Langsung ke konten utama

Mungkinkah Gengster?

 Mungkinkah Gengster?

Suamiku Kuli Terhormat (Part 7)


 "Iya. Katanya Tuan Buana membatalkan kerjasama dengan Prayoga."

"Dan dia menuduhmu?"

"Iya. Sakit tu orang. Bahkan saat kerjasama aku belum pernah ketemu Tuan Buana, bagaimana lagi sekarang?"

Ahsin tersenyum simpul. 

"Ternyata mereka memang menebaknya. Dan ini ada hubungannya dengan Gea itu memang benar," batin Ahsin.

"Lalu tadi sepertinya mereka telah menemukan solusinya," pancing Ahsin. 

"Katanya dia telah merekrut pemenang ketiga lomba desain Green Dot Award."

"Kalau begitu mereka akan berhasil?" sahut Ahsin. 

"Tidak mungkin. Perusahaan Buana tidak semudah itu dikibuli. Kuberitahu, desain dari pemenang ketiga itu punyaku."

"Hah?"

"Itu lukisanku yang kusimpan studio. Ayah memaksa kami ikut lomba desain, Sinta mencuri lukisan itu dan mengirimnya ke lomba."

"Saat itu kenapa kau tidak mengkonfirmasi?"

"Tidak ada yang percaya. Ayah juga melarangku. Kuberitahu satu rahasia lagi. Pemenang satu itu aku."

Ahsin tersentak. 

"Karena sudah terlanjur didaftarkan, aku kerja keras melukis ulang. Siapa sangka jadi pemenang nomor satu."

Ahsin kembali meraih tangan Gea. "Siapa sangka ternyata aku menikah dengan selebriti."

Gea tertawa geli. Nyatanya saat itu hanyalah paksaan ayahnya. Ia hanya melukis perangkat rumah tangga sesuai selera Buana. 

"Jika suatu saat aku berhasil mengambil perusahaan Zurra, mungkin lukisan itu bisa kuserahkan kepada Tuan Buana."

"Jika kau ingin bekerjasama dengan Buana, aku akan membantumu."

"Benarkah?"

"Pasti." 

Perhatian mereka kembali teralih pada dering ponsel Gea.

Sesaat Gea mengerutkan kening melihat notifikasi uang masuk ke akun bank miliknya. Tak lama terdengar dering dari tas Gea.

"Kau punya dua ponsel?" tanya Ahsin begitu melihat Gea mengeluarkan ponsel jadul. 

Gea hanya meletakkan jarinya ke bibir. Spontan Ahsin merapatkan bibirnya. 

"Ya, Charles?" 

Ahsin mengerutkan kening.

"Ada uang masuk ke rekeningmu?"

"Iya, ada. Ada job baru?"

"Bukan. Itu dari bos More. Dia sudah tahu kau telah menikah. Itu hadiah dari dia."

Gea menahan napasnya. Ia kembali ke ponsel satunya. "1000 dollar?" 

"Benarkah? Wah, tidak menyangka bos semurah itu. Aku sudah menyampaikan informasi ini. Aku tutup ya. Aku tidak ingin mengganggu bulan madumu." Terdengar nada menggoda dari seberang sana.

"Charles!" berang Gea, tetapi Charles telah menutup panggilan. 

"Charles?" usik Ahsin dengan wajah tidak suka. "Kenapa ada ponsel lain?"

Gea memasukkan ponselnya terlebih dahulu. 

"Sebenarnya aku tidak ingin siapa pun tahu ini. Tapi karena kau curiga padaku, jadi aku harus cerita padamu." 

Ahsin masih belum mampu meredam amarahnya. Gea menarik tangan Ahsin, menyusuri lahan parkir dan ia menyerahkan kunci pada Ahsin. 

"Sebenarnya aku punya pekerjaan lain." Sesaat Ahsin menoleh, tetapi kembali ia fokus pada jalan area parkir.  

