakunya. Gea menolak. Ia mengambil selembar tisu di tasnya. Ahsin langsung mengambil tisu itu dan menyapu ke hidung Gea.
"Kita ke rumah sakit, ya."
"Tidak perlu. Ini sudah biasa."
"Sudah biasa?" Ahsin semakin khawatir.
"Hidungku akan berdarah jika Papa menamparku. Lama kelamaan aku terbiasa dan akan sembuh sendirinya sebelum sampai ke rumah sakit." Gea mengambil tisu lagi, melipatnya menjadi kecil dan meletakkan di lubang hidungnya.
Ahsin teringat kejadian malam tadi. Ia yang mengantar Gea ke rumah sakit dan satu orang keluarga pun tidak ada yang muncul. Bei sibuk mengurus adik ipar. Karena penasaran, ia menyuruh Ferry menyelidiki latar belakang Gea.
"Nona Gea menjalani kehidupan yang sangat sulit," lapor Ferry. "Ibunya Atmiati Mas'ud pendiri perusahaan Zurra. Ibunya meninggal saat Nona Gea berusia 6 tahun. Setahun kemudian ayahnya menikah dengan membawa Sinta yang usianya hanya selisih beberapa bulan. Usia 14 tahun Nona Gea dikirim ke luar negeri. Nona Gea bertemu dengan tunangannya saat di luar negeri, kemudian pulang ke Jakarta karena saat itu kondisi perusahaan Prayoga memburuk."
Ahsin menatap perempuan yang tidak sadarkan diri itu. Meski orang asing, ia dapat merasakan bagaimana sulitnya berjuang di luar negeri, apalagi Gea dikirim saat usia masih muda. Dia beruntung dikirim saat usia kuliah dan tentu uang saku lebih dari cukup dibanding Gea.
"Nona Gea dan Bei bekerjasama mengelola perusahaan Prayoga hingga sampai sekarang Prayoga memiliki nilai pasar di atas rata-rata. Dan barusan diadakan pesta pertunangan …."
"Cukup!" Mendadak ia merasakan luapan emosi yang membuat Ferry kebingungan.
Pikiran Ahsin kembali. Ia menatap lembut perempuan pingsan malam tadi yang sekarang menjadi istrinya.
"Mulai sekarang, aku akan melindungimu. Siapapun tidak boleh ada yang menganiaya kamu."
Gea tersenyum. "Terima kasih. Jangan khawatir. Aku bisa melindungi diri sendiri. Aku bukan Gea yang dulu lagi. Aku sudah muak dengan sikap mereka."
Ahsin mengelus pelan rambut Gea. "Aku percaya kamu. Namun, aku juga ingin menjadi orang yang diandalkan."
Gea membuka mulutnya, tetapi tertahan karena dering ponsel Ahsin.
"Tua muda, sertifikat villa di puncak sudah siap dikirim."
"Tidak perlu. Batalkan." Ahsin menutup ponselnya.
"Ayo, kita pulang!"
"Gea!" Tiba-tiba Bei muncul dengan wajah marahnya.
.
🥰 🥰🥰
Selengkapnya bisa klik
.jpg)
Komentar
Posting Komentar