Langsung ke konten utama

Plagiat Atau Pencuri?

  Plagiat Atau Pencuri?

 (Suamiku Kuli Terhormat Part 10)




"Ada teori seperti itu?" gerutu Gea sambil bergegas menyingkap selimut dan turun dari ranjang. 

Ahsin tertawa kecil melihatnya.

"Gea, ternyata kau mempunyai sisi imut," gumam Ahsin. 

***

Hari sedikit terang ketika mereka selesai menunaikan shalat Subuh berjamaah. Gea mendekati Ahsin yang sedang ngobrol dengan seorang laki-laki tua. 

"Kami duluan, Kek." Ahsin pamit kepada laki-laki tua. 

Kakek tua itu mengangguk. "Kakek harap besok dan seterusnya kalian ke sini lagi. Kakek sangat senang melihat ada orang muda ke rumah Allah. Apalagi kalau subuh-subuh begini." 

"In sya Allah, tiap subuh saya ke masjid, Kek. Hanya saja, hari ini saya ke sini karena mengajak dia. Jadi ambil masjid yang terdekat.”

"Begitu. Senang dengarnya. Semoga rumah tangga kalian sakinah mawadah warahmah."

"Aamiin," sahut Ahsin dan Gea barengan yang akhirnya mereka tersenyum sipu.

"Biasanya kau Subuh di mana?" tanya Gea saat mereka sudah di mobil. 

Terlebih dahulu Ahsin menghidupkan mesin mobil dan berjalan pelan. 

"Biasanya aku sekalian berangkat kerja. Jadi bisa berhenti di mana saja."

"Lalu sarapan?"

"Bisa sarapan di mana saja. Jika sempat sarapan dulu, baru ke masjid."

Gea menoleh. "Sudah berapa lama kamu seperti ini?"

Ahsin mengerutkan kening. "Entahlah. Aku sering dikejar pekerjaan. Jadi biar lebih efesien, aku membuat seperti itu."

"Di saat orang-orang terlelap, kau sudah standby bekerja," lirih Gea.

Ahsin tersenyum lebar. "Mungkin bagi orang terlihat buruk, tapi bagi aku itu pengaturan yang efektif."  Ia menoleh ke arah Gea. "Hanya saja, bagaimana dengan kecocokan waktu kita …."

"Kamu tidak ada niat mengubahnya?"

Ahsin mengerutkan keningnya.

"Misalnya mencari pekerjaan baru. Kamu bisa tidur lebih panjang sedikit."

Setelah terparkir sempurna, Ahsin mematikan mesin mobil. Ia menghadap lurus dan meraih sebelah tangan Gea 

 "Kurasa tidak. Karena itu ada waktu salat Subuh. Jadi tidak bisa diganggu gugat. Ke depannya, kuharap kau juga bersedia bangun Subuh. Ada aku atau tidak. Karena Subuh, salah satu perintah Tuhan, bukan aku. Aku … hanya membantumu menunaikan kewajiban yang diperintahkan pada kita sebagai seorang hamba," ucap Ahsin hati-hati.

Sesaat hening. Ahsin mencermati dua manik hitam di depannya. Ia tidak tahu lagi bagaimana ke depannya jika Gea menolak. Ia sudah terlanjur mencintai, tetapi tidak mungkin mampu menutup mata dari aturan krusial ini. 

"Kau keberatan?" tanyanya pelan.

Tiba-tiba Gea melabrakkan tubuhnya ke Ahsin. "Kebaikan apa yang kulakukan di masa lalu, sehingga Tuhan memberiku pria sebaik kamu. Ahsin, aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu."

Gea menjauhkan badannya. "Ahsin, aku sering dengar istilah imam makmum dalam rumah tangga. Aku tak berani membayangkan itu. Bagiku suami istri itu partner dalam rumah tangga."

Kali ini Ahsin yang memeluknya. "Selama kau bersedia, aku akan menjadi imam bagimu. Tak masalah kau menganggapku sebagai partner. Selama kau bersedia aku akan membawamu tidak hanya sebagai manusia yang baik, tapi juga sebagai seorang hamba. Kau bersedia kan?"