"Aku salah satu anggota di tim pertahanan di perusahaan teknologi More."

Mendadak mobil berhenti. Terdengar klakson dan umpatan dari pengemudi mobil belakang. 

"Ahsin, apa yang kau lakukan?" pekik Gea sambil merapatkan kedua tangannya pada seorang pengemudi yang melewati mereka. "Maafkan kami, Mas." 

Ia menepuk pundak Ahsin. "Kau mau mati?"

"Kau yang mengejutkanku," sahut Ahsin. 

"Aku?" tunjuk Gea pada dirinya. 

"Kau tadi menyebut perusahaan More?"

"Oh itu. Kenapa kau kaget begitu? Jalanlah, aku akan cerita sambil jalan." 

Ahsin menepikan mobilnya. 

"Ahsin?"

"Kita ngobrol di sini saja. Sore ini kau sudah mengejutkanku beberapa kali. Aku takut kau mengejutkanku lagi di jalan," elak Ahsin. 

Gea tertawa.

"Katakan, bagaimana kau bisa bekerja di perusahaan More?" tanya Ahsin.

"Kau tau More?"

"Siapa yang nggak tau perusahaan More?"

Gea menatap Ahsin dari atas sampai bawah. "Kau kuli, tapi wawasanmu luas juga. Kau tadi juga dengan santainya ngomong soal Buana, seakan kau sangat mengenalnya."

"Jangan meremehkanku. Cepat ceritakan bagaimana kau bisa bekerja dengan More? Kau juga tahu IT?"

Gea menghela napas, kemudian menyandarkan punggungnya. 

"Di luar negeri, ayah mengirimiku uang sangat minim. Aku harus berpikir mencari duit supaya dapat hidup layak, tapi aku tidak bisa bersosialisasi. Akhirnya aku bergabung di grup IT dan saat itu Charles sebagai ketua grup. Charles orangnya ramah dan aku belajar banyak darinya. Awalnya aku menawarkan diri membantunya. Perlahan dia memberiku pekerjaan ringan seperti jadi admin website, desain, SEO. Charles juga mengajariku dunia retas dan cara melindungi."

Ahsin meluruskan badannya menatap Gea tanpa berkedip. 

"Kadang aku juga menerima jasa kelola akun media sosial, jadi aku cukup mengerti dunia UI. Selama pekerjaan online, akan aku terima dan pelajari. Meski saat itu keuanganku sudah berkecukupan, aku sudah terlanjur mendalami dunia teknologi. Hingga akhirnya Charles memperlihatkanku pengumuman turnamen sesama hacker. Aku mencobanya. Siapa sangka aku tercepat saat itu mendapat peringkat satu. Dari situlah More akhirnya mengenal kami."

Ahsin masih menatapnya tanpa berkedip. 

"Lalu, aku dengar di antara tim pertahanan ada satu perempuan, tapi mengenakan topeng. Itu kamu?" tanya Ahsin. 

Gea mengangguk.

"Kenapa?"

"Sejujurnya itu perlindungan terakhirku," bisiknya dengan wajah sendu. 

Ahsin mengerutkan kening. 

"Mengerjakan proyek More, aku sudah balik ke sini. Ayah tidak memperlihatkan iktikad yang baik padaku, perusahaan ibu sudah dikuasai. Sinta dari dulu suka mengambil milikku. Teman-teman, mainan, pakaian." 

Gea tersenyum miring saat ingat Sinta yang mengambil gaun pertunangannya. "Lukisan, bahkan Bei terpengaruh dengan Sinta. Tidak ada lagi yang kumiliki selain habbagea. Karena itulah aku menutup wajahku di More. Aku tidak ingin ada yang tau siapa habbagea. Meski tim UX More masih menggunakan jaringan virtual, tetapi tidak menutup kemungkinan bosnya akan mempublikasikan. Habbagea pertahanan terakhirku."

Ahsin membuka mulut, tetapi tidak ada bunyi yang keluar. 

