Biarkan Semuanya Berproses
(Suamiku Kuli Terhormat part 4)
"Gea! Gea, Sinta bilang kau sudah menikah. Beraninya kau mengkhianatiku." Tiba-tiba Bei muncul dengan wajah marahnya. Ia hendak menarik lengan Gea, tetapi segera ditepis Ahsin. Tak hanya di situ, sebuah tinjauan juga melayang ke wajah Bei. Payung yang sejak tadi melindungi Gea terlepas dan melayang jauh ditiup angin.
"Gea!"
"Siapa dia?" tanya Ahsin sambil menoleh pada Bei yang tersungkur ke tanah.
"Dia mantan tunanganku. Oh belum, mantan pacarku."
"Apa maksudmu?" tanya Bei sambil bangun. Ia hendak menyerang Gea, tetapi lagi-lagi keduluan Ahsin dan seketika tubuhnya terpental.
"Apa maksudnya? Secara harfiah kita sudah putus. Sekarang kau bisa dengan Sinta. Mau seranjang atau terbang bersama itu terserahmu."
"Mengapa mulutmu selalu bau busuk?"
Sekali lagi Ahsin mengambil kerah kemeja Bei dan siap melayangkan tinjunya, tetapi ditahan Gea.
"Sudahlah. Kau akan kena masalah jika dia kenapa-kenapa," bujuk Gea.
Ahsin melepaskan pegangannya. "Kali ini kau beruntung dan ambil jalan memutar jika bertemu denganku."
Ia menarik lengan Gea dan segera membawanya pergi.
"Gea, aku akan membayar semua perlakuanmu. Laki-laki liar itu akan meninggalkan kota ini!" kecam Bei dengan gemertak rahangnya.
***
Gea termangu duduk di sofa. Hari yang melelahkan. Tak sampai 48 jam ia telah mengalami banyak hal. Melihat foto perselingkuhan, dirinya yang nyaris tewas, bertemu seorang kakek baik juga menikah dengan laki-laki asing. Ahsin, ia mengeja nama itu dalam hati. Meski baru bertemu, tetapi Ahsin terus membelanya dibanding Bei. Kenyataan ini menyadarkannya lama hubungan tidak menjamin seseorang akan menjadi sebuah prioritas.
Pintu kamar mandi terbuka, tanpa dapat dicegah matanya menoleh. Ahsin dengan santainya keluar hanya mengenakan handuk di pinggang.
“Kenapa kau tidak mengenakan pakaian?” tanya Gea gugup.
“Aku tidak melihat ada pakaian.”
Gea mendeham. Ia merutuki mata lancangnya mencuri pandang roti sobek di dada Ahsin.
“Maaf. Nanti aku pesankan untukmu. Kau naiklah dulu.”
Ahsin mengangguk. “Kau juga istirahatlah lebih awal.”
Gea mengangguk cepat. Ia semakin tidak bisa mengendalikan kedua tangannya yang gemetaran. Mengapa laki-laki ini begitu peduli dengan kesehatannya?
Ia membuka ponselnya. Memesan beberapa potong pakaian di toko terdekat melalui website.
Gea menghela napasnya. “Gea, mengapa kamu begitu gugup? Bukankah kalian pasangan sah? Atau mengapa tidak anggap saja dia orang asing, jadi kenapa gugup?”
Ia mengeluarkan sebuah buku dari kolong meja. Ia siap menggores di buku itu, tetapi mendadak otaknya tumpul. Ia menutup buku, mengembalikan ke kolong meja, kemudian menyandarkan punggungnya.
“Gea … Gea … Apa yang telah kau lakukan?” rutuknya.
Bel berbunyi. Ia bergegas membuka pintu dan menerima pesanannya. Yang membuatnya bingung, apakah harus mengantar langsung ke kamar atau memanggil Ahsin.
“Ah, sudahlah, mungkin dia sudah tidur,” gumamnya sambil menaiki anak tangga. Tepat di depan kamar, langkahnya memelan. Pintu ternyata tidak ditutup. Ia kembali gugup, ternyata Ahsin belum tidur, sedang bersandar dengan masih bertelanjang dada. Tidak ada kesempatan buatnya untuk mundur karena Ahsin sudah melihat kedatangannya.
“Ini pakaian untukmu sudah datang. Semoga cocok di badanmu.”
Ahsin berdiri menyambutnya.
Spontan Gea berpaling. Ia menyerahkan kantong kertas itu dengan berpaling. “Kau cobalah.”
“Mmm …,” sahut Ahsin dengan anggukan sambil mengambil kantong itu.
Gea bergegas keluar, tetapi lengannya ditarik Ahsin.
“Kamu tidur di mana?”
“Aku … aku akan tidur di kamar tamu,” sahut Gea tanpa berani menatap.
Ahsin menyeretnya hingga ke ranjang.
“Ranjang ini cukup besar. Kita bisa tidur bersama.”
Posisi Ahsin yang di atas membuatnya semakin gugup.
“Baik … baik …,” sahutnya sambil melemparkan sandalnya, bergeser ke samping, kemudian menutupi diri dengan selimut.
Ahsin tersenyum dengan tingkah istrinya. Betapa ia sangat berhasrat menggoda, terlebih lagi memang halal untuknya. Namun, ia harus menyabarkan diri. Membiarkan semuanya berproses secara alami. Menunaikan kewajiban dan mendapatkan hak dengan kerelaan hati.
Ahsin mengambil piyama tidur di salah satu kantong kertas itu. Gea membelakanginya dengan memejamkan mata, tetapi ia dapat melihat jelas tubuh itu yang masih bergetar. Ia naik ke atas ranjang dan merapatkan badannya ke punggung Gea tanpa memeluk.