"Aku bersedia. Hanya saja, kau harus menyediakan banyak kesabaran," sahut Gea sambil memejamkan mata. Sensasi syahdu membuatnya berharap andai ada mesin membuat waktu berhenti. 

"Jangan khawatir. Aku mempunyai banyak stok kesabaran."

***

[Sarapan pertama bersama suamiku] 

Tulis Gea di bagian caption gambar kemudian memposting di akun instagramnya. Ia tersenyum geli dengan tindakannya. Ia memang sangat jarang memposting sesuatu di akun medsos, bahkan terpikirkan pun tidak.

Seketika notif di ponsel terus berbunyi. Gea hanya melihat sekilas dan meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia tidak ingin momen sarapan pertama habis membalas komentar. 

"Kenapa diabaikan?" tanya Ahsin yang sibuk memotong sandwich kemudian menukarkan dengan milik Gea.

"Cuma keusilan tim," sahut Gea kemudian minum susu hangat. Sesaat ia menatap gelas susu itu. 

"Kenapa tersenyum begitu?" tanya Ahsin. 

Gea tersenyum geli. "Cuma tidak menyangka akhirnya aku minum susu hangat buatanmu."

Ahsin berpindah ke sisi Gea dengan membawa piringnya. "Kalau begitu, kau harus terus bagun sebelum subuh."

"Aku janji," sahut Gea. 

"Ucapkan in sya Allah. Karena kita tidak tahu apa yang terjadi besok."

"Iya. In sya Allah," sahutnya kemudian memberi kecupan di pipi Ahsin yang membuat pria itu kaget. 

Gea sendiri ikut tersentak. Ia telah berjanji pada dirinya untuk tidak memulai. Ia tidak ingin apa yang terjadi pada Bei juga terjadi pada Ahsin. Ia ingin mempunyai harga diri di mata Ahsin. 

"Maaf," ucapnya kemudian menggigit sandwichnya tanpa berani lagi menoleh. 

Tanpa menoleh ia merasakan Ahsin yang mendekatkan wajahnya. Spontan ia berdiri. 

"Aku sudah selesai. Hari ini aku mau menemani Kakek," ucapnya gugup, kemudian berlari. 

Ahsin ditinggal sendirian menggigit sandwichnya dengan senyuman yang sulit dihentikan. Mendadak sandwichnya pagi ini lebih enak dari biasanya.

***

Ferry bergegas masuk ke ruang kerja Ahsin sambil dan memperlihatkan ponselnya yang telah menyala. 

"Bos, berita trending pertama mengatakan Buana telah membatalkan kontrak kerjasama dengan hanya sepihak. Yang kedua mengatakan Buana tidak menghargai waktu rekan kerja. Apa yang akan kita lakukan?"

"Bikin saja trending baru," jawab Ahsin sambil menyerahkan ponsel Ferry dan kembali pada pekerjaannya.

"Apa perlu kita menggunakan lembaga hukum?"

"Untuk sementara tidak diperlukan," sambil mengambil ponselnya yang berdering. 

"Ahsin, kau baca trending hari ini?" cecar istrinya di seberang sana. 

"Iya. Tidak akan mempengaruhi Buana," sahut Ahsin. Ferry yang mau berbalik menjadi terhenti.

"Mereka keterlaluan. Kau punya kenalan kerja di manajemen Buana? Atau penulis berita? Aku akan kirim beberapa foto mentahan asli punyaku. Tulis saja, Buana membatalkan kontrak kerjasama karena Prayoga merekrut desainer plagiat."

"Baiklah."

Tak lama masuk tiga foto dari  permulaan, sebelum finishing yang ketiga desain sempurna bahkan sampai warna.

Ahsin menyerahkan ponselnya pada Ferry. 

"Ferry, posting ini. Katakan Buana membatalkan kontrak kerjasama karena Prayoga merekrut desainer plagiat."

"Baik, Bos."

*** 

Di perusahaan Prayoga, Sinta mundar mandir tidak tenang, sedang Bei menuang segelas teh dengan santai.

"Berita sudah dirilis, tapi mengapa belum ada kabar dari Buana?" tanya Sinta gusar.

Bei meneguk tehnya. "Tenang saja. Buana sedang dikuliti."

Berbunyi ketukan, kemudian pintu terbuka dan muncul seorang karyawan. 