Gea tertawa kecil. "Kenapa kau syok begitu?"

"Mmm … tidak menyangka saja, peretas luar biasa dan salah satu pilar More itu sekarang jadi istriku."

"Memangnya kenapa? Kau juga mau bilang punya hubungan dengan More?"

"Bukan begitu. Syok saja."

"Sekarang kau sudah tahu, tidak perlu lagi ada yang dicurigai. Jadi percayalah, kau tidak akan melarat bersamaku. Meski sudah resign dari Prayoga, aku masih bekerja di More," seloroh Gea dengan bangga. 

"Iya, aku percaya," sahut Ashin sambil menghidupkan mesin mobil.

"Kau ada waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu ke mall. Mumpung aku dapat duit. Aku ingin membelikanmu pakaian."

"Sebentar," jawab Ahsin kemudian melihat memonya. "Sayang sekali, aku masih ada kerjaan."

Gea menatap. "Bahkan malam pun kau bekerja?"

"Maaf," ucap Ahsin dengan wajah bersalahnya. "Lain kali aku akan mengajakmu jalan-jalan."

"Tidak apa. Aku bisa mampir ke toko-toko di pinggir jalan sini. Oh iya, aku akan mengantarmu. Ke mana?"

"Tak perlu. Hari sudah gelap. Kau pulanglah. Nanti aku berhenti di persimpangan sini. Akan ada teman yang menjemput," sahut Ahsin.

"Begitu." 

***

Terdengar sebuah ketukan pintu, kemudian muncul seorang karyawan. Bei dan Sinta menoleh. 

"Ada kabar dari Buana?" tanya Bei. 

Karyawan mengangguk dengan wajah mendung. "Perusahaan Buana tetap menolak kerjasama."

Bei dan Sinta tersentak. 

"Kau keluarlah," titah Bei pada karyawan itu. 

"Kak Gea pasti menghasut Buana sehingga menolak lagi padahal kita memberitahu merekrut pemenang ketiga lomba desain bergengsi."

Bei memukul meja. "Gea! Dia memang handal dalam membuat masalah."

"Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Sinta sambil menggandeng lengan Bei.

"Karena Gea berulah, maka kita pun bisa melakukan cara yang sama. Mari kita datang ke perusahaan Buana. Kita langsung bertemu dengan Tuan Buana yang sekarang."

Sinta tersenyum semringah. Ia tak menyangka, tindakan Gea ternyata menjadi batu loncatan baginya bertemu dengan satu-satunya pewaris Group Buana. 

***

Di sebuah komplek elit, di ruang keluarga, Lyman dan Malika bersantai sambil menonton berita televisi. 

"Sampai sekarang pewaris tunggal Grup Buana belum memperlihatkan wajahnya," gumam Malika. 

"Iya. Tak apa. Kita sudah mengantongi undangan pesta tahunan mereka, jadi pasti bisa melihatnya." 

"Pa." Sinta muncul dan langsung duduk di samping ayahnya. "Tuan Buana telah membatalkan kontrak kerja sama dengan Prayoga."

"Kok bisa?"

"Kak Gea pernah sebagai wakil kontrak ke Buana, tapi rasanya dia juga tidak mungkin mempengaruhi Buana. Menurut Papa, apa mungkin suami Kak Gea bukan sembarang orang?" 

Malika tertawa. "Suami Gea kan kuli. Bagaimana bisa mempengaruhi Buana?"

"Kecuali dia gangster, mungkin saja," tebak Lyman seakan memikirkan sesuatu. 

"Gangster?" ulang Malika dan Sinta.

Lyman mengangguk. "Gangster mereka melakukan apa saja, termasuk mengancam."

"Mengancam? Apa yang diancam?" ulang Malika seakan semakin tidak mengerti. Sinta mengiyakan kebingungan ibunya. 

