Gadis Yang Diidamkan
(Suamiku Kuli Terhormat Part 8)
"Tidak apa. Aku tidak sekaget itu jika memang putra Buana. Perusahaan tempat aku bekerja sudah pernah menjalin kerjasama dengan Buana dan mereka memang memiliki etos kerja yang tinggi. Tak heran jika putra Buana memiliki kualifikasi lebih tinggi dari yang kita bayangkan," tutur Gea.
"Lalu kenapa kau begitu kaget?"
"Kebetulan nama suamiku sama dengan putra Buana. Jadi mungkin alam bawah sadarku mengira dia."
Giliran Charles yang kaget. Ia memajukan wajahnya. "Setahuku tidak ada nama yang sama dengannya. Nama Ahsin mungkin banyak, tapi siapa yang berani menyematkan nama Buana di belakang?"
"Mungkin saja. Latar belakang yang jauh berbeda. Mungkin saja orang tuanya tidak tahu di dunia ini ada yang namanya Buana atau saat itu Buana nama diidolakan."
"Masuk akal," sela berwajah Afrika. "Namaku Michael Jackson karena orang tuaku mengidolakannya. Dan latar belakang yang jauh berbeda tidak akan mempertemukan kami. Jadi tidak akan menimbulkan masalah."
"Kalian benar. Tapi aku penasaran, mengingat kalian sama-sama menyembunyikan diri. Gea, kau punya fotonya?"
"Walaupun punya fotonya, aku tidak akan memperlihatkan pada kalian. Nanti kalian akan menyelidikinya dan kau akan menemukanku."
Semua wajah di layar desktop mendesah kecewa.
"Sudahlah. Mumpung dia belum pulang. Ada yang bisa kukerjakan?"
Lagi-lagi mereka mendesah kecewa.
"Gea, tidak bisakah kita ngobrol dulu. Mumpung kau lagi cuti," keluh seseorang berwajah Arab.
"Benar, Gea. Tidak bisakah kau ceritakan kehidupanmu di sana?"
Gea mengerutkan kening.
"Apapun. Seperti bagaimana kau bertemu dengan suamimu sekarang?"
"Soal itu, bukankah aku sudah cerita ke Charles. Aku yakin dia sudah cerita pada kalian," telak Gea.
Charles tertohok.
"Dia cuma cerita singkat, itu pun cuma sebuah info pelengkap dirimu kepada bos."
Gea semakin mengerutkan keningnya.
Charles tertawa dengan kebingungan Gea.
"Makanya jadi orang jangan terlalu menutup diri. Jadi parno sendiri kan?"
Gea mendadak kesal. "Sudahlah. Kalian mau ngobrol, silakan. Aku mau coba retas rancangan terbaru More."
"Baiklah," sahut Charles.
Seketika keluhan serentak mendominasi bunyi desktop Gea.
"Kevin, ceritakan singkat tentang Jepang. Aku berencana liburan ke sana," Charles mengalihkan perhatian.
"Kalau begitu, aku off dulu," sela Gea.
"Gea, please, aku sudah menghubungi bos. Dia bilang sedang di jalan. Dia minta tunggu sebentar. Dia juga ingin menyapamu."
Mendadak Gea menguap. "Aku ngantuk sekali."
"Gea, please, bertahanlah. Bos juga sangat baik padamu." Charles memperlihatkan wajah memelas.
"Baiklah," ucap Gea pasrah. Lebih dari itu, ia menyadari telah ada perubahan pada dirinya. Menunggu Ahsin, mendadak ia merasa jenuh dengan tim.
Dulu, tanpa Bei ia akan menghabiskan waktu bersama tim. Ia akan memaksakan diri, meski tidak begitu mengerti arah obrolan mereka. Karena baginya, Charles kakak virtual dan tim The Bumrad masa depannya. Ia tidak butuh bos.
Kembali ia menguap. Telinganya tak mampu lagi menangkap obrolan tim. Tanpa sadar ia merebahkan diri di sofa.
Di desktop, Charles sudah melihat Gea yang mulai terlelap. Charles memberi isyarat pada teman lainnya untuk meretas IP Gea tanpa berniat menjatuhkannya. Semua teman setuju.
Mereka bersiap-siap melakukannya aksinya, bahkan jari jemari mulai gatal. Namun, baru saja menyentuh keyword, tiba-tiba seseorang datang memunggungi mereka. Seseorang nyata dalam kehidupan Gea tentu lebih menarik buat mereka daripada protection yang dimiliki Gea.
***
Gea masih mengenakan topeng tertidur di sofa saat Ahsin datang. Ahsin tak bisa menghentikan senyumnya dan bergegas mendekat, kemudian meletakkan lututnya di lantai.