“Ahsin, ini sudah cukup. Jangan membuatnya ketakutan,” batinnya.
***
Sayup terdengar azan. Perlahan Gea membuka matanya. Tepat di depannya Ahsin yang terlelap. Ia mengerjapkan mata untuk memastikan ini bukan mimpi.
Alis tebal berpadu sempurna dengan hidung mancung, lekukan mata yang dalam dan bulu mata panjang. Bibir tipis merah, berpadu dengan dagu sedikit runcing dan geraham yang kokoh.
"Kok bisa ada kuli setampan ini? Bahkan kulitmu lebih halus dari punyaku," gumam Gea.
Sepasang mata itu bergerak dan perlahan membuka. Gea segera memejamkan matanya. Mendadak dadanya berdegup kencang, bagai maling tertangkap basah. Degup dada semakin tak tertolong ketika sentuhan lembut membelai rambutnya.
"Gea, sudah azan," bisik Ahsin.
Bulu kuduk Gea merinding.
"Gea."
"Aku mens," sahut Gea sambil berbalik.
"Begitu? Kalau begitu tidurlah."
Dengan mata terpejam Gea merasakan pergerakan Ahsin yang turun dari ranjang kemudian keluar kamar. Seketika ia menghempaskan napasnya. Beberapa detik kemudian bibirnya tersenyum. Sentuhan sebentar itu benar-benar membuatnya ingin tersenyum.
"Gea!" rutuknya sambil menyelimuti diri dengan selimutnya.
Di luar Ahsin meneruskan kegiatannya sebagai seorang muslim, menunaikan salat Subuh sebentar, kemudian melengkapi dengan wirit dan doa.
Setelah selesai ia mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telepon.
"Ferry, jemput aku dan bawakan beberapa pakaian."
***
Sinar matahari menembus dinding kaca, menyapa lembut wajah Gea. Matanya terbuka, senyum mengembang meski tanpa mengerti apa sebab.
Beberapa detik kemudian senyum itu surut setelah menyadari keanehan dalam dirinya. Sejak kapan ia bisa bangun tidur senyaman ini? Dengan sedikit memaksa memori ia baru teringat sebelumnya sempat bangun dan pertama kali saat bangun tidur melihat seorang laki-laki. Ia bangun dan sedikit merenggangkan tubuh.
Benar-benar menyegarkan.
"Sepertinya tidurku nyenyak sekali malam tadi. Kapan terakhir bisa tidur senyenyak ini? Kenapa?" gumamnya. "Karena ada Ahsin?"
Ia bergegas menyingkap selimut dan keluar kamar.
"Ahsin?"
Tidak ada orang. Ia mempertajam pendengaran, berharap ada bunyi air di dalam kamar mandi. Nyatanya sunyi. Ia memutar pandangannya dan menemukan sepotong cake, segelas susu dan selembar kertas di atas meja.
"Maaf, tak bisa menemanimu sarapan. Ada yang harus kukerjakan. Kuharap kau bangun sebelum susu ini dingin."
Gea menoleh ke arah jam dinding. Terlihat jarum pendek menunjuk angka enam, sedang jarum panjang ke angka empat. Ia menyentuh gelas yang sudah dingin.
"Bekerja sepagi ini?" gumamnya. "Aku harus mengambil perusahaan ibuku dan memberi Ahsin pekerjaan yang lebih bagus."
***
Ahsin sedang ngobrol virtual. Meski berdiri di samping, Ferry masih bisa melihat beberapa orang yang muncul di layar desktop.
"Bos?" pekik seseorang.
"Wah, Bos go publik," sela lainnya.
Ahsin tertawa. "Sudah terlanjur tercium media. Owner More tak bisa disembunyikan lagi. Kuharap kalian tidak sungkan."
"Tidak. Kami akan tetap menganggapmu Ahsin teman kami. Dari dulu kami sudah menduga kamu putra Buana," sahut Charles sebagai penanggung jawab teknologi More.
Ahsin mengerutkan kening. "Bagaimana bisa?"
Charles tertawa. "Kau bisa menutup wajahmu dengan topeng, tapi tak bisa menutup ID-mu dari kami."
Ahsin memicingkan matanya. "Padahal aku sudah menggunakan perangkat lain. Jadi dari awal kalian sudah tahu aku?"
Ahsin memicingkan matanya. "Padahal aku sudah menggunakan perangkat lain. Jadi dari awal kalian sudah tahu aku?"
Semua orang di layar mengangguk.
"Oh, ada. Aku rasa ID habbagea tidak tahu Bos," imbuh Charles.
"Dia tidak tahu aku? Bukankah dia ada di tim kalian sebelum More lahir? Lalu bagaimana kau bisa yakin dia tidak tahu aku, sedang kalian semua sudah tahu?"
Charles tersenyum. "Aku berteman dengannya cukup lama. Bahkan aku yang mengenalkan More. Dia menutup wajahnya dengan topeng karena tidak ingin membuka diri. Dia menutup diri dan dia tidak akan mengusik orang lain. Bos, sedikit saja dia memiliki keusilan pada orang lain, gawatlah dunia."
Ahsin tersentak. "Dia sehebat itu?"
Charles tertawa. "Jangan lupa More teknologi terdaftar di salah satu 100 teratas dan dia pemenang no 1 di sebuah turnamen."
"Aku tahu dia memang luar biasa, tapi tak menyangka kalau sehebat itu. Oh iya, kenapa dia tidak muncul hari ini?"
***
Selengkapnya bisa klik
Suamiku Kuli Terhormat
.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar