Langsung ke konten utama

Hukuman

Hukuman 

(Suamiku Kuli Terhormat Part 9)




Ahsin tersenyum simpul melihat tingkahnya. Ia memberikan kecupan lembut pada dahi Gea. Seketika kedua mata berbulu lentik terbuka dan mengerjap syok. 

Jari Ahsin mengetuk lembut dahinya. "Sudah tengah malam. Istirahatlah."

Gea bangkit setelah Ahsin menjauh. Ia menghela napas lega karena jantungnya telah selamat. Namun, ia tak mengungkiri ada kecewa di sisi lain. 

"Gea, apa yang kau harapkan darinya?" gerutunya, kemudian segera berlari setelah melihat jam di dinding.

***

Pagi menyapa, lagi-lagi Gea hanya mendapati secangkir susu dan kali ini sepotong croisan. Ia menyentuh gelas yang sudah dingin itu. 

"Ahsin mengapa kau bekerja sekeras ini? Aku harus secepatnya mengambil perusahaan Zurra."

Ia menikmati sarapan tanpa minat.

"Kenapa aku jadi seperti ini? Bukankah biasanya aku memang sarapan sendiri?" gumam Gea, kemudian menggigit kasar croisan. 

Dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Seketika bibirnya tersungging ketika melihat nama di layar. 

"Sudah bangun?" 

"Iya."

"Sudah sarapan?" 

"Sedang. Kau?"

"Aku tadi sarapan di jalan."

Seketika Gea meradang. "Ahsin, sebenarnya kau bekerja berapa jam perhari?"

"Tidak menentu. Tapi seperti yang kau lihat, aku selalu sibuk tiap hari."

"Sesibuk apa? Bukankah aku sudah menjamin hidupmu? Selama kau di sisiku, aku akan memberimu kehidupan yang layak. Aku tidak melarangmu bekerja, tapi tidak bisakah kau kurangi jam kerjamu?"

Terdengar tawa di seberang. 

"Kau mentertawakanku?"

"Bukan begitu. Aku bekerja sesuai tanggung jawabku. Bagaimana aku bisa mengurangi jam kerja, sementara banyak tanggung jawab menungguku?"

"Tanggung jawab," eja Gea. "Aku tau kau tipe orang bertanggung jawab. Aku bangga mengenalmu. Tapi apakah itu artinya tidak ada kesempatan sarapan bersama?" 

"Ada. Tapi kau mengabaikannya."

"Maksudnya?" 

"Sebelum Subuh, aku selalu membangunkanmu, tapi kau selalu mengelak. Andai kau bangun, kita bisa salat dan sarapan bersama."

Gea tercenung. Ia memang sadar, Ahsin selalu membangunkannya, tetapi ngantuk selalu menekannya. Selain itu, ia memang jarang salat Subuh, begitu juga salat lainnya. Ia salat hanya pada waktu-waktu tertentu. 

"Gea … Gea." panggil di seberang sana. 

"I … iya, Ahsin. Maaf."

"Besok, cobalah bangun. Kita akan sarapan bersama dan menikmati udara subuh."

"Akan kucoba," sahut Gea, meski ragu apakah bisa melakukannya..

"Jika masih ngeyel?" goda Ahsin.

"Kau bisa menghukumku."

Ahsin tertawa lepas. "Kalau begitu, aku tidak akan sungkan."

"Iya."

"Hari ini kau mau ngapain?" 

"Belum ada laporan perkembangan dari perusahaan ibu, jadi sepertinya nggak ngapa-ngapain. Mumpung nganggur, kebetulan hari ini Kakek cek ke rumah sakit, jadi aku ingin menemani Kakek 

"Hari ini Kakek ke rumah sakit?"

"Kau sebagai cucunya tidak tahu?"

"Kau tahu aku begitu sibuk. Kami juga punya dokter pribadi, jika Kakek mau, dokter itu akan datang secara rutin. Kakek saja yang ngeyel."

"Pantas saja kau kerja bagai kuda," omel Gea. 

"Apa kau bilang?"

"Tidak ada. Aku cuma mau bilang, aku tau kau bekerja keras karena ingin memberikan yang terbaik buat keluargamu. Tapi ketahuilah, ada yang tak bisa diganti dengan uang, yaitu kebersamaan. Aku dapat memahami jika Kakek memilih ke rumah sakit. Kakek sangat kesepian."

"Aku …"

"Tak apa. Aku akan secepatnya mengambil perusahaan ibuku dan aku akan memberikannya padamu. Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kasihan Kakek."

"Iya, maafkan aku. Aku baru datang di kota ini langsung diserbu pekerjaan. Sebagai orang yang lebih banyak makan garam, Kakek akan memahami ini. Yang kusesalkan aku menikah denganmu sedang jadwalku sudah padat dua bulan penuh. Aku belum memberimu bulan madu."

Gea yang mengunyah croisan mendadak batuk. Ia bergegas mengambil susu yang dibuatkan Ahsin.

"Kau tidak apa-apa?" Terdengar nada khawatir di seberang sana. 

"Tidak apa," sahut Gea sambil menepuk-nepuk dadanya.

"Lalu sekarang, perusahaan lagi mempersiapkan pesta ulang tahun dadakan. Jadi …." 

"Aku memahamimu sebagai seorang karyawan yang bekerja pada orang lain. Tapi …."

"Jangan khawatir. Sebenarnya aku sudah mengatur jadwal pulang lebih cepat setelah pesta ulang tahun selesai dan setiap pekan kita akan menginap di rumah Kakek. Kau bersedia menunggu 'kan?" 

"Iya. Aku akan menunggumu, selama kau mau mengatur jadwalmu untukku dan Kakek. Selain itu, aku akan bangun sebelum Subuh, jadi kita menikmati waktu bersama meski hanya beberapa menit."

"Terima kasih atas pengertiannya."

"Tak apa. Bukankah kita partner? Kalau begitu, aku tidak akan mengganggumu. Aku mau siap-siap menemui Kakek."

Di seberang sana Ahsin menoleh pada layar ponselnya. Panggilan telah terputus, tetapi ia enggan melepaskan headset bluetooth di telinganya. 

Ia mengambil ponsel dan menulis pesan. 

[Kabari aku jika sudah sampai di rumah sakit] 

Hanya beberapa detik pesannya terbalas. 

[Apa tidak mengganggu kerjamu?]

[Tidak. Aku pakai headset tanpa kabel. Lagi pula kalian penyemangat kerjaku]

[Baiklah kalau begitu]

***

Bei dan Sinta telah sampai di perusahaan Buana. Terlebih dahulu mereka mendekati meja resepsionis. 

"Kami ingin bertemu dengan Tuan Buana," ucap Bei Prayoga. 

"Apa kalian sudah punya janji dengan Pak Buana?" tanya karyawati di meja resepsionis. 

"Tidak."

"Maaf, Mas, Mbak. Harus ada janji duluan jika ingin bertemu dengan Pak Buana."

"Kalau begitu, tolong katakan kami penanggung jawab perusahaan Prayoga dan Zurra ingin bertemu dia."

"Baiklah. Tunggu sebentar," jawab resepsionis kemudian berlalu.

***

"Bei Prayoga dan Sinta adiknya Nona Gea ada di bawah. Katanya ingin bertemu dengan bos," lapor Ferry.

Ahsin berdiri sambil merapikan jasnya. "Kalau begitu suruh mereka menunggu. Nanti aku putuskan apakah bertemu dengan mereka atau tidak."

"Baik," sahut Ferry, kemudian membalas panggilan resepsionis. 

Di lantai bawah sang resepsionis mengajak Bei dan Sinta ke ruang tamu. Saat berjalan Sinta menoleh ke belakang dan sesaat ia terkejut. 

"Kenapa?" tanya Bei yang menyadari sikapnya. 

"Entahlah. Tadi aku lihat seperti suami Kak Gea masuk ke ruang konferensi."

"Mana mungkin kuli seperti dia menyelinap ke manajemen puncak perusahaan Buana, bahkan pintu masuk pun tidak tahu."

"Kak Bei benar. Mungkin aku salah lihat."

Bei mengangguk. 

"Mari, Mbak … Mas," ajak sang resepsionis. 

Keduanya mengikuti hingga sampai ke ruang tamu. Sang resepsionis menuangkan air putih untuk mereka. 

"Mohon ditunggu ya, Mbak, Mas."

Sinta mengangguk. "Terima kasih, Mbak."

Sesaat Bei terpana dengan sikap sopan Sinta. Mengingatkannya pada Gea. Belakangan ia menjadi rindu dengan gadis itu. Namun, bayangan sikap Gea yang pongah membuatnya urung menghubungi atau sekadar menguntit.

Waktu berlalu, Bei sudah berkali-kali melirik jam di tangannya. Ia kembali berdiri untuk membuang kebosanan yang ada. 

"Buana benar-benar congkak. Tidak menghargai waktu orang lain," omel Bei.

"Sabar, Kak Bei. Buana perusahaan sangat besar, wajar jika pimpinannya sibuk sekali."

Bei mengakui kebenaran ucapan Sinta, tetap saja sangat membosankan baginya. Sesaat ia bertanya-tanya bagaimana dulu Gea berhasil membuat hubungan kerjasama dengan perusahaan sesibuk ini? 

***

Ahsin langsung meluncur ke kantornya setelah selesai rapat. Ia bergegas mengambil jas yang tersampir di sandaran kursi kerja.

"Tuan Bei Prayoga dan Sinta masih menunggu di bawah," beritahu Ferry.

"Kesabaran mereka bagus sekali. Tapi aku harus pulang."

"Baik."

***

"Maaf, perusahaan akan ditutup," ucap seorang sekuriti sambil sedikit membungkukkan badan. 

"Kami telah berjanji dengan presdir," sahut Sinta. 

"Maaf, presdir telah pulang dari tadi."

"Apa?" Bei terdiri. Ia hampir saja memukul sekuriti itu andai tidak dicegah Sinta. 

***

"Mereka benar-benar keterlaluan," geram Bei sambil memukul setir mobilnya.