"Buana sudah menghubungi?" cecar Bei.

"Sudah," sahut karyawan.

"Lalu kenapa mukamu seperti mau menangis?"

"Buana menelpon, tapi tim hukum."

Bei dan Sinta tersentak. "Mereka mau apa?"

"Mereka cuma mengingatkan agar tidak terulang lagi."

"Cuma segitu?" tanya Bei dengan kerutan kening. 

Karyawan mengangguk. "Tapi trending topik telah berganti. Mereka mengatakan, Buana menghentikan kontrak kerjasama karena Prayoga merekrut desainer plagiat."

“Apa?" seru Bei dan Sinta serentak.

"Tidak mungkin?" seru Sinta. 

"Sinta, desainmu plagiat?" cecar Bei.

"Tidak. Ini pasti ulah Kak Gea. Lukisan aslinya ada di studio, dia pasti mencurinya dan memberikan pada penulis berita."

"Kuharap kau benar. Kau tau betapa tercelanya plagiarisme, Buana sangat membenci ini."

"Sepertinya harus Papa yang menyelesaikan ini," batin Sinta.

"Kak Bei, aku pulang dulu. Aku ingin memperlihatkan foto aslinya yang tersimpan di studio," seru Sinta sambil bergegas mengambil tas kecilnya. 

"Sinta." Bei meraih tangan Sinta. "Maafkan aku. Aku tadi panik."

"Aku ngerti, Kak. Aku akan membuktikan kebenarannya."

Bei Ting menepuk bahu Sinta. "Percayalah, kemenangan selalu berpihak pada yang benar." 

*** 

"Pa, Aku dibuli di internet," lapor Sinta pada ayahnya duduk di ruang keluarga dengan wajahnya sembab. 

Ibunya bergegas menyambut. "Katakan apa yang terjadi?"

"Kak Gea menulis berita di internet, mengatakan desainku plagiat," sahut Sinta di sela tangisnya.

Lyman memukul meja. "Lama kelamaan makin lancang itu anak."

"Apa salahnya adiknya memakai satu lukisan, padahal dia masih banyak memiliki lukisan lain?" bela Malika sambil mengusap wajah Sinta yang basah. 

Lyman mengambil ponselnya. "Gea, hapus berita tentang adikmu."

"Mana mungkin."

"Kalau tidak aku bakar semua pusaka ibumu," ancam Lyman.

"Tunggu aku 30 menit."

Gea berpaling pada Kakek yang duduk di kursi taman.  "Kek, aku ada urusan penting dadakan. Maaf, ya Kek. Terpaksa meninggalkanmu sendirian di sini. Aku akan chat Ahsin supaya dia menemaninu."

"Tak apa. Kakek sudah terbiasa sendiri di sini. Jadi jangan khawatir. Pergilah."

"Kalau begitu, aku pergi, Kek. Aku akan ke sini jika sudah selesai dan Kakek masih di sini." 

Kakek mengangguk. "Hati-hati di jalan."

Gea bergegas berlari, tetapi sebelumnya ia mengirim pesan suara pada Ahsin.

[Aku meninggalkan Kakek sendirian di taman. Papa memanggilku. Aku tau pekerjaanmu penting. Tapi menemani Kakek, tak kalah penting, dan belum tentu bisa kau dapatkan di lain waktu]

*** 

Ahsin menolah pada ponselnya yang menyala. Ia bergegas mengambil jasnya begitu melihat isi pesan. 

"Sebentar lagi kita rapat," beritahu Ferry yang dari tadi menemaninya bekerja.

"Batalkan. Aku harus pergi."

***

"Pa," sapa Gea begitu ia sampai dengan napas ngos-ngosan.

"Hapus berita tentang adikmu," titah Lyman dengan telunjuknya.

"Kalau Papa menyuruhku ke sini untuk itu, maka itu tidak mungkin," sahut Gea. Ia berjanji pada dirinya tidak akan tunduk lagi. Sekarang ia punya Ahsin yang harus  dilindungi. 

"Kau tega berbuat pada adikmu?" tuding Malika. 

"Artikel itu bukan aku yang buat," sahut Gea dengan posisinya masih berdiri. 