Ia telah lama melihat topeng itu di virtual, tetapi baru kali ini melihat secara nyata bahkan dapat menyentuhnya. Ia menyentuh topeng itu dengan hati-hati seakan takut merusak.
"Gea?" panggilnya lembut.
Gea tak menyahut.
Ia mencium lembut punggung tangan Gea.
"Habbagea, aku tak menyangka kini kau menjadi istriku," batin Ahsin.
"Bos, bagaimana kau ada di sana?" Michael tidak kuasa menahan mulutnya.
Ahsin berbalik. Ia baru menyadari, The Bumrad sedang menunggunya. Ia sengaja meminta mereka menunggu karena ingin memberi kejutan pada mereka, terutama Gea. Sayangnya, Gea telah terlelap.
Ahsin merapikan selimut dan sedikit menggeser kaki Gea untuk tempat duduknya.
"Hei, semuanya. Gea sudah tertidur."
"Gea?"
"Oh, maksudku Habbagea," ralat Ahsin.
"Bagaimana bos ada di sana? Kalian sudah saling mengenal?" cecar Charles.
Ahsin tersenyum melihat wajah-wajah syok di layar desktop.
"Kami baru mengenal dan menikah beberapa hari yang lalu. Dan beberapa jam yang lalu, baru aku tahu kalau dia pemegang ID Habbagea."
Terlihat wajah-wajah menahan napas.
"Ah." Tiba-tiba Kevin memekik yang membuat teman-teman lain terperanjat. "Dia tadi bilang, nama bos sama dengan nama suaminya."
"Tapi dia bilang cuma nama yang sama," bantah pria berwajah India bernama Sakhier.
Ahsin tertawa kecil. Ia sudah berusaha menjalin keakraban dengan tim, tapi tak menyangka menjadi suami Habbagea ternyata lebih menyenangkan.
"Ia memang tidak tahu aku Ahsin dari Grup Buana."
Seketika semua wajah di layar mengerutkan keningnya.
"Bagaimana bisa? Bagaimana kalian bertemu?" cecar Sakhier.
"Charles mungkin tahu," sahut Ahsin.
"Tidak. Aku tidak tahu banyak. Ia cuma bilang telah menikah. Aku sedikit kesal karena mengira dengan Bei. Lalu dia menjelaskan bukan. Dia cuma bilang menikah dengan seorang laki-laki dari keluarga baik-baik."
"Ternyata begitu," lirih Ahsin dengan wajah sendu.
"Bos, apa aku mengucapkan kata yang salah?" Mendadak Charles khawatir.
"Tidak. Mendengar ceritamu entah kenapa menjadi sedih. Kakek yang memperkenalkan kami. Aku cuma tak menyangka, dia menerimaku karena Kakek."
"Kakekmu menyukainya?"
Ahsin mengangguk.
"Dapat dimengerti. Ia memang punya keluarga, tapi lebih menyedihkan dari yatim piatu. Bekerja bagai kuda seakan-akan bertanggungjawab atas keluarga besar. Wajar jika dia sangat menyukai Kakekmu," urai Charles.
Tanpa sadar Ahsin mengangguk.
"Bos, jangan khawatir. Selama kau memberi perasaan nyaman dan aman, kau pasti mendapatkan hatinya."
"Gea perempuan mandiri. Bagaimana aku bisa …."
"Bagaimana pun dia wanita. Dia pasti butuh perlindungan dan rasa nyaman," sahut Charles cepat.
Ahsin mengangguk. "Terima kasih, Charles. Gea cerita banyak tentangmu. Aku sangat bersyukur dia bersamamu, hingga akhirnya menghantarnya ke More."
"Tak perlu sungkan, Bos. Tanpa bertemu bos, aku tetap melindunginya secara jauh. Ah bukan cuma aku, semua tim di sini sangat menyayanginya. Kami selalu menghargai keputusan Gea."
"Benar, Bos. Gea satu-satunya cewek di tim kami, tentu kami menyayanginya," sela Kevin.
Ahsin memandangi satu persatu wajah di layar. "Betapa aku ingin bertemu kalian secara nyata dan mengucapkan terima kasih."
"Bukankah bulan depan More ulang tahun?" cetus Michael.
"Dari sekarang cuma 3 pekan," tambah Charles.
Ahsin menghela napasnya. "Kamu benar, Mich. Tapi aku perlu lihat melihat sumber daya keuangan dulu. Soal waktu, kita terbiasa lembur."
"Jangan khawatirkan soal akomodasi. Demi Gea, kami akan datang meski ngocek kantung sendiri," sela Sakhier.
Ahsin melebarkan matanya
Charles tertawa. "Lebih tepatnya mereka penasaran siapa Gea. Benar ‘kan?"