"Buana perusahaan terbesar di kota ini. Punya martabat yang tinggi. Seperti mereka kehormatan tentu saja sangat penting. Orang seperti mereka tentu menjadi lahan uang bagi para paparazzi juga gangster."

Malika mengangguk. Sinta sedikit mengerti, tetapi masih saja ada yang mengganjal. Ia hanya percaya, kakak iparnya tak bisa diremehkan.

"Gangster?" gumam Sinta. 

"Pa, besok aku dan Kek Bei akan menemui presider Buana. Kuharap suami Kakak tidak mengacaukannya."

"Kau mau menemui pewaris grup Buana?" tanya Malika semringah.

Sinta mengangguk yakin. 

Malika mendekati suaminya. "Papa harus bertindak. Papa dengar, Buana sudah memutuskan kerjasama dengan Prayoga, pasti ada yang bertindak di belakangnya. Jangan sampai dia mengacaukan untuk kedua kalinya."

"Papa ngerti. Papa akan selidiki dia dulu."

"Pa?" desak Sinta. 

"Papa ngerti. Tapi kita tidak bisa bertindak gegabah. Apalagi jika dia memang gangster, itu bisa mengancam keselamatan kita. Tapi jangan khawatir, Papa pastikan dia tidak akan mengacaukan rencana kalian besok."

***

"Gea, kenapa muncul?" pekik salah seorang berwajah khas Afrika dengan Inggris. 

Gea mengerutkan kening. "Kenapa? Kalian tak suka aku muncul?"

Charles tersenyum simpul.

"Bukankah seharusnya ini bulan madu kalian?" telak seorang berwajah oriental.

Gea berdecak. "Bukan berarti menghalangiku online. Dia juga tidak mungkin nempel 24 jam padaku," kilah Gea. Nyatanya Charles telah menangkap matanya yang tak bisa diam. 

"Lalu kenapa pagi tadi aku panggil tidak direspon?" goda Charles. 

"Aku …." Ia teringat pagi tadi bangun kesiangan. Lebih dari itu, ia tidur sangat nyenyak. 

"Sepertinya iparku telah menyembuhkan insomniamu."

Gea membuka mulutnya, tetapi yang keluar hanyalah gumaman tidak jelas. 

"Tidak apa. Cutimu masih panjang. Hanya saja, pagi tadi bos memperlihatkan wajahnya."

Mata Gea terbuka lebar. Semua wajah tersenyum puas melihat ekspresi kaget Gea yang terlalu jelas meski bertutup topeng.

"Dan kau tau siapa dia?" pancing berwajah oriental yang seakan tidak puas dengan kekagetan Gea. 

"Siapa … cepat katakan?" desak Gea. 

"Ternyata Charles benar," sela berwajah Afrika. "Selama ini kamu tidak peduli siapa bos kita."

Gea merengut. "Kalau dia menutup diri, kenapa aku mengorek?"

"Sekarang kau masih penasaran?" goda Charles. 

"Kalau dia membuka diri, tentu aku tak perlu menahan diri."

"Dia Ahsin putra Buana."

Gea tersentak. Seketika ia menyentuh dadanya yang berdebar kencang. 

"Gea, kau tidak apa-apa? Kenapa kau sekaget itu? Bukankah dari dulu kita tahu nama di sertifikat Ahsin Buana? Kita cuma meragukan apakah memang dia putra Buana," cecar Charles dengan khawatir. 

"Tidak apa. Aku tidak sekaget itu jika memang putra Buana. Perusahaan tempat aku bekerja sudah pernah menjalin kerjasama dengan Buana dan mereka memang memiliki etos kerja yang tinggi. Tak heran jika putra Buana memiliki kualifikasi lebih tinggi dari yang kita bayangkan," tutur Gea. 

"Lalu kenapa kau begitu kaget?"


***


 Selengkapnya bisa klik

Suamiku Kuli Terhormat


Bab Lengkap: Kbm AppKarya KarsaGood Novel





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.