"Tidak mungkin. Bukankah Kakak yang punya aslinya?" sela Sinta. 

"Sekarang kau ngaku kalau desain itu bukan punyamu. Berarti bukan plagiat, tapi pencuri."

"Jahat sekali mulutmu. Adikmu kau bilang pencuri," seru Malika dengan amarah tertahan. 

"Gea, Sinta masih punya masa depan cerah. Kau tak boleh mencoreng mukanya. Terlebih lagi ia punya misi mengambil hati putra Buana," tukas Lyman.

"Lalu aku harus apa? Hapus? Berita itu bukan aku yang posting."

"Bilang saja, kau cuma membuat berita palsu karena iri padanya."

"PA!" teriak Gea. 

"Kau berani berteriak di depan Papa?" sahut Lyman dengan nada tak kalah kerasnya. 

"Itu karena Papa yang membuatku begini. Selama ini aku mampu berteriak, tapi aku tahan. Dan sekarang Papa tega menuang air kotor padaku, demi membersihkan putri satunya? Apa itu pantas dilakukan seorang ayah? Terlebih lagi dia memang pencuri?" Teriakan Gea menggelegar di ruang itu. Ia tak kuasa lagi menahan dirinya. Badannya berguncang hebat.

"Ini demi kebaikan kita bersama. Kalau kau masih membantah aku tidak akan mendapatkan pusaka ibumu," ancaman Lyman sambil memegang dadanya yang mulai sesak. 

"Pusaka ibu aku akan cari sendiri," sahut sambil berbalik. 

"Kalau kau keras kepala, aku akan menahanmu. Sebelum kau patuhi perintah Papa, jangan harap kau akan bebas. PELAYAN, tahan dia!"

Datang dua orang pembantu rumah tangga menahan tangan kiri dan kanan Gea. 

"Kak Gea, patuhi saja permintaan Papa," ucap Sinta dengan wajah piciknya. 

"Jangan mimpi!" sahut Gea sambil berusaha berontak. Sesaat ia bisa terlepas, tetapi akhirnya kedua tangannya kembali berhasil ditarik kedua pembantu itu. Kali ini kedua pembantu itu juga mengerahkan segenap tenaga buat menyeret Gea. 

"Lepaskan! Lepaskan!" teriak Gea. 

Nyatanya teriakannya hanyalah menambah obsesi kedua pembantu itu. Malika dan Sinta tersenyum puas.


Part Selengkapnya Silkan klik Link di bawah Ini.

Bab Lengkap: Kbm AppKarya KarsaGood Novel




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong

Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Drama Zhang Shan &Zhao Zhendong

 Link Drama Zhang Shan & Zhao Zhendong  Mohon perhatikan. Baca dengan seksama.  Ini hanya alternatif. Sedikit merepotkan, tapi dari pada tidak nonton sama sekali. hihi. Jika repot, bayangkan saja mimin yang kasih translet. Pedas mata. eh curhat. hihi.  Ini hanya alternatif. Jika mempunyai kemampuan, dukung karya mereka dengan nonton ke aplikasi resmi di Hunggo.  Nonton di google Drive langsung. Jangan lupa klik cc untuk translet. 

Ulasan Drama Desire to grow wild

   Desire to grow wild, sesuai judulnya cerita mengisahkan pengejaran terhadap seseorang yang ingin mandiri. Sekilas terlihat hanya sebuah obsesi ingin memiliki dan dendam. Namun, flashback kelamnya masa lalu membuat kita dapat memahami mengapa sang pria tak bisa berpisah dari perempuannya.  Tekanan di masa lalu membentuk karakter dominan  keduanya hingga plot semakin liar.  Cerita bermula dari asmara dalam kamar yang ternyata itu hanya jebakan. Anggur yang diminum Lin Shi Jie berisi racun yang membuatnya tak mampu bergerak. Di sana Jian Cheng mengatakan akan pergi dan menggugurkan kandungannya dengan menelan beberapa pil. Sad feel saat melihat Lin Shi Jie yang ingin mencegah tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi Zhendong benar-benar membuat kita sedih. Lima tahun berlalu dan Lin Shi Jie mulai menemukan jejak keberadaan Jian Cheng, namun masih belum bertemu muka karena yang dicari mengenakan toping.