Beberapa orang mengangguk. "Tapi percayalah, perasaan kami tulus pada Gea. Lebih dari itu kami juga mengaguminya," sahut berwajah Arab.
Ahsin menghempaskan napas antusiasnya.
"Melihat ketulusan kalian untuk istriku, aku pun tidak akan segan mengocek kantung untuk akomodasi kalian. Baik aku putuskan. Ulang tahun More kita ketemu di sini. Tunggu saja kabar baiknya."
Wajah-wajah semringah menghiasi layar desktop Gea, terutama Charles.
"Charles menangis," seru Kevin.
Charles mengusap wajahnya. "Bagaimana tidak terharu. Gadis yang dulu mengintiliku siang dan malam akhirnya menemukan pasangan yang sangat menghormatinya. Tiba-tiba teringat dia minta job demi bayar semester kuliah."
Mendadak yang lain ikut terpengaruh.
"Baiklah. Kami tidak akan mengganggu Bos lagi. Boleh minta bangunkan Gea untukku? Aku cuma ingin mengucapkan selamat untuknya," pinta Charles.
Ahsin mengangguk. "Tapi soal aku, rahasiakan dulu. Aku ingin memberi kejutan untuknya."
"Siap, Bos."
"Gea, Gea," bisik Ahsin lembut.
"Kau sudah datang?" tanya Gea sambil mengusap matanya.
Ahsin tersenyum sambil menyentuh lembut topeng yang dikenakan Gea. "Kenapa tidur mengenakan topeng?"
"Oh iya, aku tadi online," sahut Gea kemudian beralih pada laptopnya. "Kalian masih ada? Bos sudah muncul?"
Wajah-wajah tersenyum penuh arti menghiasi layar desktopnya.
"Kenapa kalian tersenyum begitu? Apa yang terjadi?" tanya Gea sedikit khawatir sambil mengalihkan pandangannya pada Ahsin.
"Kami tadi ngobrol sebentar," jawab Ahsin. "Dan bos More berkata …."
Ahsin mengunci pandangan Gea.
"Dia berkata …, Betapa dia ingin bertemu denganmu sebagai pemimpin More dan mengucapkan terima kasih kepadamu secara langsung. Dia … sangat mengagumimu."
Gea menelan ludahnya. Tatapan Ahsin membuatnya dadanya berdebar hebat. Ia menepis kedua tangan Ahsin. "Ahsin, dengan ekspresi seperti itu, aku bisa jadi salah paham."
"Kenapa? Perasaannya tulus dan aku menyampaikan juga tulus. Apa yang salah?"
"Bos tidak salah. Kau tidak salah. Tapi aku bisa salah paham."
Terdengar cekikan di layar desktop.
"Lalu, jika kau melihatnya secara langsung, apa kau akan menanggapi perasaannya? Ingatlah, dia satu-satunya putra Buana. Usia 28 tahun dia sudah punya perusahaan More yang sekarang sudah masuk dalam daftar 100 teratas."
"Kau bicara apa?" ketus Gea yang membuat Ahsin tersentak. Seketika ia memeluk Ahsin. "Ahsin, persetan dengan perasaan Bos. Selama kau bersedia di sisiku, aku akan membelamu. Aku akan mendukungmu."
"Gea, ingatlah kau pernah tertipu satu kali," sela Charles sambil menahan senyum.
Gea melepaskan pelukannya.
"Karena pernah tertipu. Aku sudah bisa membedakan, antara tulus dan otak bolos." Gea menggandeng lengan Ahsin. "Bagaimanapun, kau pasangan sahku. Aku akan menghormatimu, jika kau menghormatiku. Jika kau pergi, aku pun akan melepaskanmu. Aku bukan lagi Gea yang takut sendiri."
Spontan Ahsin memeluknya. Ia menciumi rambut Gea. "Jangan katakan itu lagi. Itu menyakitkan bagiku. Aku berjanji, tidak akan meninggalkanmu. Aku akan memperlakukanmu sebagai wanitaku."
“Ehm.” Charles mendeham.
Seketika keduanya salah tingkah.
"Gea, selamat. Kau telah menemukan orang yang tulus padamu. Kudoakan, semoga kalian bahagia selamanya."
***
Layar desktop telah mati. Senyap. Mendadak Gea menjadi gugup. Tanpa dapat dicegah, kedua tangannya saling meremas.
"Lalu …?" tanya Ahsin sambil mendorong pelan bahu Gea.
Gemuruh di dada Gea makin menggulung. Ahsin memajukan wajahnya. Mata Gea terpejam dengan tubuh menegang.
***
Selengkapnya bisa klik
.jpg)
Komentar
Posting Komentar