"Ini pasti karena perbuatan Kak Gea. Tuan Buana benar-benar terpengaruh. Kak Bei, kita harus gimana?" hasut Sinta. 

"Aku akan memberi pelajaran pada mereka. Aku pastikan, mereka akan kembali menghubungi Prayoga," gumam dengan tangan terkepal di kemudi. 

"Apa yang akan Kak Bei lakukan?" 

Bei mengambil ponselnya dan melakukan panggilan. "Hallo, aku punya berita bagus untuk besok. Akan kupastikan akan menduduki trending teratas." 

Sinta tersenyum miring. Beberapa detik kemudian ia mengubah raut wajahnya. 

"Apa tidak apa-apa, Kak Bei? Papa bilang, mereka sangat menjaga martabat mereka."

"Karena itulah, aku yakin mereka akan menghubungi kita dan memperbarui kontrak kerjasama." 

Sinta tersenyum puas dengan mata liciknya. 

"Apapun yang kau lakukan, akhirnya tidak akan berarti apa-apa selama Kak Bei ada di sisiku. Tunggu saja sampai aku menaklukkan putra Buana. Saat itu raja neraka pun kasihan padamu," batin Sinta.


*** 

Gea sedang sibuk di dapur saat Ahsin tiba di rumah. 

"Sudah datang?" tanya Gea sambil meletakkan sebuah piring kecil berisi lauk. 

Ahsin mengangguk. "Tadi aku melihat adikmu dan Bei Prayoga."

Gea bergegas mendekat. "Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Gea sambil mencermati badan Ahsin dari atas sampai bawah.

Ahsin tertawa dengan sikapnya. "Kami belum sedekat itu."

"Lain kali, kalau melihat mereka menjauhlah." 

"Kau begitu mengkhawatirkanku?"

"Mereka anjing gila. Akan menggigit siapa saja yang dekat denganku."

Ahsin kembali tersenyum. "Jangan bilang mereka anjing gila. Sekalipun harimau, jika mengganggumu, aku akan mencabuti gigi mereka."

Gea tercenung. Ia baru menyadari Ahsini seorang pekerja kasar, bukan hal tabu dunia gengster. Ia teringat Ahsin yang berani mengancam ayahnya dan memukul Bei di rumah orang tuanya. Ia harus bisa mengendalikan Ahsin. Ahsin tidak boleh melakukan hal buruk kepada Prayoga, jika tidak habislah mereka. 

"Pokoknya, menjauhlah jika melihat mereka."

"Sudahlah. Jangan lagi membicarakan mereka," pungkas Ahsin sambil membimbing Gea ke kursi. "Kakek mau mengadakan jamuan."

"Jamuan? Besar?" 

"Kakek tidak cerita siang tadi? Pastinya dia ingin mengenalkanmu pada keluarga besar, teman-teman dan rekan kerja." 

"Kalau begitu, aku akan transfer. Aku mau bantu meski tidak banyak."

"Tidak perlu, tabunganku masih cukup. Kakek juga mau mengajakmu beli gaun."

"Beli gaun? Kakek bisa memilih gaun?"

Ahsin tertawa kecil. "Sebenarnya, dia ingin bersamamu lebih banyak lagi. Entah jalan-jalan atau ngobrol meski dia tidak ngerti. Kau tidak keberatan ‘kan?"

"Tentu tidak. Malah senang jika Kakek menyukaiku."

"Kakek sudah berumur, tapi dia juga bijak. Jadi jangan sungkan menolak, kalau memang ada yang tidak kau sukai."

"Tenang saja. Makanlah, mumpung masih hangat."

***

"Gea," bisik Ahsin lembut. "Gea, bangun, subuh." 

Sontak Gea duduk dengan mata terpejam. "Sudah Subuh?" 

Ahsin menggosok dengan jempolnya antara kedua alis Gea. "Belum. Tapi bersiap-siaplah."

"Belum, hee, aku baring dulu sebentar," rengek Gea sambil kembali hendak merebahkan kepalanya, tetapi segera disambut Ahsin.

"Eh, kalau baringan lagi, nanti akan terlewat." 

Gea kembali merengek dengan mata terpejam. "Ahsin, aku penderita insomnia. Tidur itu sangat penting bagiku."

Ahsin malah meluruskan badan Gea. "Salat Subuh itu salah satu wajib buat kita umat Islam. Soal insomnia, aku akan membawamu ke dokter. Ya," bujuk Ahsin.

Gea masih memejamkan mata. 

"Kalau begitu aku hukum sekarang," ancam Ahsin. 

Mata Gea terbuka. "Waktu belum terlewat, mengapa dihukum duluan."

"Kalau dihukum setelah terlewat percuma karena kau telah ketinggalan Subuh. Jika dihukum sekarang, kau masih bisa melakukannya. Jadi tidak sia-sia hukumanku."

"Ada teori seperti itu?" 


***


 Selengkapnya bisa klik

Suamiku Kuli Terhormat


Bab Lengkap: Kbm AppKarya KarsaGood Novel




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.