[Ulasan Kedua 😁]
Setelah menonton untuk kedua kalinya, barulah aku mengerti alasan di balik pemilihan Liu Xuan Cheng sebagai pemeran utama. Awalnya kupikir ekspresinya terlalu kaku, tapi ternyata... memang itu yang dibutuhkan!
Sebelum bahas akting dan chemistry, mari kita uraikan isi cerita terlebih dahulu.
---
Alur Cerita dan Konflik
Drama ini berkisah tentang konflik dua negara: Korea Utara dan negara Xuan, tempat asal Pangeran Murong Jin (Liu Xuan Cheng) dan Qing Cheng (Zhang Shan). Sementara tokoh antagonisnya adalah Xie Huai Yu, perwakilan dari Korea Utara yang membawa banyak masalah.
Murong Jin adalah pangeran termuda kerajaan Xuan, sementara Qing Cheng adalah putri bungsu dari seorang jenderal ternama. Kisah dibuka dengan tragedi—Qing Cheng menikah dengan Xie Huai Yu, pria yang dikiranya cinta sejatinya. Namun di malam pengantin, ia malah dibunuh oleh suaminya sendiri. Cinta buta membuatnya salah memilih, dan akibatnya keluarga serta Murong Jin yang mencintainya ikut menjadi korban.
Di ambang kematian, Qing Cheng berharap mendapat kesempatan kedua untuk menebus semua kesalahan. Doanya terkabul. Ia terlahir kembali—kali ini tepat di masa setelah ia menikah dengan Murong Jin, saat hubungan mereka rusak, tetapi masih ada harapan diperbaiki.
Tentu saja memperbaiki semuanya tidak semudah membalik telapak tangan. Murong Jin sudah kehilangan kepercayaan dan dikenal dingin bak manusia kayu. Di sinilah perjalanan Qing Cheng dimulai—untuk menebus cinta dan kepercayaan yang dulu ia abaikan.
---
Kenapa Liu Xuan Cheng?
Nah, di sinilah aku mulai paham kenapa Liu Xuan Cheng dipilih. Wajah datarnya, ekspresi minim, tatapan lurus seperti tak berkedip—semua itu ternyata pas banget untuk menggambarkan "manusia kayu" bernama Murong Jin.
Ia adalah pangeran termuda, tapi juga paling berbakat. Bahkan saking mudanya, ia dekat dengan putri ke-11, kakaknya. Bayangkan saja, usianya bisa seumur dengan keponakannya sendiri! Cocoklah wajah Liu Xuan Cheng yang imut tapi serius itu dipakai buat peran pangeran muda penuh tanggung jawab.
Dan beda dengan karakter "bad guy" sendu seperti Tuan Pei (diperankan Wang Kang) yang memang cocok dengan mata menyedihkannya, Murong Jin bukan pria muram karena masa lalu kelam. Dia hanya dingin karena disiplin dan tanggung jawab sebagai orang kerajaan.
---
Qing Cheng dan Keseimbangan Karakter
Qing Cheng adalah gadis manja, cerdas, dan... cukup genit. 🤭 Bayangkan dia berpasangan dengan pangeran yang ekspresinya seperti batu. Tapi justru di situlah menariknya. Dua karakter kontras yang saling melengkapi.
Yang satu kaku, serius, dan tegas. Yang satu lagi lincah, ceria, dan ekspresif. Bahkan Qing Cheng juga berperan sebagai penulis yang... sedikit vulgar. 🤣
---
Tentang Adegan Kissing 😅
Kalau soal adegan ciuman... jujur saja, kissing-nya pangeran jelek banget. Tapi mungkin memang disengaja. Karakter Murong Jin kan "kayu", jadi tidak heran kalau kissing-nya pun kaku.
Tapi Zhang Shan biasanya mampu mengimbangi atau membantu lawan aktingnya supaya adegan itu punya rasa.
Jadi, jeleknya kissing pangeran memang ada dalam naskah yang menggambarkan manusia kayu juga di zama dulu mungkin menganggap hal itu tabu.
Atau… Liu Xuan Cheng memang menolak hot kisseu? Siapa tahu! 😁
---
Konflik yang Kompleks (Banget)
Untuk ukuran drama pendek, konfliknya terlalu padat dan kompleks. Mari kujelaskan pelan-pelan:
1. Di negara Xuan, ada duri dalam selimut—keluarga Pangeran Yao yang ambisius dan ingin merebut tahta. Tapi Murong Jin yang masih muda justru jadi ancaman karena kepintarannya.
2. Di Korea Utara, si Xie Huai Yu juga jadi duri. Awalnya ia ingin memanfaatkan Qing Cheng sebagai pion, gagal lalu beralih ke keluarga Pangeran Yao. Tujuannya? Menguasai dua negara sekaligus demi membalas dendam pada Murong Jin yang dianggap membunuh keluarganya.
3. Demi ambisinya Xie Huai Yu membunuh Pangeran Bei Hang, pewaris tahta di Korea Utara. Hal ini memicu perang karena negara itu menuduh negara Xuan sebagai penyebab.
4. Dia juga memperalat putri kerajaan Korea Utara atas nama cinta, tapi kemudian membunuhnya juga setelah sang putri mengetahui niat aslinya. Gila sih ini tokoh...
Jadi, selain konflik dua negara, masing-masing negara juga punya konflik internal. Untungnya, semua masalah ini justru membuat hubungan Qing Cheng dan Murong Jin semakin kuat. Qing Cheng membantu menyelesaikan banyak masalah dan perlahan mendapatkan kembali kepercayaan suaminya.
---
Chemistry & Visual
Meski akting Liu Xuan Cheng cenderung kaku, ia mampu menyampaikan sosok pangeran muda yang cerdas dan tegas. Visual mereka sangat serasi—dua pemeran dengan wajah elegan, terlihat cocok jadi pasangan bangsawan.
Yang menarik, pengambilan angle wajah mereka variatif banget. Sisi kiri, kanan, miring… semua oke! Ini langka, karena tak semua aktor cocok di banyak angle.
Zhang Shan punya wajah yang seimbang. Meski satu sisi tidak terlalu bagus, tetap menjadi penyelamat untuk lawan aktingnya yang hanya bagus satu sisi.
Sedang Liu Xuan Cheng sepertinya wajahnya serba-oke dari berbagai sisi kamera. 😆
---
Ending? Lihat Sendiri Lah! 😅
Ending-nya tidak akan ku-spoiler. Tapi satu harapan besarku:
Semoga mereka bisa kerja bareng lagi, dalam peran yang lebih cocok dan menantang, tapi tanpa cerita tragis. Karena Zhang Shan itu… high face! Wajahnya terlalu “mahal” untuk menangis. Sekeras apa pun dia akting sedih, tetap saja tidak terlihat menyedihkan 🤣.
---
Kamu akan suka drama ini kalau kamu suka:
✔️ Pasangan kerajaan muda
✔️ Konflik politik, meski tidak terlalu menegangkan karena hanya divisualkan lewat dialog bukan aksi.
✔️ Kisah cinta second chance
✔️ Visual memanjakan mata
✔️ Pemeran utama pria... yang super kaku tapi ganteng 😁

Komentar
Posting Komentar